Kamis, 08 Desember 2016

Ulas Taktik - Riedl Menumpuk Pemain Demi Mengamankan Tiket Ke Final

Jika saja timnas Merah Putih gagal lolos ke final AFF 2016 karena kalah dari sebuah tim yang hanya bermain 10 orang dengan kiper dadakan serta sudah ketinggalan skor dan aggregate maka tulisan ini akan saya mulai dengan kata-kata seperti memalukan, ceroboh, bencana, sayang sekali, kebodohan dan setumpuk kata-kata yang bermakna meratapi kegagalan.
Namun dengan fakta bahwa Boaz Salossa dkk terus melaju ke final AFF 2016 meski menjalani sebuah laga sangat ketat, maka kata awal yang muncul dalam tulisan ini adalah salut, heroik, dramatis, hebat dan setumpuk kata kekaguman dan syukur.
Ya, timnas melaju setelah melalui salahsatu laga paling sengit nan dramatis dalam sejarah AFF Cup.
Laga yang kemudian menghasilkan pemenang di pihak Indonesia namun meninggalkan respek tinggi bagi Vietnam yang kalah (atau lebih tepatnya mereka hanya gagal ke final).
Indonesia sendiri lolos dengan meninggalkan sejumlah catatan yang perlu dicermati sebagai bahan perbaikan menghadapi laga final pada 14 dan 17 Desember 2016 nanti.
Di lini depan Indonesia masih konsisten terus mencetak 2 gol tiap laga, namun problem buruknya stamina pemain yang berujung pada menurunnya konsentrasi dan refleks tampak sekali saat tim Garuda kebobolan dua gol di atas menit 80 oleh tim yang bermain dengan 10 orang.
Indonesia mesti banyak belajar dari pengalaman di laga sengit ini.

Riedl sendiri sesungguhnya sudah menyadari potensi bahaya yang akan diberikan Vietnam pada laga leg kedua ini sehingga sedari awal sudah menyusun strategi untuk mengamankan laga.
Sadar bahwa Vietnam akan habis-habisan menggempur pertahanan Indonesia demi mencari gol yang dibutuhkan, Riedl menurunkan komposisi pemain dalam formasi 4-2-3-1.
Kurnia Meiga yang penampilannya terus membaik kembali mendapatkan kepercayaan untuk berada di bawah mistar gawang.
Sepertinya suara-suara sumbang yang mempertanyakan kepantasannya sebagai kiper utama timnas Garuda mulai surut seiring perjalanan Indonesia yang masih terus melaju di turnamen sepakbola terbesar se Asia Tenggara ini.
Di depan Kurnia Meiga, Yanto Basna tampaknya benar-benar kehilangan posisinya karena Riedl memutuskan untuk hanya mengembalikan Fachrudin ke lini pertahanan.
Posisi Yanto Basna sendiri diberikan kepada salahsatu bintang muda yang melejit di leg 1, Hansamu Yama.
Keduanya diapit dua bek sayap yang tidak tergantikan, Benny Wahyudi dan Abduh Lestaluhu.
Di lini tengah, Riedl menduetkan Bayu Pradana dan Manahati Lestusen sebagai duo gelandang bertahan.
Dengan pilihan ini Riedl tampaknya ingin memperkuat fungsi bertahan tim saat diserang.
Komposisi ini membuat Bayu tidak lagi sendirian mengemban tugas bertahan di lini tengah.
Pada posisi penyerangan, Riedl menurunkan trio Stefano Lilipaly di belakang penyerang tunggal Boaz Salossa bersama dengan Andik Vermansyah dan Rizki Pora di sisi gelandang serang sayap.
Lewat komposisi 4-2-3-1 ini Riedl ingin menumpuk gelandang di lini tengah demi mengimbangi dominasi Vietnam yang pada leg 1 menguasai possession ball.
Tujuannya jelas, semakin banyak pemain di lini vital tersebut maka semakin mudah menerapkan pressing saat bertahan dan melakukan serangan balik cepat lewat kecepatan kedua sayap dan bola-bola daerah yang menjadi makanan empuk Boaz.
Apakah strategi tersebut berjalan dengan baik?

Fakta yang tersaji di atas lapangan memperlihatkan Vietnam masih sanggup mendominasi Indonesia meski Riedl sudah menambah jumlah pemain di lini tengah.
Timnas Garuda benar-benar berada dalam tekanan Vietnam.
Bertubi-tubi serangan datang silih berganti ke pertahanan Indonesia.
Sampai-sampai komentator di TV mengumpamakannya sebagai serangan 7 hari 7 malam ke wilayah pertahanan Indonesia….hahahaha…ada-ada saja.
Sekilas Indonesia tampak tidak mampu meladeni permainan cepat Vietnam namun sesungguhnya strategi Riedl berjalan dengan baik.
Penumpukan pemain di tengah membuat Vietnam tidak leluasa mengkreasikan serangan dan berujung pada pola penyerangan yang monoton.
Stasiun TV FOX Sports sempat memunculkan ulasan pergerakan pemain-pemain Indonesia saat diserang Vietnam.
Dalam ulasan itu terlihat ketika pemain Vietnam memegang bola dan sedang menyusun serangan, seluruh pemain Indonesia langsung menghidupkan mode bertahan dan pemain terdekat melakukan pressing.
Pemandangan seluruh pemain Indonesia berada di wilayah pertahanan sendiri menjadi pemandangan yang biasa sepanjang laga.
Indonesia terkadang hanya menyisakan Boaz Salossa di posisi terdepan untuk bersiap-siap melakukan serangan balik.
Seluruh pemain bergerak mundur bersama melindungi kotak penalty ketika Vietnam melancarkan serangan.
Seluruh pemain Indonesia beberapa kali terlihat beredar di sekitar kotak penalty untuk menahan gempuran Vietnam yang tampil penuh semangat dihadapan pendukung mereka.
Hal tersebut membuat serangan yang lolos dari hadangan lini tengah masuk ke kotak penalty tinggal menunggu clearance dari duet bek tengah, Fachrudin dan Hansamu.
Kalau pun serangan tersebut mengarah ke Kurnia Meiga maka daya ledaknya sudah berkurang karena sudah melalui tumpukan rapat dari pemain-pemain Indonesia sejak lini tengah.
Singkat kata strategi menumpuk pemain ini terbukti efektif meredam serangan bertubi-tubi Vietnam.

