Kamis, 22 September 2016

Balotelli Kembali Menjadi "nice" di Nice

“Hanya Messi yang bisa lebih baik dari aku”
Percaya tidak percaya, ini bukanlah komentar yang diucapkan seorang Cristiano Ronaldo (CR7)
Komentar tersebut diutarakan Mario Balotelli ketika ditanyakan pendapatnya mengenai Lionel Messi.
Beberapa tahun kemudian, nyaris tidak ada klub yang menginginkan Super Mario.
Sangat kontradiktif dengan sesumbarnya diatas.
Kisah Mario Balotelli di bursa transfer kemarin sungguh menyedihkan.
Semua perbincangan mengenai bakat hebat Balotelli yang disebut-sebut akan membawanya pada jajaran calon pemain terbaik dunia menggantikan dominasi CR7 dan Messi sirna.
Kisah lama kehebatan anak muda ini tertutup oleh cerita negatif soal perangai buruknya di luar lapangan hijau.
Orang lebih sering ingat kejadian Balotelli saat membela Man City yang nyaris membakar tempat tinggal sendiri ketimbang mengenang umpan kuncinya kepada Sergio Aguero di menit-menit akhir laga yang berujung pada gelar juara Liga Inggris nan dramatis bagi Man City pada tahun 2012.
Kisah heroiknya dalam balutan seragam timnas Italia dengan memborong dua gol kemenangan Gli Azzuri atas Jerman di fase semifinal Piala Eropa 2012 meredup jika disandingkan dengan cerita dirinya kena tilang karena aksi kebut-kebutan di jalan.

Penampilan Balotelli di setengah musim 2012/2013 bersama AC Milan dengan catatan 12 gol dalam 13 laga terlupakan begitu saja saat Super Mario hanya mencetak 14 gol dari 30 laga di Liga Italia berikutnya.
Penurunan kinerja itu untungnya tidak mengurangi minat Liverpool memboyongnya demi menggantikan posisi Luis Suarez.
Hasilnya?
Performa Balotelli memang sedang mentok.
Total dalam 28 laga berseragam The Reds, Super Mario hanya bisa bikin 4 gol.
Wajar jika kemudian dirinya dipinjamkan kembali ke AC Milan.
Parahnya, performa anak muda ini makin terjun bebas dengan hanya mencetak satu gol saja selama 20 kali turun bertanding, bayangkan, satu gol saja!?
Deretan perfoma buruk tersebut ditambah kisah-kisah negatifnya di luar lapangan hijau jadi paket lengkap untuk menjustifikasi bahwa pemuda yang memproklamirkan diri hanya kalah dari Messi ini diambang kejatuhan karir secara dini.
Tidak ada klub yang menginginkan dirinya.
Juergen Klopp tidak memasukkannya ke dalam rencana masa depan klub, walhasil alih-alih ikut pra musim, Super Mario bahkan harus berlatih bersama tim junior.
Kisah keterpurukan Balotelli makin diperparah dengan penolakan dari sejumlah klub pada dirinya.
Detail ceritanya makin mengenaskan karena penolakan klub-klub seperti Sampdoria dan Chievo pada Balotelli bukan semata gajinya yang ketinggian tetapi karena kekuatiran bahwa Balotelli tidak bisa menjaga sikap di luar lapangan dan akan mempengaruhi kinerjanya diatas lapangan hijau.
Sampai kemudian Nice, klub papan tengah di Ligue 1 Prancis meminangnya.

