Senin, 13 Maret 2017

Arsene Wenger Dan Single Terakhir Westlife

Bagi anda yang tumbuh remaja dan dewasa di era kejayaan boyband pada akhir 90-an dan awal 2000-an tentu tidak akan melewatkan satu boyband fenomenal asal Irlandia bernama Westlife.
Boyband yang dirancang menggantikan posisi seniornya Boyzone yang vakum ini malah mencetak prestasi melebihi pendahulunya.
Berkiprah sejak 1998 sampai kemudian memutuskan bubar pada 2012, boyband bentukan Louis Walsh ini berhasil mencetak 26 single top ten di Chart UK dimana 14 diantaranya menduduki puncak Chart UK.
Pencapaian yang bahkan tidak bisa disamai oleh Boyzone (hanya 18 single top ten di Chart UK dimana cuma 6 yang memuncaki Chart UK).
Westlife sering dipandang sebagai puncak dari masa jaya boyband dengan kehadirannya yang menjadi fenomena dunia.
Keberhasilan mereka menempatkan 7 single perdana secara beruntun di puncak Chart UK menyandingkan nama Shane Filan, Mark Feehily, Nick Bryne, Bryan McFadden dan Kian Egan dengan The Beatles, grup band legendaris dari Liverpool.
Tidak hanya itu, dalam sebuah polling di MTV pada tahun 2012 untuk memilih boyband terbaik sepanjang masa, Westlife mendapat polling tertinggi menyingkirkan boyband fenomenal lain sekelas Backstreet Boys dan One Direction.
Namun diluar catatan fantastis tersebut, siapa sangka Westlife tidak pernah sanggup menembus pasar Amerika Serikat, pusat musik dunia yang seringkali dianggap sebagai barometer kesuksesan musisi dunia.

Shane Filan dkk boleh menjadi idola dunia di puncak kejayaannya tetapi popularitas mereka tidak berlanjut di negeri Paman Sam meski single Flying Without Wings mereka sempat dinyanyikan pemenang American Idol Ruben Studdard.
Prestasi Westlife bahkan tidak lantas membaik untuk bersaing dengan N’Sync dan Backstreet Boys di USA meski sudah “mendompleng” lewat aksi duet dengan Mariah Carey dan Diana Ross, dua Diva yang punya nama besar disana.
Dan yang lebih mengenaskan adalah saat Westlife memutuskan bubar pada 2012 seturut dengan kemunculan album terakhir mereka bertajuk Greatest Hits.
Single dari album tersebut yang berjudul “Lighthouse” gagal memuncaki Chart UK padahal single pertama dari album-album Westlife biasanya rutin “nangkring” minimal di posisi 10 besar Chart UK.
Single Lighthouse langsung terjun bebas di posisi 32 dan menjadi single Westlife dengan pencapaian paling buruk sepanjang karir boyband yang pernah 3 kali mengadakan konser di Jakarta itu.
Ironis jika menimbang bahwa ini adalah single dan album terakhir boyband fenomenal tersebut maka seharusnya bukan hal yang sulit untuk meraih single nomor 1 untuk terakhir kalinya sebelum bubar.
Namun, dunia musik masa kini tidak mengenal kata nostalgia untuk menghargai sebuah boyband fenomenal yang akan mengakhiri “masa kerjanya” di dunia hiburan.
Telinga-telinga penikmat musik era modern tidak mengijinkan Westlife pamit dengan kepala tegak lewat pencapaian single yang membanggakan.
Pencapaian Westlife selama 14 tahun karir luar biasa mereka seakan tidak berbekas di single terakhir tersebut.
Single lanjutan dari album Greatest Hits berjudul “Beautiful World” bahkan tidak masuk Chart UK sama sekali.
“Tidak ada yang harus kami buktikan lagi di Chart UK dengan 14 single nomor 1 yang sudah kami raih, jangan lupa bahwa terakhir kali kami meraih puncak Chart UK adalah pada tahun 2006 atau sekitar 6 tahun lalu” kata Nicky Bryne soal performa single Westlife di Chart UK yang sudah tidak segarang saat pertama kali muncul tahun 1998.

