Jumat, 19 Agustus 2016

Juventus Membuat Serie A Italia Seperti Bundesliga

Hasil gambar untuk juventus scudetto 2016
Jangan terburu-buru menyebutkan Bundesliga Jerman sebagai liga sepakbola domestic yang paling tidak menantang dan cenderung monoton di Eropa.
Serie A berpotensi atau bahkan sudah menjadi monoton seiring hegemoni Juventus yang tidak kunjung berakhir.
Si Nyonya Tua sudah menguasai Liga Italia selama lima musim beruntun dan sepertinya masih akan terus seperti itu di musim Serie A yang baru.
Hal serupa juga sedang terjadi di Bundesliga.
Bayern Muenchen sudah empat musim beruntun merajai Liga Jerman dan sepertinya juga masih akan menjaga status sebagai penguasa Liga Jerman.
Kondisi yang terjadi di Bundesliga dan Serie A jelas berbeda dengan situasi di La Liga dan Premier League.
Meski La Liga cenderung didominasi Real Madrid dan Barcelona sebagai dua kekuatan utama, tetapi kejadian dominasi sebuah klub sampai empat musim bahkan lebih tidak terjadi di tanah Spanyol.
Dalam lima tahun kebelakang, hanya dua musim terakhir terjadi  klub menjuarai La Liga beruntun yaitu saat Barcelona menjuarai La Liga musim lalu dan musim sebelumnya.
Sisanya, Real Madrid dan bahkan Atletico Madrid bergantian menjadi juara.
Lima musim terakhir di Liga Inggris bahkan belum sekalipun memunculkan klub yang bisa melakukan back to back mempertahankan titel juara liga.
Apa yang terjadi saat ini di Serie A Italia terbilang ironis jika dibandingkan dengan situasi di Bundesliga Jerman.
Dominasi Bayern Muenchen di Jerman sesungguhnya bukan hal yang asing sehingga munculnya nama FC Hollywood sebagai juara  Bundesliga selama 4 musim beruntun bukan sebuah kejadian luar biasa.
Bundesliga memang bukan kompetisi yang seketat Liga Italia.
Hanya ada Muenchen yang punya kekuatan diatas rata-rata dalam kompetisi.
Adapun klub-klub lain harus membuat “kejutan” untuk bisa melangkahi Muenchen seperti yang pernah dilakukan Borussia Dortmund, Wolfsburg dan Stuttgart.
Maka ketika Juventus menguasai Serie A Italia selama lima musim beruntun dan masih jadi kandidat kuat untuk memenangkan gelar keenam secara beruntun, Liga Italia tampak seperti Bundesliga.

Orang mungkin bisa memahami hegemoni Muenchen di Bundesliga karena ketiadaan klub-klub yang berpotensi kuat mengganjal Muenchen.
Dortmund, Wolfsburg dan Stuttgart adalah tipikal klub pengganggu, bukan pengganjal.
Muenchen bahkan lebih pantas berada di Liga Champions dan berkompetisi di La Liga atau Premier League.
Tetapi di Italia, Juventus sebenarnya tidak kekurangan rival yang bukan sekedar berpotensi mengganggu tetapi juga siap mengganjal ambisi Si Nyonya Tua.
Duo Milan, AC Milan dan Inter Milan adalah rival tradisional Juventus yang seburuk apapun kondisinya selalu punya potensi mengganjal Buffon dkk.
Hasil gambar untuk buffon juventus
Di luar kedua klub itu, Juventus juga dihadapkan pada tantangan AS Roma dan Napoli, dua tim yang dalam beberapa musim terakhir mengganti peran duo Milan sebagai competitor utama Juventus menuju Scudetto.
Cukup?
Belum berhenti dengan empat klub diatas, Serie A juga masih punya Fiorentina dan Lazio yang sewaktu-waktu siap menjelma jadi kuda hitam yang menghambat perjalanan Juventus.