Dua buah gol Indonesia lahir dari keberhasilan lini tengah mencuri celah yang muncul ketika pemain-pemain Vietnam menyerang habis-habisan.
Kerjasama satu dua Lilipaly dan Boaz memicu kecerobohan kiper dan bek Vietnam untuk dengan mudahnya dituntaskan jadi gol oleh Lilipaly.
Begitu pula ketika Ferdinan Sinaga lolos dari jebakan offside dan membuat kiper dadakan Vietnam melakukan pelanggaran yang berujung penalty.
Meski demikian, bobolnya gawang Indonesia sampai dua kali di sisa waktu babak kedua harus menjadi perhatian.
Dua gol tersebut sebenarnya sejalan dengan fakta bahwa 50% gol Vietnam pada AFF 2016 terjadi di 10 menit terakhir babak kedua dan Indonesia tampak tidak siap menghadapi tim seperti itu.
Stamina pemain tampak sudah menurun dan berakibat pada kelengahan di kotak penalty saat pertandingan sudah memasuki meniti 80.
Memasukkan tenaga-tenaga segar seperti Dedi Kusnandar, Ferdinan Sinaga dan Zulham Zamrun juga tidak banyak membantu karena Vietnam kadung main kesetanan meski hanya dengan 10 pemain.
Proses lahirnya dua gol Vietnam menegaskan kelemahan Indonesia di menit-menit akhir laga.
Menit 84, lewat sebuah skema tendangan bebas, gawang Indonesia bobol juga.
Sadar bahwa pemain Indonesia menumpuk di dalam kotak penalty, pemain Vietnam menyodorkan bola tendangan bebas keluar kotak penalty untuk memancing pemain Indonesia bergerak keluar menghadang potensi tendangan jarak jauh.
Berhasil, tumpukan pemain Indonesia yang rapat menjadi longgar dan membuat tendangan Vietnam dari ujung luar kotak penalty Indonesia mampu menerobos masuk menghujam gawang Kurnia Meiga.
Tersentak oleh gol penyama kedudukan, Indonesia sepertinya masih berpikir bahwa Vietnam tidak akan mungkin melakukan pekerjaan ajaib membalikkan keadaan di sisa waktu dengan hanya 10 pemain.
Kenyataannya dengan konsentrasi menurun karena stamina yang mengendor membuat pemain Indonesia tidak kuasa lagi melakukan pressing seketat awal laga hingga pemain Vietnam yang motivasinya tengah meluap dari gol penyama kedudukan berhasil menerobos masuk kotak penalty Indonesia meski disana sudah berkumpul tumpukan pemain Indonesia dan lahirlah gol penyama aggregate hanya 2 menit jelang injury time berakhir!!

Laga melawan Vietnam seperti mengingatkan kembali pada laga perdana Indonesia saat kalah 2-4 dari Thailand.
Indonesia kebobolan dua gol dari Teerasil Dangda di menit-menit akhir yang membuat Indonesia takluk.
Bedanya kebobolan dua gol saat meladeni Vietnam hanya berujung pada dilaksanakannya babak perpanjangan waktu.
Keberhasilan Indonesia menyamakan kedudukan dibabak perpanjangan waktu meski sempat dikuatirkan mental pemain drop akibat horror di menit akhir babak kedua tidak terbukti.
Indonesia perlahan tapi pasti kembali mampu meredam Vietnam dan puncaknya ketika Manahati Lestusen dengan dinginnya menuntaskan hadiah penalty.
Kekuatan mental ini sudah pernah ditunjukkan saat Indonesia mengejar ketertinggalan 2 gol dari Thailand meski pada akhirnya kalah akibat 2 gol di menit-menit akhir babak kedua.
Laga ini memperlihatkan dengan jelas bahwa Riedl perlu membenahi koordinasi pertahanan di menit-menit akhir laga.
Problem stamina mungkin sulit untuk diperbaiki dalam waktu dekat tetapi pendekatan secara teknis seperti mengganti seorang penyerang dengan gelandang di lini tengah untuk menambah jumlah pemain di lini vital tersebut mungkin bisa membantu mengamankan pertahanan tim Merah Putih.
Dengan kata lain pola 4-2-3-1 Riedl bisa saja bertransformasi menjadi 4-5-0 alias bermain tanpa striker di sisa laga.
Konsistensi Boaz dkk terus mencetak 2 gol menjadi indikator bahwa lini depan Indonesia sejauh ini cukup menjanjikan.
Tinggal bagaimana Riedl memoles pertahanan agar bisa mencatat clean sheet.
Riedl tentu tidak ingin gagal pada kesempatan keduanya melakoni final AFF Cup bersama tim Merah Putih.

