Minggu, 07 Februari 2016

Jangan Terburu-Buru Menjagokan Leicester City Juara Liga Inggris

Hasil gambar untuk leicester city football club
Apakah masih ada yang meragukan kepantasan Leicester City untuk menjuarai Liga Inggris musim ini?
Jamie Vardy dkk secara meyakinkan melewati dua laga berat secara beruntun.
Liverpool dan Machester City adalah dua klub elit yang dihadapi Leicester pada awal Februari.
Pertemuan terakhir Leicester dengan dua klub ini pun terbilang ketat bahkan berakhir dengan tidak mengenakkan bagi anak asuh Claudio Ranieri tersebut.
Liverpool adalah satu dari dua klub yang sejauh ini mampu mengalahkan Leicester selain Arsenal di musim ini.
Bertandang ke Anfield pada 26 Desember 2015 dalam laga boxing day, Leicester takluk 0-1.
Pun demikian halnya dengan Machester City.
Salahsatu kandidat juara ini tidak mampu dikalahkan Leicester pada laga akhir tahun 30 Desember 2015 meski  laga dilangsungkan di kandang The Foxes.
Dua hasil tidak meyakinkan melawan Liverpool dan City pada periode padat pergantian tahun lalu menjadi alasan Leicester digeser Arsenal dari posisi puncak klasemen dan gagal menjadi juara paruh musim.
Nah, dengan kondisi pertemuan terakhir seperti itu, wajar jika kemudian laga melawan Liverpool dan City pada awal Februari ini menjadi sangat krusial bagi Leicester.

Fakta kemudian tersaji ketika Jamie Vardy dkk melalui dua laga berat itu dengan sukses.
Diawali pada 2 Februari 2016 saat Liverpool yang bertandang ke kandang Leicester ditaklukkan dengan skor telak 2-0.
Pelatih timnas Inggris, Roy Hodgson menyaksikan langsung ketajaman Jamie Vardy mencetak dua gol kemenangan.
Salahsatu golnya bahkan bisa dikategorikan sebagai gol terbaik Liga Inggris musim ini.
Sebuah gol spektakuler saat Vardy menerima umpan panjang dari belakang dan tanpa membiarkan bola menyentuh tanah langsung dihajar dengan sepakan keras dari luar kotak penalti yang membuat  bola melengkung indah masuk ke gawang Simon Mignolet.
Hasil gambar untuk jamie vardy
Saking spektakulernya, Juergen Klopp bahkan mengakui dirinya hampir saja ikut merayakan gol tersebut.
Lepas dari Liverpool, The Foxes langsung dihadapkan dengan laga berat lainnya melawan Manchester City pada 6 Februari 2016 atau hanya berselang empat hari.
Makin berat karena laga dilangsungkan di Etihad Stadium kandang City.
Alih-alih mendapatkan hasil tidak maksimal, Leicester bahkan dianggap mengirim sinyal kuat kepantasan mereka menjadi juara usai menaklukkan Sergio Aguero dkk dengan skor telak 3-1.
Mengalahkan tim sekuat Manchester City di kandangnya dalam sebuah laga yang sarat tekanan karena status keduanya sebagai penghuni papan atas klasemen tentu menjadi catatan khusus bagi Leicester.
Leicester kini nyaman berada di puncak klasemen dengan poin 53 dan berselisih 5 angka dari Spurs dan Arsenal di posisi dua dan tiga.
Dengan Liga Inggris sudah masuk ke bulan Februari, pekan-pekan terakhir di liga sepakbola paling popular ini sudah didepan mata.
Apakah Jamie Vardy dkk mampu mengulangi sensasi yang ditorehkan Blackburn Rovers saat menjuarai Liga Inggris musim 1994/1995?
Kemenangan meyakinkan Leicester atas Liverpool dan Manchester City dalam dua laga krusial beruntun dianggap semakin menguatkan sinyal kepantasan Leicester menjadi juara Liga Inggris musim ini.
Tetapi benarkah dua kemenangan special itu menjadi garansi Leicester ke tangga juara?