Dengan kondisi Serie A yang sesungguhnya dihuni tim-tim yang kompetitif, pemandangan Juventus juara sampai 5 musim beruntun adalah sebuah ironi.
Serie A berpotensi menjadi monoton seperti Bundesliga jika rival-rival Juventus tidak segera menemukan kondisi terbaik mereka untuk bertarung mengejar Scudetto.
Apalagi jika melihat bagaimana persiapan tim-tim jelang Serie A bergulir.
Perhatikan bagaimana Juventus memperkuat diri dengan mendatangkan Gonzalo Higuain, Dani Alves, Miralem Pjanic, Medhi Benatia dan Marko Pjaca.
Juve boleh saja kehilangan Morata dan Pogba tetapi mereka mendapatkan pengganti yang tidak kalah menjanjikan kualitasnya.
Di sisi lain, keberhasilan Juve menggaet Higuain serta Pjanic dari Napoli dan AS Roma secara tidak langsung menggerus kekuatan rival mereka, hmmm…cerdas.
Napoli sendiri mendatangkan Arkadiusz Milik dan Giacherini untuk melengkapi skuad yang sudah berisikan Marek Hamsik, Lorenzo Insigne, Pepe Reina dan Dries Mertens.
Adapun Roma memastikan kehadiran Wojciech Szczesny dan Thomas Vermaelen untuk memperkuat lini pertahanan mereka sembari mempermanenkan Mohammed Salah dan Stephan El Sharawy.
Bagaimana dengan duo Milan?
Baik AC Milan dan Inter Milan akan memulai Serie A bersama pelatih baru sehingga sulit dipungkiri bahwa proses adaptasi tim dengan konsep Montella dan De Boer masih akan berlangsung diawal-awal musim.
Dengan komposisi yang berisikan Mauro Icardi, Stevan Jovetic, Ever Banega, Miranda, Samir Handanovic dan Ivan Perisic, Inter Milan punya peluang menyodok ke pertarungan perebutan Scudetto.
Pun dengan materi Milan yang berisikan Romagnoli, Donnaruma, Sciglio, Carlos Bacca dan Montolivo.
Persoalannya adalah mampukah tim-tim rival memperlihatkan mental juara seperti yang dimiliki Juventus?
Materi pemain diantara tim-tim papan atas ini boleh jadi tidak terlalu jauh perbedaan kualitasnya tetapi konsistensi Juventus adalah yang terbaik.
Kisah perjalanan tim-tim papan atas musim lalu adalah gambarannya.

Inter Milan merebut status juara paruh musim namun kemudian berantakan saat pergantian tahun ketika Juve makin sulit ditaklukkan.
Kejadian serupa terjadi saat Napoli dan AS Roma mencoba menguntit terus Si Nyonya Tua.
Terlihat akan bertarung sampai akhir musim, Napoli dan Roma kehabisan tenaga jelang musim berakhir dan harus merelakan Juve melenggang mengangkat trofi Scudetto.
Tidak usah pertanyakan bagaimana dengan Milan.
Tim terbaik Italia di Eropa ini bahkan tidak mampu untuk sekedar lolos ke Liga Europa.
Juve kini bersiap mengejar gelar Scudetto beruntun yang keenam.

Jika rival-rival Si Nyonya Tua tidak segera berbenah terutama dalam hal menjaga konsistensi selama satu musim, maka Juventus bisa beneran menjadikan Serie A Italia semonoton Bundesliga dengan Bayern Muenchennya.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Manchester United Sudah Sangat Siap