Ayo Indonesia Bisa!!!

Minggu, 04 Desember 2016

Ulas Taktik - Hansamu Dan Manahati Membuat Kekuatan Timnas Komplit


Indonesia mendapatkan modal kemenangan berharga 2-1 atas Vietnam pada Leg 1 Semifinal AFF Cup 2016 yang berlangsung di Stadion Pakansari Cibinong 3 Desember 2016.
Kemenangan Indonesia tidak lepas dari keberhasilan Riedl meracik susunan pemain terutama dalam menentukan komposisi lini pertahanan yang ditinggal Fachrudin dan Yanto Basna, dua bek tengah yang selalu jadi pilihan Riedl di fase penyisihan grup.
Tidak seperti saat melawan Siangpura, Riedl kembali mengedepankan formasi 4-4-2 alih-alih mempertahankan formasi 4-2-3-1 yang dipandang sukses mengakomodasi Bayu, Evan dan Lilipaly, tiga gelandang andalan timnas saat ini.

Di bawah mistar gawang, Riedl tetap menurunkan Kurnia Meiga meski desakan agar memainkan Andritany terus bermunculan.
Walaupun sudah kebobolan 7 gol, Kurnia Meiga tampaknya dipandang bukan sebagai sumber permasalahan di lini pertahanan.
Di depan Kurnia Meiga, Riedl “terpaksa” menurunkan duet bek tengah baru seturut akumulasi kartu Facrudin dan Yanto Basna.
Dari tiga bek tengah yang tersisa (Gunawan, Manahati dan Hansamu Yama), Riedl memutuskan untuk menduetkan Hansamu Yama dan Manahati Lestusen.
Sebuah kombinasi bek bertubuh tinggi dan bek yang kokoh secara fisik dimana keduanya diharapkan bisa menghalau bola-bola atas yang datang ke kotak penalti dan mengimbangi kecepatan pemain-pemain  Vietnam.
Di lini tengah, Bayu dan Lilipaly diduetkan kembali dengan pembagian tugas menyerang pada Lilipaly dan Bayu mengemban peran sebagai gelandang yang lebih banyak berkonsentrasi pada fungsi bertahan.
Di sector sayap yang menjadi salahsatu kekuatan timnas asuhan Riedl, Andik dan Rizki Pora menjadi pemain pilihan utama yang kembali diturunkan.
Di belakang keduanya tedapat Benny Wahyudi dan Abduh Lestaluhu pada posisi bek sayap yang akan berkolaborasi menyisir sector sayap kanan dan kiri.
Pilihan Riedl pada posisi penyerang bisa dipastikan jatuh pada sang kapten Boaz Salossa.
Pertanyaannya adalah siapa yang mendampingi Striker Persipura itu di depan?
Riedl memutuskan Ferdinan Sinaga lah yang mendampingi sang kapten.
Kolaborasi apik Ferdinan dan Boaz pada laga Indonesia vs Singapura di pertengahan babak kedua tampaknya menarik perhatian Riedl.