Mengalahkan Liverpool saat ini sesungguhnya bukan lagi sesuatu yang istimewa.
Penampilan The Reds bersama Juergen Klopp bisa dikatakan belum meyakinkan.
Meski berhasil melaju ke final Piala Liga Inggris usai bersusah payah menempuh babak adu penalty saat menyingkirkan Stoke City, Liverpool bersama Klopp tidak terlalu menggembirakan jika berlaga di Liga Inggris.
Setelah ditahan tim calon degradasi Sunderland 2-2 pada 6 Februari 2016, praktis Liverpool baru sekali merasakan kemenangan dalam 6 laga terakhirnya di Liga Inggris.
Terasa menyepelekan kemenangan Leicester atas Liverpool?
Tidak juga.
Tetapi jika Sunderland saja mampu menahan Liverpool di Anfield, tentu bukan hal yang mengejutkan jika Leicester City mampu menaklukkan The Reds dihadapan fans The Foxes.
Jangan lupakan pula bagaimana klub petarung degradasi lain seperti Newcastle United mampu mengalahkan Liverpool 2-0.
Bahkan sebelumnya klub sekelas Watford bisa-bisanya menang telak 3-0 atas Liverpool.
Jadi rasanya terlalu dini mengkaitkan kemenangan Leicester atas Liverpool sebagai dasar kepantasan mereka sebagai kandidat terdepan juara Liga Inggris musim ini.
Lalu bagaimana dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Manchester City di Etihad Stadium?
Simak komentar Pellegrini usai City dihajar Leicester dihadapan pendukung The Citizen.
Hasil gambar untuk manuel pellegrini
“ akan mudah untuk mengatakan Ya (penunjukan Pep mempengaruhi pemain) tetapi itu tidaklah benar”
Pellegrini menolak bahwa penunjukan Pep Guardiola mempengaruhi performa pemain.
Faktanya pada laga pertama usai penunjukkan Pep Guardiola, Manchester City takluk dikandang sendiri dalam laga krusial melawan Leicester City.
City yang sudah berada di final Piala Liga Inggris, masih bertarung untuk titel juara Liga Inggris, masih bertahan di FA Cup dan sudah masuk ke fase gugur Liga Champions sepertinya tidak tahu bagaimana menjaga motivasi pemain yang tengah berjuang.
Pengumuman penunjukan Pep Guardiola sebagai pengganti Pellegrini musim depan disampaikan hanya beberapa hari jelang laga melawan krusial melawan Leicester City.
Tidak heran jika kekalahan telak dikandang sendiri dari Leicester dipandang sebagai akibat pengumuman penunjukan Pep sebagai pengganti Pellegrini.
Bisakah anda membayangkan perasaan Yaya Toure yang selama ditangani Pellegrini menjadi andalan di lini tengah akan bertemu kembali dengan Pep Guardiola sosok yang membuangnya dari Barcelona?
Ya, Pep Guardiola dulu lebih memilih Sergio Busquet ketimbang Yaya Toure.
Wajar jika jenderal lapangan tengah City itu memikirkan opsi yang tersedia baginya jika Pep mulai melatih City musim depan.
Singkat kata, penunjukan Pep sudah mempengaruhi performa salahsatu dinamo lini tengah City yang kerap tampil sebagai pemain kunci.
Arsene Wenger sendiri mengiyakan kemungkinan penunjukan Pep mempengaruhi performa pemain-pemain City.
“Yang pasti, efeknya tidak akan netral”
Jadi, kemenangan krusial Leicester atas Manchester City di Etihad Stadium bisa saja dikaitkan sebagai sinyal kuat kepantasan Jamie Vardy dkk sebagai juara Liga Inggris musim ini.
Tetapi sesungguhnya ada sinyal lain yang lebih kuat yaitu sinyal bahwa penunjukan Pep berpotensi mempengaruhi perfoma pemain-pemain City.
Leicester City mungkin saja mendapati hasil yang berbeda jika laga melawan City di Etihad Stadium tidak diiringi berita penunjukan Pep sebagai pengganti Pellegrini.
Dalam laga yang dimenangi Leicester itu pun, City sesungguhnya mendominasi permainan dengan penguasaan bola sebesar 66 persen.
Tembakan yang dihasilkan anak asuh Pellegrini bahkan lebih banyak daripada anak asuh Ranieri.
Keunggulan statistik ini tampaknya menjadi tidak berarti kala persoalan non teknis seputar pergantian pelatih musim depan berada di pikiran pemain-pemain City.
Well, Leicester saat ini memang menduduki puncak klasemen dengan keungggulan 5 poin dan Liga Inggris sebentar lagi memasuki pekan-pekan terakhir.
Tetapi segala sesuatu masih sangat mungkin terjadi.
Jangan lupakan bahwa sejak Manchester City merebut titel juara Liga Inggris musim 2011/2012 secara dramatis bersama Roberto Mancini, liga sepakbola paling popular ini kerap dimenangkan secara dramatis dan mengejutkan.
Kejadian Steven Gerrard terpeleset saat Liverpool ditaklukkan Chelsea dan kemudian disalip Manchester City dipekan-pekan terakhir musim 2013/2014 tentu masih hangat dalam ingatan kita bukan?