Ada kisah dibalik pemilihan Nice sebagai klub pilihan Balotelli.
Super Mario menolak tawaran Lyon, klub Ligue 1 Prancis yang notabene lebih bergengsi dan berprestasi daripada Nice.
“Ini adalah keputusan murni sepakbola untuk datang ke Nice. Saya harus bermain, terutama di tahun ini” ungkap Balotelli terkait alasannya memilih Nice.
Ya, Lyon sesungguhnya lebih menjanjikan pentas kompetisi Eropa bagi Balotelli seturut level mereka yang bisa dikatakan hampir setara dengan PSG.
Namun Balotelli menyadari bahwa dirinya perlu bermain rutin untuk mengembalikan kinerjanya yang dulu memukau banyak orang.
Lyon sudah memiliki Alexandre Lacazette di lini depan sehingga ada kemungkinan Balotelli harus berbagi tempat bahkan jadi pilihan kedua.
Balotelli butuh kepercayaan untuk terus dimainkan.
“Saya bicara kepada pelatih Nice dan ia yakin pada saya begitu juga sebaliknya” tambah Balotelli.
Nice memang berniat menjadikan Balotelli sebagai striker utama mereka.
Hasilnya?
Pilihan Balotelli untuk mempercayai Nice sebagai klub barunya dan keberanian Nice untuk mendatangkan Balotelli berbuah positif.
Dalam dua laga awal Balotelli bersama Nice, Super Mario sudah mencetak 4 gol dimana pada setiap laga dirinya mencetak 2 gol.
Alhasil Nice kini memuncaki klasemen sementara Ligue 1 Prancis.
Sungguh kinerja mengagumkan di awal musim bagi seorang pemain yang datang ke sebuah klub dan kompetisi baru untuk menjalankan misi pembuktian.
Balotelli dalam misi untuk membuktikan bahwa dirinya belum habis.
Dengan umurnya yang baru menginjak usia 26 tahun, masih banyak waktu baginya untuk merintis jalan kebangkitan.
Anggap saja jika Balotelli konsisten menampilkan performa bagus di Nice musim ini, maka pada usia 27 tahun yang dianggap sebagai umur emas pesepakbola, Balotelli bisa menunjukkan pada dunia bahwa dirinya sudah kembali.

Balotelli menjadi “nice” kembali di sebuah klub bernama Nice.

Senin, 19 September 2016

Ulas Taktik - Skema 4-2-3-1 MU Tidak Berjalan Sesuai Rencana

Hasil gambar untuk 4-2-3-1 soccer formation
Tidak ada yang membayangkan Manchester United (MU) dibawah asuhan Jose Mourinho akan mengalami tiga kekalahan beruntun dalam kurun waktu satu minggu.
Apalagi jika melihat skuad MU di setiap lini belakang, tengah dan depan berisikan pemain-pemain baru pilihan Mourinho yang langsung jadi starter.
Eric Bailly langsung jadi penghuni tetap barisan belakang dan memaksa Daley Blind dan Chris Smailing bergantian mendampingi mantan pemain Villareal itu.
Adapun Paul Pogba langsung menyegel posisi di lini tengah meski Anders Herrera bermain cukup baik di lini tengah bersama Fellaini.
Kemudian di lini depan MU tidak ada yang bisa mencegah Zlatan Ibrahimovic mematenkan statusnya sebagai penyerang utama pilihan Mourinho musim ini.
Ketiga pemain baru tersebut (empat dengan Henrikh Mkhitaryan) adalah pemain-pemain pilihan Mourinho, bukan pemain yang terpaksa diterima The Special One.
Artinya kehadiran mereka di Old Trafford memang merupakan bagian dari strategi permainan yang akan diusung Jose Mourinho bersama MU.
Pertanyaannya, mengapa kemudian MU sampai kalah 3 kali beruntun dalam kurun waktu seminggu?

Kekalahan dari Man City bisa dianggap sebagai buah rotasi pemain yang gagal dari Mourinho.
Keputusannya memainkan Jesse Lingard dan Henrikh Mkhitaryan untuk mengisi posisi Martial dan Juan Mata diakuinya tidak berjalan dengan baik.
Kedua pemain ini langsung digantikan setelah turun minum dan permainan MU pun membaik meski sudah terlambat.
Perubahan komposisi pemain kembali diperlihatkan Mourinho kala bertandang ke Rotterdam menghadapi Feyenoord di laga perdana Europa League.
Matteo Darmian mengisi posisi Valencia, Rojo mengisi posisi Shaw dan Smailing menggantikan Blind untuk berduet dengan Bailly.
Di lini tengah, Herrera dan Schneiderlin menggantikan duet Pogba Fellaini sebagai double pivot.
Pogba sendiri didorong kedepan menjadi salahsatu dari trio gelandang serang bersama Martial dan Juan Mata di belakang Rashford yang mengisi posisi Ibra sebagai penyerang tunggal.
Hasilnya? MU tetap kalah 0-1
Usai kekalahan tersebut, Mourinho menilai perubahan komposisi pemain jadi kunci dua kekalahan beruntun saat itu.
“kami akan kembali ke tim biasanya tanpa banyak perubahan” ujar The Special One merujuk pada laga selanjutnya melawan Watford.
Benar saja, MU menurunkan komposisi yang tidak banyak berubah dari komposisi yang memenangkan 3 laga awal.
Di lini belakang hanya menegaskan posisi Smailing sebagai duet baru untuk Bailly.
Lini tengah kembali dihuni duet Fellaini dan Pogba di belakang trio gelandang serang Rooney, Rashford, Martial mensupport Ibra sebagai penyerang tunggal (perubahan hanya terjadi pada posisi Rashford yang menggantikan Juan Mata).
Hasilnya? Meski sudah kembali pada komposisi awal, MU kalah lagi bahkan dengan skor telak 1-3.
Apa yang salah dengan strategi Mourinho?