Dengan formasi 4-4-2, Riedl menegaskan niat Indonesia untuk mengejar kemenangan lewat penempatan 2 penyerang yang diapit dua gelandang sayap agresif.
Strategi tersebut berjalan dengan baik.
Berkali-kali Indonesia melakukan serangan dari sayap lewat kecepatan Andik dan Rizki Pora.
Khusus untuk Rizki Pora, pergerakannya di sayap kirip timnas Merah Putih sangat eksplosif dan terus menebar ancaman ke pertahanan lawan.
Serunya lagi, Abduh Lestaluhu yang jadi rekannya di sisi itu tidak kalah ciamiknya mempertontonkan pergerakan bagus di sector sayap.
Jadilah sisi kanan pertahanan Vietnam berkali-kali dieksplotasi oleh Rizki dan Abduh.
Gol kedua Indonesia adalah buah kejelian sector sayap kiri memberikan umpan panjang ke Lilipaly yang dengan cerdik memanfaatkan kelengahan bek Vietnam untuk menerobos masuk ke kotak penalti dan berujung pada pelanggaran berhadiah penalti yang diselesaikan dengan baik oleh Boaz Salossa.
Di sector sayap kanan, Andik Vermansyah bersama Benny Wahyudi juga terus menjadi ancaman bagi pertahanan Vietnam.
Meski tidak segarang sector sayap kiri, kombinasi Andik dan Benny tetap patut mendapatkan pujian.
Secara keseluruhan, Indonesia bermain dengan pressing tinggi untuk mengimbangi pressing tinggi yang juga diterapkan Vietnam.
Alhasil kedua tim terlihat saling jual beli serangan yang diwarnai beberapa kali kontak fisik yang agresif.
Seru!!
Indonesia sendiri tidak terlalu banyak memainkan bola dari kaki ke kaki dan cenderung lebih mengedepankan bermain direct  lewat umpan-umpan langsung yang menusuk ke depan baik dari lini tengah dan lebih sering lagi lewat pergerakan di sayap.
Penguasaan bola Indonesia yang hanya 42% berbanding 58% milik Vietnam mengkonfirmasi hal tersebut.
Jumlah umpan yang dilepaskan Boaz Salossa dkk juga hanya 174 berbanding 250 umpan yang dilepaskan pemain-pemain Vietnam.
Riedl benar-benar memanfaatkan kecepatan sayap-sayap tim Merah Putih dan mengeksploitasi kegemaran Boaz Salossa pada bola-bola daerah yang mengadu kecepatan penyerang dengan bek lawan.
Adapun Ferdinan diposisikan sebagai striker yang bertugas menyambut umpan-umpan silang dari sayap sehingga ketika Ferdinan ditarik keluar pun penggantinya adalah Lerby Leandry, penyerang yang memiliki tipe serupa untuk menyambut bola-bola atas di kotak penalti Vietnam.
Di sisi pertahanan, Indonesia menunjukkan bahwa Riedl sudah belajar bagaimana caranya mengatasi problem besar timnas Garuda yang terus kebobolan dalam 3 laga penyisihan grup.
Boaz dkk mempraktekkan pertahanan kolektif dengan memulai transisi bertahan sejak kehilangan bola.
Pemain-pemain Indonesia langsung memberikan pressing sejak dari area permainan Vietnam setiap kali kehilangan bola.
Mulai dari penyerang, pemain sayap sampai gelandang memerankan fungsi bertahan sebelum serangan Vietnam benar-benar memasuki area pertahanan dan kotak penalti Indonesia.
Pertahanan kolektif ini membuat lini belakang Indonesia terlindungi dengan baik disamping kinerja lini pertahanan tim Merah Putih kali ini bekerja dengan sangat baik, terutama duet bek tengah Hansamu dan Manahati.
Terlepas dari penalti kontroversial untuk Vietnam yang membobol gawang Kurnia Meiga, lini pertahanan Indonesia bermain lebih baik saat dikomandoi duet Hansamu dan Manahati.
Keduanya mampu bekerjasama dalam menggalang pertahanan dan dapat saling menutupi dalam beberapa momen menahan serangan Vietnam.
Khusus untuk Hansamu Yama, kemampuannya memenangkan beberapa kali duel udara membuktikan kapasitasnya sebagai salahsatu bek jempolan lulusan timnas U 19 yang jadi buah bibir itu.
Satu gol yang dicetaknya memanfaatkan umpan sepak pojok adalah buah dari kemampuannya dalam memenangkan duel udara.
Adapun Manahati mampu memaksimalkan fisik kekarnya untuk berduel dengan penyerang-penyerang Vietnam.
Kemampuan intersep mantan kapten timnas U 23 ini adalah salah satu poin plus di lini  pertahanan Indonesia pada laga melawan Vietnam.
Dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran bek (hanya 168cm), Manahati mengingatkan saya akan seorang Fabio Cannavaro, bek sekaligus kapten timnas Italia saat negara itu menjuarai Piala Dunia 2006.
Tubuh tidak tinggi namun memiliki badan kekar, kemampuan berduel dengan penyerang lawan, kecepatan dan lompatan yang tinggi untuk menutup kekurangan pada tinggi badan.
Bersama Hansamu yang memiliki tinggi 181 cm, Manahati membentuk duet bek tengah yang saling melengkapi.
Dengan performa yang ditunjukkan, rasanya duet bek tengah baru ini layak untuk tetap dimainkan saat Indonesia melakoni semifinal Leg kedua di Vietnam.
“Para pemain belakang bermain sangat bagus. Dua bek tengah di laga ini membuat saya pusing karena saya kini memiliki pilihan empat bek tengah. Ini akan menjadi diskusi pelatih” Riedl mengungkapkan kepuasannya atas kinerja lini pertahanan sekaligus mengapresiasi kinerja duet Hansamu dan Manahati.
Performa bagus dua bek tengah juga membuat seorang Kurnia Meiga tidak lagi menjadi pesakitan.
Kurnia tampil dengan baik terutama ketika melakukan sebuah penyelamatan fantastis di 10 menit terakhir babak kedua.
Kiper utama pilihan Riedl ini tampak lebih klop menggalang pertahanan dengan duet Hansamu dan Manahati di depannya.
Singkat kata, masalah pertahanan di tubuh timnas Merah Putih tampaknya sudah menemukan solusinya.
Pertahanan kolektif serta duet bek tengah baru terlihat memberikan rasa nyaman bagi timnas saat melakoni fungsi bertahan.
Jika benar masalah di lini pertahanan sudah teratasi dan lini penyerangan sejauh ini terus konsisten mencetak 2 gol tiap laga, maka timnas kini bisa dipandang sudah memiliki kekuatan komplit.
Kuat di pertahanan dan tajam di penyerangan.
Dengan kondisi seperti ini bolehlah kita berharap banyak pada anak asuh Riedl untuk membuat kejutan di AFF Cup 2016 ini.

Ayo Indonesia Bisa!!!

Sabtu, 26 November 2016

Ulas Taktik - 4-2-3-1 Pilihan Riedl Lebih Sukses Daripada 4-4-2

Indonesia memenangi laga hidup mati melawan Singapura dengan skor 2-1 sekaligus mendapatkan keberuntungan yang diharapkan lewat kemenangan 1-0 Thailand atas tuan rumah Filipina.
Kombinasi kemenangan yang dikejar dan keberuntungan yang diharapkan itu berbuah satu tiket semifinal AFF Cup 2016.
Keberhasilan Indonesia mengalahkan Singapura tidak lepas dari perubahan formasi yang diusung Alfred Riedl.
Meski masih dibayangi pertanyaan terkait keputusan Riedl yang masih saja mempertahankan komposisi bek dan kiper yang sudah kebobolan 6 gol dalam 2 laga terakhir, pilihan Riedl menggunakan taktik 4-2-3-1 patut diacungi jempol.
Ya, Indonesia meninggalkan formasi 4-4-2 yang sejak awal dikedepankan Riedl sebagai pola permainan utama.