Meraih sejumlah prestasi membanggakan bahkan fenomenal namun gagal menaklukkan USA serta mengakhiri karir dengan single yang tidak menjual mengingatkan kita akan kisah Arsene Wenger, arsitek Arsenal asal Prancis.
Pria berusia 67 tahun ini menangani Meriam London sejak 1996 alias hampir 21 tahun yang lalu.
Wenger menjadi satu dari sedikit saja manager yang mampu bertahan lama di sebuah klub bersama Sir Alex Ferguson di Manchester United.
Tentu bukan tanpa alasan yang kuat mempertahankan seseorang begitu lama di posisi manager.
Arsenal bersama Wenger menjelma menjadi tim penantang serius gelar juara di Liga Inggris setiap musim.
Bersama Wenger pula, Arsenal konsisten tampil di kompetisi tertinggi antar klub Eropa, Liga Champions.
Arsenal meraih total 3 titel juara Liga Inggris dan 6 FA Cup bersama mantan pelatih AS Monaco dan Nagoya Grampus ini.
Salahsatu pencapaian fenomenal Wenger bersama Arsenal yang akan selalu tercatat dalam sejarah adalah kala Arsenal meraih gelar juara Liga Inggris musim 2003/2004 tanpa pernah mengalami kekalahan.
Pencapaian itu lantas memunculkan julukan The Invicibles Team bagi Arsenal besutan Wenger yang saat itu diperkuat nama-nama bintang sekelas Thierry Henry, Patrick Vieira, Robert Pires, Dennis Bergkamp dan Sol Campbell.
Arsene Wenger bisa dipastikan adalah salahsatu bahkan merupakan manager tersukses sepanjang sejarah Arsenal.
Pencapaiannya bersama Arsenal sampai menempatkan pria berusia 67  tahun ini kedalam English Football Hall of Fame pada tahun 2006.

Meski demikian, pencapaian fantastis Wenger bersama The Gunners di tanah Inggris tidak berlanjut di ranah Eropa.
Prestasi terbaik Arsene Wenger bersama Arsenal di kompetisi Liga Champions adalah saat Thierry Henry dkk mentas di partai puncak melawan Barcelona yang saat itu diperkuat mega bintang asal Brazil, Ronaldinho.
Pada partai final tahun 2006 tersebut, Wenger harus menyaksikan anak asuhnya takluk 1-2 sekaligus memupus harapannya meraih gelar Liga Champions perdana bagi Meriam London.
Kegagalan di partai final Liga Champions itu juga sekaligus menjadi awal penurunan kinerja Wenger bersama Arsenal.
Raihan FA Cup 2005 menjadi titel juara terakhir yang dapat dipersembahkan Wenger sebelum 9 tahun kemudian dalam dua musim beruntun Arsenal akhirnya mengangkat trofi juara FA musim 2013/2014 dan 2014/2015.
Kesempatan terbaik untuk meraih gelar juara Liga Inggris yang sudah 12 tahun lebih tidak mampir di kandang The Gunners gagal dimanfaatkan Wenger musim lalu saat klub-klub elit seperti Chelsea, MU dan Man City sedang tidak stabil.
Leicester City yang biasanya selalu kalah dari Arsenal bisa-bisanya menyodok bersaing bersama Tottenham Hotspurs dan muncul sebagai juara Liga Inggris.

Kisah Wenger yang kontraknya di Arsenal akan selesai akhir musim ini seperti meniru kisah akhir karir Westlife.
Kekalahan telak 1-5 dari Bayern Muenchen di ajang Liga Champions membuat Arsenal selalu mentok di fase 16 besar ajang itu selama beberapa tahun terakhir.
Kekalahan itu membuat suara-suara yang menuntut Wenger tidak memperpanjang kontrak bersama Arsenal semakin nyaring terdengar.
Sosok yang membentuk Arsenal sebagai tim tangguh di era Premier League sudah tidak ada artinya lagi. Bahkan kenangan akan The Invicibles Team pun hanya tinggal catatan sejarah yang hanya untuk dikenang saja.
Persis seperti lirik lagu Westlife berjudul “Last Mile Of The Way”

“Like day turns to night
Stone turns to dust
Like life becomes memories”