Hasil gambar untuk manchester united
Musim baru Liga Inggris 2016/2017 diprediksi menjadi salahsatu musim kompetisi paling menarik tidak hanya di Liga Inggris sendiri tetapi juga jika dibandingkan dengan musim baru kompetisi domestic lain seperti La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman dan Serie A Italia.
Kedatangan sejumlah manager papan atas memberi gengsi baru bagi Liga Inggris.
Siapa yang tidak ingin menyaksikan Pep Guardiola, Jose Mourinho, Antonio Conte, Arsene Wenger, Juergen Klopp serta Ranieri dan Pochettino beradu taktik dalam satu liga domestic?
“Kejuaraan dunia bagi para Manager” demikian Arsene Wenger mengungkapkan fenomena berkumpulnya manager-manager berkelas di Liga Inggris.
Memang terlalu dini untuk memprediksi siapa juara Liga Inggris musim 2016/2017, tetapi jika mengambil indikator dari persiapan tim sebelum liga bergulir maka Manchester United (MU) bisa dianggap sebagai tim yang paling siap.

MU memilki kesiapan terbaik dari sudut pandang menjaga pemain penting tetap berada dalam tim dan mendatangkan pemain yang dibutuhkan.
MU berhasil menjaga pemain terbaik mereka David De Gea tetap berada di bawah mistar gawang, meski isu kepindahannya ke Real Madrid musim lalu tetap saja santer terdengar (padahal Keylor Navas sudah membuktikan kemampuannya di El Real dengan raihan trofi Liga Champions).
MU juga memastikan pemain paling senior mereka saat ini Wayne Rooney tetap menjadi bagian tim.
Meski perannya dipandang tidak sekrusial dulu lagi, keberadaan Rooney di ruang ganti masih dianggap penting.
Profil Rooney yang datang ke Old Trafford sebagai seorang remaja dan tumbuh menjadi dewasa di Theatre of Dream sangat pantas diserahi tanggung jawab sebagai kapten tim sekaligus senior bagi anak-anak muda seperti Anthony Martial, Marcus Rashford dan Jesse Lingard yang tengah berkembang menuju usia emas mereka.
Bertahannya trio Martial, Rashford dan Lingard sendiri menjadi salahsatu keberhasilan MU menjaga keutuhan komposisi utama tim jika melihat bagaimana gembar gembor media bahwa Mourinho akan “mengkebiri” peran-peran pemain muda.
Terbukti Mourinho kerap melibatkan Martial, Rashford dan Lingard dalam sejumlah laga pra musim (bandingkan dengan kasus Schweinsteiger yang “dipaksa” berlatih” diluar skuad utama).
Rooney bisa membagi pengalamannya tumbuh dari remaja sampai menjadi kapten MU kepada trio Martial, Rashford dan Lingard.

Serunya lagi, Rooney dipastikan tidak sendirian menjadi mentor bagi anak-anak muda ini.
Adalah Zlatan Ibrahimovic menjadi sosok kuat lain yang hadir di Old Trafford.
Pencetak gol terbanyak timnas Swedia itu adalah sosok yang dibutuhkan untuk menaikkan percaya diri yang terus menurun sejak MU ditinggal Sir Alex Ferguson pensiun.
Raihan gelar domestic di semua liga yang pernah dikunjungi Ibra juga jadi jaminan “diatas kertas” bahwa MU punya jimat untuk memenangkan titel Liga Inggris musim ini.
Bisa dikatakan Ibra adalah pemain pertama yang terlintas dalam pikiran Mourinho sejak dirinya dipastikan menangani MU.
Sama halnya dengan 3 rekrutan Mourinho selain Ibra.

Usai memastikan pemain-pemain kunci tetap berada di dalam tim, MU juga berhasil merealisasikan semua rencana pembelian pemain baru mereka.
“kami akan mendatangkan 4 pemain” seru Mourinho tentang rencana MU di bursa transfer.
Empat pemain yang diminta Mourinho semuanya berhasil didatangkan.
Ibra, Mkhitaryan, Baily dan Pogba adalah pemain-pemain yang diinginkan The Special One untuk melengkapi komposisi terbaik bagi MU.
Dan pria Portugal itu mendapatkanya.
Ibra di lini depan adalah jaminan ketajaman lini serang MU.
Gol penentu kemenangan yang membawa MU memenangi Community Shield adalah bukti awal dari dampak besar kedatangan Ibra bagi lini depan MU.
Dengan Rashford, Martial dan Lingard yang makin matang, lini serang MU bisa dipastikan tidak seret gol lagi seperti dulu.
Tambahkan lagi rencana Mourinho mengembalikan posisi sang kapten Rooney lebih dekat ke kotak penalty untuk berkolaborasi dengan Ibra di depannya.