Dengan pola 4-2-3-1 Indonesia turun dengan komposisi Kurnia Meiga di bawah mistar gawang dan kuartet bek yang tidak mengalami perubahan (meski sudah kebobolan 6 gol).
Empat pemain bertahan di depan Kurnia Meiga masih diisi oleh Benny Wahyudi, Fachrudin, Yanto Basna dan Abduh Lestaluhu.
Riedl tampaknya tidak mau berjudi mengutak atik formasi di belakang pada laga sepenting ini.
Meski sudah kebobolan 6 gol, pilihan mempertahankan kuartet lini pertahanan plus kipernya bisa dimaklumi karena Singapura yang dihadapi Indonesia adalah tim yang punya masalah di lini penyerangan karena sama sekali belum mencetak gol dalam dua laga.
Riedl memandang ancaman penyerangan Singapura tidak akan seberat ketika Indonesia meladeni penyerangan Thailand dan Filipina.
Di lini tengah, Riedl menduetkan kembali Bayu Pradana dan Stefano Lilipaly dengan tetap menurunkan Evan Dimas juga.
Kegagalan Indonesia memenangkan lini tengah dalam dua laga sebelumnya tampaknya mengubah cara pandang Riedl dengan membagi lebih jelas fungsi gelandang yang bertahan dan gelandang yang menyerang.
Bayu Pradana dan Lilipaly lebih banyak berperan dalam tugas bertahan sedangkan trio Evan Dimas, Rizky Pora dan Andik Vermansyah di sector sayap menjalankan fungsi penyerangan.
Pada beberapa momen terlihat pula Evan dan Lilipaly bergantian naik turun sehingga terkadang Lilipaly bergabung menjadi trio gelandang serang dan Evan menjadi double pivot bersama Bayu.
Dengan total 5 gelandang, Riedl ingin memastikan lini tengah Indonesia lebih seimbang dan stabil karena ada gelandang yang fokus pada pertahanan dalam diri Bayu Pradana, gelandang sekelas Evan Dimas yang mampu mengatur permainan dan mendistribusikan bola, gelandang yang memainkan fungsi bertahan sekaligus muncul tiba-tiba sebagai gelandang serang dalam diri Stefano Lilipaly serta Rizky Pora dan Andik Vermansyah sebagai gelandang yang berperan ofensif di sector sayap dalam situasi penyerangan.
Kelima gelandang ini menopang kapten Boaz Salossa sebagai striker tunggal.

Sama seperti lini belakang dan tengah, ada alasan mengapa Riedl menurunkan komposisi seperti ini di lini depan.
Mandeknya Lerby Leandry pada laga melawan Filipina dan minimnya peran penyerang pengganti seperti Ferdinand Sinaga saat diturunkan sebagai super sub membuat Riedl hanya bisa menjagokan Boaz sebagai predator sesungguhnya bagi tim Merah Putih.
Disisi lain, sayap-sayap Indonesia yang dihuni Rizky dan Andik menunjukkan kinerja yang cukup baik dalam situasi penyerangan sekaligus mampu memerankan fungsi bertahan sedari awal kala bola berada di wilayah pertahanan lawan.
Banyaknya umpan silang serta serangan Indonesia yang berawal dari pergerakan sayap dalam laga melawan Thailand dan Filipina mengkonfirmasi bahwa kekuatan Indonesia ada pada sector ini.
Sederhananya, pola 4-2-3-1 ditujukan untuk memaksimalkan komposisi gelandang andalan Riedl sekaligus memaksimalkan serangan sayap tim Merah Putih yang terbukti jadi kekuatan Indonesia dalam dua laga sebelumnya.
Serunya lagi, pola ini bisa secara fleksibel berubah menjadi 4-3-3 dimana Evan dan Lilipaly bisa maju menyerang bersama meninggalkan Bayu yang fokus bertahan sehingga Rizky dan Andik bergerak lebih kedepan sebagai penyerang sayap.
Pola ini membuat Indonesia menguasai lini tengah dan sayap sehingga meski Evan Dimas keluar digantikan Ferdinand Sinaga pun pola ini tetap bertahan dengan Ferdinand dan Boaz bergantian memainkan peran sebagai striker tunggal dan gelandang serang untuk mengacaukan konsentrasi pertahanan Singapura.
Ketika Zulham Zamrun masuk menggantikan Benny, pola 4-2-3-1 masih menjadi pakem permainan diatas lapangan.
Rizky Pora mundur kebelakang menjadi bek sayap mengisi posisi Abduh Lestaluhu yang bergeser ke posisi bek sayap yang ditinggalkan Benny.
Zulham sendiri mengisi posisi gelandang serang sayap bersama Andik.