Dengan formasi 4-2-3-1, konsep permainan yang diusung Mourinho bersama MU sebenarnya menjanjikan performa gemilang.
Masih berdirinya David De Gea di bawah mistar gawang sudah jadi satu poin plus skema ini.
Kiper ini adalah alasan mengapa kinerja Moyes dan Louis Van Gaal tidak sampai buruk-buruk amat.
Kinerjanya tetap cemerlang meski performa MU tidak begitu bagus beberapa musim terakhir.
Di depan David De Gea, komposisi Valencia, Bailly, Smailing/Blind dan Shaw sesuai konsep yang diinginkan The Special One.
Bailly adalan tipikal bek “beringas” yang siap adu fisik untuk mengamankan pertahanan dipadu dengan Smailing/ Blind yang lebih taktikal di lini pertahanan.
Hasil gambar untuk eric bailly manchester united
Keduanya diapit Valencia dan Shaw yang dipandang punya kemampuan untuk maju membantu penyerangan.
Di lini tengah, duet Fellaini dan Pogba adalah duet yang diinginkan Mourinho karena Pria Portugal itu mengkombinasikan kemampuan bertahan Fellaini dan kemampuan Pogba membangun serangan.
Dengan keduanya punya kekuatan fisik, Mou mengharapkan lini tengah yang kuat namun mumpuni untuk menginisiasi serangan dari tengah.
Apalagi Fellaini dan Pogba juga bisa sesekali maju sampai ke dalam kotak penalty untuk menuntaskan serangan dari lini kedua.
Duet gelandang yang komplit ini seharusnya bisa membuat trio gelandang serang di depannya bekerja dengan tenang.
Kecepatan Martial/Rashford atau eksplositas Juan Mata adalah senjata Mourinho disisi sayap.
Tepat di belakang Ibra, sang Kapten Wayne Rooney disiapkan menjadi second striker sesuai janji Mou bahwa Rooney tidak akan bermain terlalu jauh lagi dari kotak penalty.
Kombinasi tembok sekokoh Ibra untuk memantulkan bola kepada bomber sekelas Rooney di belakangnya yang diapit sayap-sayap tajam adalah gambaran ideal untuk komposisi penyerangan MU.

Begitulah, pola 4-2-3-1 Mourinho sejatinya mengusung konsep pertahanan yang baik sekaligus ketajaman dalam penyerangan.
Formasi 4-2-3-1 Mourinho adalah formasi yang dipersiapkan agar MU kuat dalam bertahan dengan keberadaan duet Bailly Smailing/Blind serta Fellaini di lini tengah namun tetap kreatif dan tajam dalam situasi menyerang dengan keberadaan Valencia dan Shaw di sayap melapis Martial dan Juan Mata/Rashford serta tajam di lini tengah dengan keberadaan Pogba dan Rooney di lini kedua mensupport striker sekelas Ibrahimovic.
Namun rencana tinggal rencana.
Konsep permainan MU tidak berjalan dengan lancar karena kesalahan-kesalahan individu.
Blind, Lingard dan Mkhitaryan jadi tersangka pada kekalahan perdana dari City.
Lini tengah MU yang dihuni Herrera dan Schneiderlin jadi tersangka berikutnya usai “mengawali” gol kemenangan Feyenoord.
Pada kekalahan ketiga dari Watford, Luke Shaw jadi tersangka di mata Mourinho.
"Pemain Watford menerima bola dan Luke Shaw seharusnya melakukan pressing bukan menunggu” kata Mourinho menyoroti gol kedua Watford.
The Special One sendiri menganggap skema 4-2-3-1 yang diusung beserta konsep yang dinginkannya masih layak untuk terus dimainkan.
Toh, skema itu pula yang membuat MU mengawali 3 pekan awal Liga Inggris dengan sapu bersih kemenangan plus catatan dua kali clean sheet.
"Itu bukanlah berhubungan dengan taktik melainkan sebuah sikap mental. Sebuah kesalahan individu di luar rencana kami dan latihan kami” tegas Mourinho merujuk pada kesalahan individu Shaw.
Pernyataan diatas bisa dianggap sebagai bentuk kepercayaan diri Mourinho bahwa selama tidak ada kesalahan individu dalam skema permainan yang diusungnya maka taktik pilihannya sudah tepat.
Menarik ditunggu apakah skema yang sama masih akan digunakan Mourinho pada laga-laga berikutnya, dengan harapan tidak ada lagi kesalahan-kesalahan individu dari pemain MU seperti halnya keluhan Mourinho pada kinerja wasit.