Beralih ke Mkhitaryan.
Pemain yang didatangkan dari Borussia Dortmund ini mungkin tidak memiliki profil sekuat Ibra tetapi kehadirannya membuat MU punya banyak pilihan di lini serang kedua bersama Juan Mata, Jesse Lingard, Memphis Depay dan Ashley Young (Martial dan Rashford juga bisa bermain sebagai striker di lini depan).
Selanjutnya, Eric Baily.
Penampilan debutnya dalam laga kompetitif resmi pertama bersama MU di Community Shield langsung melambungkan namanya sebagai bek tengah utama MU musim ini.
Hasil gambar untuk eric bailly manchester united
Chris Smailing dipastikan kini mendapat pasangan yang tepat di jantung pertahanan setelah musim lalu terus berganti pasangan dengan Daley Blind dan Marcos Rojo.
Jangan lupakan, keberhasilan MU menguasai Liga Inggris biasanya selalu ditandai dengan keberadaan duet tangguh di lini pertahanan seperti pada era Jaap Stamp – Ferdinand atau Nemanja Vidic – Ferdinand.
Terakhir dan ini yang paling menguras perhatian (sekaligus uang), Paul Pogba.
Kedatangan Paul Pogba kembali ke Old Trafford sebagai pemain termahal dunia membuat MU harus  memecahkan rekor transfer dunia untuk memulangkannya.
Harga yang selangit dipertanyakan tetapi sejatinya pemuda berusia 23 tahun ini sudah sangat siap untuk beraksi kembali dengan seragam MU setelah tidak banyak mendapat kesempatan di kesan awalnya bersama MU dulu.
Gelar 4 Scudetto, 2 Coppa Italy dan trofi Piala Dunia U 20 adalah bekal Pogba untuk kembali ke MU.
Pogba adalah kepingan yang dibutuhkan Mourinho di lini tengah MU.
“Dia bisa bermain menyerang seperti Scholes dan memegang lini tengah seperti Gerrard” Mourinho menggambarkan sosok sekaligus gambaran rencananya untuk Pogba di lini tengah MU.

Dengan empat kepingan puzzle pemain baru yang sudah didatangkan, MU pantas berharap banyak di musim perdana mereka bersama Mourinho.
Meski rival mereka juga terus berbenah tetapi sejatinya MU adalah tim yang paling siap, setidaknya dalam penilaian awal musim ini.
Man City memang berhasil mendatangkan John Stones dan Nolito tetapi sosok Pep Guardiola adalah pendatang baru di Liga Inggris yang tentu butuh adaptasi.
Hal yang sama berlaku juga untuk Chelsea bersama Conte.
Meski berhasil mendatangkan Kante di lini tengah, sejatinya Chelsea gagal mendapatkan buruan mereka Bonucci di lini belakang.
Conte juga punya tantangan sejarah yang sama dengan Guardiola sebagai pendatang baru di Liga Inggris.
Jangan lupakan bahwa dalam 10 musim terakhir hanya ada 2 manager yang baru merasakan Liga Inggris berhasil menjadi juara, sisanya dimenangkan mereka yang sudah mengenai atmosfer sepakbola di liga ini.
Adapun Arsenal  boleh jadi sudah mendatangkan Granit Xhaka untuk memperkuat lini tengah mereka, tetapi lini depan mereka belum mendapatkan suntikan tenaga baru untuk memback up Giroud yang angin-anginan.
Liverpool bersiap menjalani musim penuh perdana bersama Juergen Klopp.
Tetapi nyaris serupa dengan Arsenal, The Reds memang berhasil mendatangkan Wijnaldum dan Sadio Mane tetapi lubang di sector bek sayap kiri belum kunjung tertangani.
Rencana Klopp menempatkan James Milner yang sejatinya berposisi sebagai gelandang di posisi itu sudah memberikan gambaran bahwa tim ini belum sepenuhnya siap memasuki musim baru Liga Inggris.