Kemenangan 2-1 Indonesia atas Singapura mengkonfirmasi bahwa Riedl tidak salah memilih pola 4-2-3-1.
Meski sempat kebobolan di babak pertama, Indonesia menuai hasil ketika Andik dan Lilipaly mencetak2 gol balasan.
Bukan sebuah kebetulan jika dua gol Indonesia datang dari lini yang mengalami perubahan pada formasi ini yaitu lini tengah lewat Lilipaly dan sector sayap lewat Andik Vermansyah.
Pola 4-2-3-1 terbukti mampu menghadirkan kemenangan perdana sekaligus vital bagi Indonesia di AFF Cup 2016.
Jika bisa terus konsisten memainkan pola ini dengan baik, Indonesia bisa saja membuat kejutan.
Satu catatan minus yang masih tertinggal dari keberhasilan Indonesia melaju ke semifinal ini adalah masih lemahnya liini pertahanan Indonesia dengan terus kebobolan dalam 3 laga.
Riedl bisa mempertimbangkan untuk melakukan satu dua pergantian di lini ini kecuali jika Riedl masih percaya bahwa Kurnia Meiga dan kuartet Benny, Fachrudin, Yanto dan Abduh akan semakin mendapatkan kekompakan dan soliditas di lini belakang.
Toh, jumlah gol yang masuk ke gawang Indonesia juga semakin berkurang dari 4 gol, 2 gol dan kini hanya 1 gol.
Apapun itu, kita patut mensyukuri kelolosan ini dan berharap tim Merah Putih terus melaju jauh di turnamen ini.
Ayo Indonesia bisa!!

Sabtu, 19 November 2016

Ulas Taktik - Dua Blunder Lini Pertahanan Membuyarkan Strategi Riedl

Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika wasit meniup peluit tanda berakhirnya laga perdana Indonesia di Grup A AFF Cup 2016.
Dengan Indonesia takluk 2-4 dari juara bertahan Thailand, bisa jadi terlintas pikiran andaikan Yanto Basna tidak membuat dua blunder yang memicu dua gol Thailand, mungkin hasil laga tidak akan berakhir dengan kekalahan Indonesia.
Lintasan pikiran kedua masih berupa pengandaian bagaimana jika momentum di babak kedua dari 2 gol cepat Indonesia hasil kerja Boaz Salossa dan Lerby Eliandry dapat diteruskan menjadi kebangkitan tim, hasil laga mungkin tidak akan sama.
Saya juga berandai-andai andaikan Evan Dimas sejak awal diturunkan, mungkin Indonesia tidak harus kelimpungan menahan dominasi Thailand di lini tengah.
Apapun itu, kekalahan 2-4 Indonesia dari Thailand sudah mengagalkan misi Riedl untuk setidaknya menahan imbang sang juara bertahan sekaligus favorit juara AFF Cup 2016 ini.
Misi Riedl yang diutarakannya jelang laga tersebut sebenarnya sudah terlihat dari komposisi starter awal pilihannya.
Rield menurunkan komposisi awal yang berorientasi pada pertahanan dalam formasi 4-4-2.
Komposisi awal yang cukup mengernyitkan dahi.

Pemilihan Kurnia Meiga di bawah mistar gawang bisa diperdebatkan karena sesungguhnya Andritany cukup mampu unjuk kebolehan selama melapis cederanya Kurnia Meiga.
Selama uji coba, kiper Persija itu bisa memperlihatkan bahwa pendapat bahwa posisi Kurnia Meiga tak tergantikan adalah keliru.
Kuartet bek di lini pertahanan sebenarnya tidak banyak mengalami perubahan sehingga seharusnya bisa jadi jaminan bahwa sudah ada kekompakan di lini ini.
Itu pendapat yang beredar sebelum Yanto Basna dua kali gagal membuang bola dengan baik di area pertahanan.
Dua blunder itu yang jadi momen dua gol awal Thailand.
Di lini tengah, keputusan Riedl menduetkan Lilipaly dengan Bayu Pradana alih-alih mendahulukan Evan Dimas berduet dengan Bayu Pradana memang ditujukan untuk memperkuat pertahanan Indonesia sejak lini tengah.
Lilipaly punya kemampuan memainkan posisi bek sehingga naluri bertahannya bisa diandalkan disamping kapabilitas dirinya sebagai gelandang serang.
Dengan Bayu Pradana yang lebih difokuskan sebagai gelandang bertahan, Riedl berharap Indonesia punya dua gelandang yang mampu memerankan fungsi bertahan di lini tengah.
Keputusan yang kemudian tidak berjalan dengan baik.
Lilipaly boleh jadi mampu memerankan fungsi bertahan sekaligus menyerang namun ketiadaan gelandang bertipe playmaker seperti Evan Dimas di lini tengah membuat Indonesia tidak mampu mengatur tempo dan melakukan transisi permainan dengan baik.
Praktis Indonesia tidak banyak mengkreasikan umpan berbahaya dari tengah lapangan.
Indonesia dipaksa mengandalkan pergerakan sayap yang dihuni Andik dan Rizki Pora.
Khusus Rizki Pora, assistnya bagi gol Boaz menjadi jawaban untuk kepantasannya mengisi posisi Zulham Zamrun.
Riedl sepertinya mempertimbangkan kemampuan Rizki Pora memerankan fungsi lain sebagai bek sayap dan ini lebih dibutuhkan Riedl.
Riedl menilai Zulham memang mampu memerankan fungsi gelandang sayap namun alih-alih bertransformasi sebagai bek sayap, Zulham lebih condong bertransformasi sebagai penyerang sayap, dan Riedl tidak melihat kemampuan itu sebagai  sesuatu yang dibutuhkan tim menghadapi Thailand.