Sabtu, 10 September 2016

Ulas Taktik - Mourinho Salah Strategi, MU Kalah

Hasil gambar untuk jose mourinho
Manchester United (MU) harus merasakan kekalahan 1-2 dari Man City dalam derby Manchester.
Kekalahan yang sebenarnya bisa dicegah jika Mourinho tidak “bereksperimen” dengan taktik yang diterapkannya.
Meski punya rekor pertemuan yang tidak begitu baik kala beradu taktik dengan Pep Guardiola, Jose Mourinho bersama MU sesungguhnya memasuki laga derby dengan kondisi yang sedikit lebih diunggulkan.
Ketiadaan Sergio Aguero dan belum tercapainya clean sheet selama 3 laga awal Man City di Liga Inggris berbanding terbalik dengan kondisi MU.
Anak asuh Mourinho menatap derby dengan modal ketajaman Zlatan Ibrahimovic yang sudah mencetak 3 gol dalam 3 laga awal MU.
Rooney dkk juga sudah menjalani dua laga beruntun tanpa kebobolan.
Singkat kata MU unggul secara psikologis dari sisi penyerangan dan pertahanan.
Maka ketika MU merasakan kekalahan 1-2 dalam derby perdana yang melibatkan Mourinho dan Guardiola, kekeliruan The Special One dalam menyusun strategi sulit disangkal sebagai penyebab utama kekalahan Rooney dkk.

Blunder Mourinho terlihat dalam penyusunan starter awal dalam laga ketat nan prestisius sekelas derby Manchester.
Alih-alih mempertahankan the winning team yang sudah terbukti memberikan hasil positif, Mou justru mengubah susunan sebelas pemain awal.
Meski masih memainkan pola 4-2-3-1, trio gelandang serang pendukung Ibra yang biasanya ditempati Juan Mata, Martial dan Rooney berganti dua personil dimana posisi Juan Mata digantikan Mkhitaryan dan Jesse Lingard menempati posisi Martial.
Penempatan Mkhitaryan yang dianggap lebih mampu bermain fisik daripada Juan Mata ditujukan untuk menahan penetrasi bek dan gelandang serang sayap City.
Kenyataannya?
Mkhitaryan kerap kehilangan bola dan beberapa kali mendapati area sayap yang dihuninya menjadi salahsatu ekspose serangan City di babak pertama.
Di sisi sayap yang lain, penempatan Lingard bahkan langsung membuat fans MU mengernyitkan dahi.
Martial memang belum lagi mampu mengulang performanya musim lalu dalam tiga laga awal MU, tetapi dirinya sudah terlanjur jadi satu unit kesatuan dalam komposisi tiga gelandang menyerang di belakang Ibra.
Apalagi dalam jeda laga internasional, Martial mampu mencetak gol untuk timnas yang artinya menunjukkan bahwa anak muda Prancis ini tinggal tunggu panas saja.
Makin mengherankan karena Mou bahkan tidak mencoba menempatkan Rashford di posisi Martial padahal pencetak gol kemenangan MU atas Hull City itu juga tengah on fire usai mencetak gol bersama timnas Inggris U-21.