Bagaimana dengan kontestan utama titel Liga Inggris musim lalu, Tottenham Hotpurs dan Leicester City?
Spurs mendatangkan top skor Liga Belanda Vincent Janssen untuk melengkapi top skor Liga Inggris musim lalu, Harry Kane.
Cukupkah itu?
Spurs memilki gambaran kesiapan yang sama seperti MU, menjaga pemain penting tidak pergi dan mendatangkan pemain yang diperlukan.
Lalu kenapa MU dipandang jauh lebih siap?
Karena MU punya pemain-pemain seperti Ibrahimovic, Pogba dan Rooney yang terbiasa menjadi juara dan tahu bagaimana caranya menjadi juara.
Mental juara itu yang tidak hadir di pekan-pekan terakhir Liga Inggris musim lalu dan membuat Spurs tidak kuasa menahan laju Leicester City.
Bicara soal Leicester City, jangan berharap keajaiban Cinderella punya sekuelnya.
Kepergian N’Golo Kante ke Chelsea sudah menghilangkan satu kunci utama keberhasilan mereka musim lalu di lini tengah.
Siapa yang bisa menjamin Ranieri akan menemukan pengganti yang sepadan?
Atau mampukah Riyad Mahrez mencegah dirinya mengikuti jejak Eden Hazard sebagai pemain kunci yang membawa Chelsea juara  Liga Inggris dan langsung anjok di musim berikutnya?
Sederhananya, kedalaman skuad Leicester tidak sebaik kontestan penantang juara Liga Inggris yang lain.
Tentu modal semangat bertarung tim tidak bisa selamanya dijadikan senjata utama untuk mengarungi salahsatu musim terberat Liga Inggris ini.
MU tidak mengalami “tetapi” yang dialami pesaing-pesaingnya.
Tidak ada kata tetapi dalam persiapan MU.
MU sudah sangat siap mengarungi musim Liga Inggris yang bertajuk “kejuaraan dunia bagi para Manager”.
Twitter @rizkimaheng





Jumat, 05 Agustus 2016

Kisah Tsubasa, Si Kancil Dan Pembinaan Usia Dini Sepakbola Indonesia

Hasil gambar untuk captain tsubasa road to 2002
Entah apakah perumpamaan ini benar adanya atau tidak, tetapi kisah Kapten Tsubasa dan Si Kancil memberikan gambaran perbedaan perkembangan sepakbola Indonesia dan Jepang.
Konon anak-anak kecil di Jepang sengaja dikenalkan dengan cerita dalam komik Kapten Tsubasa.
Kita semua tahu, kisah dalam komik itu mengumbar teknik-teknik sepakbola yang “super mengkhayal” dan bisa dipastikan tidak akan terjadi di dunia nyata.
Bahkan impian tokoh utamanya Kapten Tsubasa untuk memainkan pertandingan sepakbola di ajang Piala Dunia bersama Jepang pun terasa seperti impian sang pembuat komik.
Ya, impian yang dianggap mengada-ngada.