Sederhananya, pemilihan Lilipaly ketimbang Evan Dimas dan menurunkan Rizki Pora daripada Zulham adalah representasi keinginan Riedl mengamankan laga dengan memperkuat pertahanan.
Riedl memang ingin memastikan bahwa Indonesia setidaknya jangan kalah dari Thailand.
Diatas kertas, strategi ini (jika berjalan normal) seharusnya mampu merealisasikan misi Riedl.
Namun apa daya, dua sapuan buruk Yanto Basna jadi momen yang memicu dua gol Thailand di babak pertama.
“Kami kebobolan dua gol mudah, tidak bisa dipercaya” sesal Riedl.
Kebobolan gol membuat Indonesia mau tak mau melepas keinginan bertahan dan bergerak lebih ofensif.
Jika di awal laga Riedl berharap Lilipaly mampu menjaga pertahanan di lini tengah sambil mencari kesempatan menyerang, maka pada babak kedua Riedl memaksimalkan betul kemampuan Lilipaly sebagai gelandang serang.
Sadar sudah tertinggal dua gol, tim Merah Putih bermain lebih terbuka di babak kedua dan merangsang kemampuan ofensif Lilipaly.
Serangan-serangan dari sayap Indonesia menjadi lebih greget karena kolaborasi dengan lini tengah lebih hidup.
Dua gol Indonesia adalah hasil kreasi umpan di sector sayap dan ini adalah bukti bahwa sayap-sayap Indonesia lebih hidup di babak kedua.
Sayangnya ofensivitas lini tengah tersebut membuat fungsi bertahan sedikit longgar dan membuat Thailand mampu mencuri dua gol ditengah euforia Indonesia yang tengah bernafsu membalikkan keadaan.

Indonesia takluk 2-4 meski sempat mempertontonkan kemampuan untuk menyamakan kedudukan.
Jika mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan individu di lini pertahanan dan mampu memaksimalkan situasi menyerang dengan baik, Indonesia masih punya peluang di kompetisi ini.
Riedl sebaiknya mempertimbangkan komposisi lini pertahanan yang berbeda karena kebobolan 4 gol jelas bukan kondisi yang bisa dimaklumi meski lawannya adalah Thailand.
Evan Dimas layak diturunkan sejak awal jika Riedl ingin lini tengah Indonesia lebih hidup dan tidak menggantungkan serangan hanya dari sayap saja.
Riedl masih punya dua laga untuk mengubah peruntungan Indonesia di AFF Cup 2016.

Ayo, Indonesia bisa!

Kamis, 17 November 2016

Kesempatan Ketiga Riedl Di Timnas Indonesia, Mengulang Sejarah AFF 2010 Atau AFF 2014?

Piala AFF 2016 menjadi kesempatan ketiga bagi Alfred Riedl menangani timnas sepakbola Indonesia setelah sebelumnya pelatih asal Austria itu menangani tim Merah Putih di Piala AFF 2010 dan 2014.
Dalam dua gelaran terdahulu, Riedl mencatatkan hasil yang berbeda signifikan.
Pada Piala AFF 2010, Riedl nyaris menjadi pahlawan nasional ketika Firman Utina dkk tampil memukau sebelum takluk oleh Malaysia dalam final yang berakhir dengan aggregate 2-4.
Timnas Indonesia adalah juara sesungguhnya dalam Piala AFF 2010 itu.
Bagaimana tidak, tim Merah Putih adalah tim tersubur sepanjang turnamen dan hanya sekali kalah dari seluruh laga yang dimainkan sepanjang turnamen (sisanya dimenangkan oleh timnas).
Sialnya, satu-satunya kekalahan terjadi di laga away partai final yang tidak mampu dibalikkan saat tim Merah Putih berlaga di GBK.
Kalah di partai final oleh Malaysia, tim yang kadung dianggap musuh bebuyutan, tim yang pada laga awal turnamen sudah pernah dikalahkan dan merelakan Harimau Malaya mengangkat trofi juara di GBK……hmmm…sakitnya tuh dimana-mana.
Firman Utina dkk bisa dikatakan memenangi turnamen tetapi tidak dengan trofi juaranya.
Saya jadi memahami perasaan penggemar timnas Belanda yang dua kali beruntun takluk di Final Piala Dunia.

Selang 4 tahun kemudian, ditengah konflik PSSI, Riedl menerima kesempatan kedua menangani timnas Indonesia.
Berbeda dengan gelaran 2010, tim Merah Putih tidak mampu berbicara banyak.
Firman Utina dkk tertahan di fase grup dengan diwarnai kekalahan telak 0-4 dari Filipina, lawan yang biasanya lebih sering jadi sarang gol timnas Indonesia.
Kekalahan yang sangat mengejutkan dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Saya sempat berpikir mungkin ada kesalahan berita atas skor kekalahan Indonesia saat itu.
Hasil tersebut seperti menghilangkan karisma Riedl sebagai pelatih yang sempat melambungkan sepakbola Indonesia lewat gelaran Piala AFF 2010.
Nama mantan pelatih timnas Vietnam di Piala Asia 2007 ini tidak pernah lagi masuk hitungan untuk menangani timnas Indonesia.
Maka ketika PSSI menunjuk Alfred Riedl untuk ketiga kalinya menangani tim Merah Putih muncul tanya mengenai apa yang bisa diberikan Riedl bagi tim ini?