The Special One harus mengakui keputusannya mengubah starter awal adalah sebuah blunder.
Blunder Mou terbukti ketika dalam 45 menit babak pertama Lingard membuat MU seakan-akan hanya bermain dengan 10 orang.
Lingard sama sekali tidak memberikan kontribusi pada permainan MU.
Hasil gambar untuk jesse lingard
Entah mimpi buruk apa yang dialami Lingard hingga bermain sangat jelek.
Fans MU di dalam Stadion bahkan tertangkap kamera meneriaki anak muda ini saking seringnya melakukan kesalahan-kesalahan mendasar yang merugikan tim.
Lingard mungkin harus “berterimakasih” kepada Daley Blind yang ikut jadi sorotan pada dua gol City ke gawang David De Gea.
Gol pertama City sangat nyata sekali memperlihatkan kelalaian Blind dalam mengantisipasi pergerakan De Bruyne saat menyambut umpan lambung Kolarov  dari area pertahanan City.
De Bruyne memotong bola dan menciptakan jalur masuk berhadapan dengan De Gea dalam kotak penalti.
Parahnya, Blind menunjukkan reaksi pasrah dengan tidak bergerak cepat mengejar Bruyne.
Luke Shaw yang berada di luar jalur lari Bruyne malah bela-belain berlari habis-habisan mengejar Bruyne yang terlanjur menaklukkan De Gea.
Blind kembali jadi “tersangka” pada gol kedua City.
Posisi Iheanacho yang tadinya offside pada sebuah serangan City dalam kotak penalty MU menjadi on side akibat keterlambatan Blind naik.
Singkat cerita Blind sudah merusak performa gemilangnya dalam 3 laga awal MU.
Ajaib jika Blind masih menempati posisi Chris Smailing di laga MU berikutnya.                        

Terlepas dari “kontribusi Blind” dalam dua gol City, performa MU memang tidak lebih baik daripada City.
Dominasi penguasaan bola City beberapa kali berujung pada serangan-serangan yang membuat jantung fans MU berdegup kencang.
Kekhilafan Mourinho terbayar di babak kedua kala The Special One mengubah komposisi pemain.
Masih dalam formasi 4-2-3-1, keluarnya Mkhitaryan dan Lingard berganti dengan Rashford dan Herrera.
Masuknya dua nama ini membuat Pogba maju menjadi salahsatu dari tiga gelandang menyerang bersama Rooney dan Rashford serta Hererra menjadi double pivot bersama Fellaini.
Rotasi ini membuat serangan MU kian tajam di babak kedua dan beberapa kali memberikan ancaman ke gawang Claudio Bravo yang tampak gugup dalam laga debutnya di Liga Inggris.
Duet Herrera dan Fellaini juga cukup mampu membentengi pertahanan MU dari serangan-serangan City.
Posisi Pogba yang berada tepat di belakang Ibra dan menggeser Rooney ke sisi sayap sekaligus menguatkan lini tengah MU karena dalam pergerakannya formasi 4-2-3-1 MU berubah menjadi 4-3-3 dimana Ibra, Rashford dan Rooney jadi trio penyerang yang disokong  trio Pogba Fellaini dan Herrera.
Meski pada akhirnya bisa mengimbangi City di babak kedua, MU tidak sampai menyamakan skor dan harus pasrah dengan hasil akhir kalah 1-2.

Apakah taktik Guardiola lebih baik daripada Mourinho dengan kemenangan ini?
Rasanya hasil laga bisa berbeda jika Mou tidak bereksperimen mengubah komposisi starter awal.
Perubahan strategi yang ditawarkan Mourinho bisa jadi direncanakan untuk mengantisipasi absennya Sergio Aguero yang diakui Mourinho justru menyulitkannya menyusun taktik.
“Dengan absennya Aguero kami harus berpikir ulang menganalisa permainan yang akan diterapkan City” ujar Mourinho.
Sayangnya alih-alih menurunkan tim terbaik yang sudah teruji untuk meladeni City yang “pincang” tanpa Aguero, Mou justru memainkan tim berbeda yang kemudian terbukti ikut-ikutan membuat MU pincang di babak pertama, babak dimana semua gol City lahir dan MU tidak mampu menampilkan permainan terbaik mereka.

Mou salah strategi dan MU pun kalah.