Sampai kemudian sejarah mencatat timnas Jepang merasakan pertandingan di ajang Piala Dunia untuk kali pertama saat perhelatan sepakbola terbesar di dunia itu berlangsung di Prancis tahun 1998.
Tentu tidak ada nama Kapten Tsubasa dalam timnas Jepang saat itu, tetapi siapa yang menyangkal jika para pemain Jepang saat itu juga adalah pembaca komik Kapten Tsubasa.
Hidestohi Nakata, salahsatu pemain Jepang yang terbilang sukses di Eropa bersama AS Roma mengakui bahwa dirinya membaca berkali-kali komik tersebut sampai menginspirasi permainannya.
Fakta bahwa Kapten Tsubasa digambarkan sebagai pemain yang berposisi gelandang menyerang tampaknya benar-benar menginspirasi sejumlah bintang sepakbola dunia yang berasal dari Jepang.
Sebutlah nama Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura, Shinji Kagawa, Shinji Ono dan Keisuke Honda.
Hasil gambar untuk shunsuke nakamura
Lihat kesamaan mereka?
Mereka semua berposisi sebagai gelandang menyerang alias sama dengan Kapten Tsubasa.
Jadi, jangan sepelekan bagaimana komik Kapten Tsubasa menginspirasi sepakbola Jepang sampai hari ini.
Tercatat sejak mentas pertama kali di Piala Dunia 1998, Jepang terus konsisten berada dalam daftar negara-negara terbaik yang mampu mengirimkan timnasnya tampil di panggung paling bergengsi dalam dunia sepakbola itu.

Lalu apa kaitannya dengan kisah Si Kancil yang akrab dengan cerita masa kanak-kanak anak Indonesia?
Mudah saja.
Kisah Si Kancil sekilas memang mengajarkan bahwa seseorang itu harus pintar dan cerdas dalam menghadapi masalah.
Persoalannya kisah Si Kancil disalahartikan dari menjadi pintar berubah menjadi “pintar-pintar” yang berkonotasi licik.
Belum ada penelitian resmi apakah kisah Si Kancil menanamkan memori untuk selalu mencari jalan keluar terbaik (meski harus berbohong) pada saat menghadapi situasi tertentu.
Jika kisah Kapten Tsubasa menginspirasi anak-anak Jepang menjadi orang-orang yang membanggakan negara lewat pencapaian kinerja di dunia sepakbola maka kisah Si Kancil (jika disalahartikan atau mungkin sudah disalahartikan) secara tidak langsung menginspirasi generasi koruptor yang memalukan negara.
Jika kita berbicara dalam ruang lingkup sepakbola, perbandingan sederhana ini mengingatkan kembali betapa pentingnya pembinaan usia dini.

Tentu sudah bukan rahasia umum ketika timnas U19 era Evan Dimas dkk meraih prestasi dan membanggakan bangsa ini, seturut itu pula banyak suara-suara di media social yang meminta anak-anak penuh bakat ini dijauhkan dari sepakbola dalam negeri yang dinilai tidak mampu jadi tempat berkembang yang baik bagi bibit-bibit unggul ini.
Cukuplah generasi Kurniawan Dwi Julianto mempesona tetapi tidak kunjung menghasilkan trofi juara.
Atau generasi Bambang Pamungkas hanya merasakan status nyaris juara di AFF Cup.
Ada pemahaman bersama bahwa anak-anak (atau kita sebut Remaja dalam kasus Evan Dimas) yang ditempa sejak dini untuk memahami nilai-nilai kejujuran, motivasi untuk berhasil, semangat berkompetisi punya peluang besar untuk menjadi bahan baku yang bagus untuk memgembangkan persepakbolaan Indonesia di masa datang.
Jepang sudah membuktikannya.
Komik Kapten Tsubasa jelas hanya potongan puzzle kecil dari sekian puzzle yang dibutuhkan untuk merealisasikan gambaran sepakbola yang membanggakan bangsa.
Jepang memiliki potongan puzzle lain bernama program pembinaan usia dini, kompetisi yang sehat, perangkat pertandingan yang berkualitas sampai pada pengelolaan klub dan supporter yang professional.
Indonesia jelas sangat mungkin meniru langkah Jepang.
Toh, Jepang pun belajar merumuskan kompetisi sepakbola dari Galatama (Liga Sepakbola Utama) milik Indonesia.
Atau mungkin Indonesia harus belajar menciptakan komik fenomenal sekelas Kapten Tsubasa?