Alfred Riedl sesungguhnya termasuk berani (atau nekad) menerima tawaran melatih timnas pasca sanksi dari FIFA.
Benar saja, persiapan anak asuh Riedl menuju Piala AFF dihadapkan pada kondisi tidak ideal.
“Persiapan timnas AFF 2014 berbeda jauh dengan timnas AFF 2010” ujar Riedl membandingkan dua kondisi persiapan yang pernah dialaminya.
Pada tahun 2010, persiapan timnas tidak berbenturan dengan kompetisi yang sedang berjalan.
Timnas juga menjalani sejumlah laga ujicoba yang berkelas seperti saat menjamu timnas Uruguay, Peringkat 3 Piala Dunia 2014 saat itu.
Kondisi persiapan yang baik berimbas pada performa memukau tim Merah Putih.
Berbanding terbalik dengan persiapan tim menuju Piala AFF 2014 yang terbilang singkat dan ikut dipengaruhi agenda Pemilu 2014.
Mungkin saat itu lebih menarik menyimak pertarungan Jokowi vs Prabowo.
Nah, dengan kondisi persiapan yang tidak sebaik tahun 2010, bisakah Riedl mendorong penampilan terbaik dari punggawa merah putih?

Riedl dihadapkan pada kondisi tidak bebas memilih pemain seiring kebijakan klub yang masih menjalani kompetisi Indonesian Soccer Championship.
Riedl hanya boleh memanggil maksimal dua pemain dari satu klub.
Lawan ujicoba anak asuh Riedl juga terbilang biasa-biasa saja.
Hanya ada 4 laga ujicoba bagi tim yang baru lepas dari sanksi FIFA jelas tidak meyakinkan untuk memasuki sebuah turnamen paling bergengsi se Asia Tenggara.
Indonesia juga sesungguhnya hanya sempat menguji kekuatan melawan 3 tim yaitu Malaysia, Myanmar dan dua kali melawan Vietnam.
Hasilnya, timnas hanya menang sekali, 2 seri dan 1 kalah dari 4 laga ujicoba tersebut….hmmm, tidak terlalu meyakinkan.
Indonesia juga dipastikan menghadapi tantangan berat untuk minimal mengulang pencapaian 2010 karena berada di grup berat.
Ada Thailand, Filipina dan Singapura di grup yang dihuni tim merah putih.
Jika ini adalah undian grup 10 tahun lalu mungkin kita bisa mengesampingkan Filipina dan akan berburu status pendamping Thailand lolos dari grup melawan Singapura.
Namun, kondisi saat ini tidak sesederhana itu.
Filipina kini adalah negara Asia Tenggara dengan peringkat FIFA tertinggi dan terus menjelma menjadi salahsatu kuda hitam dalam gelaran Piala AFF 2016, apalagi mereka bertindak sebagai tuan rumah.
Tugas Riedl makin berat karena striker kesayangannya Irfan Bachdim cedera menjelang turnamen dan gagal berangkat bersama tim.
Padahal Irfan Bachdim bisa jadi adalah salahsatu kartu as Riedl di timnas Indonesia jika melihat bagaimana timnas memukau bersama Irfan tahun 2010 namun melempem saat Irfan cedera dan tidak masuk tim yang berlaga di AFF 2014.
Irfan sendiri adalah pilihan utama Riedl di lini depan dalam beberapa laga ujicoba bersama Boaz Salossa.
“Ketiadaan Irfan adalah satu kehilangan besar bagi tim” sesal Riedl.
Dengan kondisi demikian, wajah timnas mana yang akan muncul di gelaran Piala AFF 2016?
Wajah timnas yang menakutkan lawan di Piala AFF 2010 ataukah wajah lemah timnas yang terhenti di fase grup Piala AFF 2014.

Ada satu fakta unik yang bisa memberikan secercah harapan.
Persiapan anak asuh Riedl memang tidak seideal 2010 alias hampir sama buruknya dengan persiapan 2014 tetapi komposisi tim saat ini nyaris sama dengan komposisi tim yang memukau di Piala AFF 2010.
“Tahun 2010 dengan 2016 hampir sama karena banyak wajah baru dan lebih dari setengah skuad belum pernah saya lihat sebelumnya” terang Riedl
Benar sekali.
Jika anda masih ingat kemunculan wajah-wajah baru di tubuh timnas yang mempesona di Piala AFF 2010 seperti Oktovianus Maniani, Arif Suyono, M. Nasuha, Ahmad Bustomi, Christian Gonzales dan tentunya Irfan Bachdim.
Nama-nama ini tadinya tidak banyak beredar di tubuh timnas dan Riedl memainkan mereka sebagai pilar tim yang membawa timnas Garuda melangkah sampai final.
Kondisi serupa terulang pada diri Abduh Lestaluhu, Rudolof Basna, Fachrudin Aryanto dan Bayu Pradana.
Meski belum lama berseragam merah putih, nama-nama ini cukup sering menjadi pilihan Riedl pada laga-laga ujicoba.
Kesamaan lain tim 2016 dengan tim 2010 adalah preferensi taktik Riedl yang mengedepankan pilihan formasi 4-4-2 dengan mengandalkan serangan dari kedua sayap serta keberadaan duo gelandang serang dan gelandang bertahan di tengah.
Riedl mencoba mereplikasi sosok Okto dan Arif Suyono disayap dengan sosok Andik Vermansyah dan Zulham Zamrun.
Duo Firman Utina dan Ahmad Bustomi kini hadir lagi dalam versi Evan Dimas dan Bayu Pradana.
Adapun sosok penyerang kidal yang dulu bernama Christian Gonzales kini berganti nama sekaligus jadi kapten tim, Boaz Salossa.
Dengan sejumlah kesamaan identik tersebut, apakah Riedl akan membawa timnas menapaktilas sejarah 2010 atau 2014?

Tentu kita semua berharap sejarah 2010 yang akan berulang, dimana kali ini kita berharap akan berakhir dengan trofi juara ditangan.