Sama halnya dengan kisah single terakhir Westlife yang terjun bebas di posisi 32 Chart UK.
Tidak ada sisa-sisa kejayaan boyband fenomenal asal Irlandia pada single terakhir itu.
Pada saat seperti itu, keputusan Westlife membubarkan diri mungkin sudah tepat karena mereka mengakhiri karir saat panggung belum benar-benar dirubuhkan.
Wenger sepertinya menatap musim ini sebagai musim terakhirnya di Arsenal.
Jika skuad terbaik Arsenal versi Wenger yang berisikan Alexis Sanchez, Mesut Oezil dan The Walcott sekalipun tidak mampu berbicara banyak maka kemungkinan kekurangan puzzle kejayaan itu ada pada posisi manager yang menangani tim.
Faktanya, sudah 12 tahun lebih The Gunners tidak mencicipi gelar juara Liga Inggris lagi.
Wajah baru di ruang ganti Meriam London tampaknya adalah sesuatu yang diperlukan fans Arsenal.
Seperti halnya wajah fresh One Direction menggantikan wajah-wajah lama personil Westlife di alam pikiran pencinta boyband.


Minggu, 05 Maret 2017

Ronald Koeman Paling Pantas Gantikan Luis Enrique Di Barcelona

Hasil gambar untuk ronald koeman barcelona
Photo by The Sun
Terjawab sudah teka-teki seputar masa depan Luis Enrique di Barcelona.
Manager yang memberikan treble winner La Liga, Copa Del Rey dan Liga Champions di musim perdananya bersama Barcelona ini mengumumkan keputusannya untuk berhenti menangani Messi dkk per akhir musim ini.
Keputusan yang terbilang mengejutkan karena meski Barcelona menjalani Liga Champions musim 2016/2017 tidak mulus tetapi performa Barca di La Liga dan Copa Del Rey masih menjanjikan raihan trofi juara.
Bagaimanapun juga profil Enrique masih dianggap pantas menangani deretan bintang Barcelona sehingga keputusan pengunduran dirinya ini lantas memunculkan tanya tentang siapa pengganti yang pantas untuk menduduki posisi yang ditinggalkannya.

Dalam 10 tahun terakhir Barcelona sendiri sudah dua kali mengalami momen pergantian sosok krusial di kursi manager saat Frank Riijkard dan Pep Guardiola, dua sosok yang memegang peran penting atas kejayaan Barca sejak 2006 hengkang.
Dimulai ketika Barcelona era Rijkaard tahun 2003 – 2008 berakhir, Barcelona saat itu dihadapkan pada dua pilihan antara Jose Mourinho atau Pep Guardiola.
Dua sosok yang tidak asing bagi warga Catalan karena pernah bekerja bersama di Barcelona sebagai pemain dan Asisten Pelatih.
Manajemen Barca saat itu akhirnya memilih Pep Guardiola, sosok yang juga memiliki riwayat sebagai pelatih tim junior Barca.
Keputusan yang tepat karena Pep kemudian menjelma menjadi salahsatu manager terbaik Barca bahkan mungkin yang terbaik sepanjang sejarah klub Catalan itu.
Selama periode 2008 – 2012 menangani Barca, Pep memberikan 3 gelar La Liga dan masing-masing 2 trofi Liga Champions, Copa Del Rey, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antara Klub.
Maka ketika Pep memutuskan berhenti dari posisi Manager Barca, klub tersebut mencegah perubahan yang terlalu drastis dengan meneruskan tongkat estafet kepelatihan pada asisten Pep, Tito Vilanova.
Meski kemudian hanya bertahan selama setahun karena meninggal akibat penyakit kanker, Tito masih sempat menghadiahkan trofi juara La Liga bagi Barcelona di akhir musim 2012/2013.
Pengganti Tito adalah seorang Argentina, Gerardo Tata Martino.
Berharap koneksi Argentina dengan sang mega bintang Lionel Messi akan membawa klub pada performa terbaik ternyata tidak berjalan sesuai harapan.
Gerardo Tata Martino “hanya” memenangkan titel Piala Super Spanyol yang jelas gengsinya tidak sebanding dengan pendahulu-pendahulunya.
Sampai kemudian mantan bintang Barcelona Luis Enrique hadir di ruang ganti Barca dan memberikan kembali kejayaan Barca seperti era Pep Guardiola.

Kisah kursi kepelatihan Barcelona sesungguhnya dapat menjadi petunjuk mengenai sosok seperti apa yang pantas menggantikan Enrique.
Bukan cuma itu, riwayat sejarah kepelatihan di Barca terutama sejak era Johan Cruyff dan semakin menguat dalam 10 tahun terakhir menunjukkan kriteria utama untuk orang yang akan menduduki kursi pelatih Barcelona.
Kriteria yang dimaksud adalah orang Belanda dan atau mantan pemain bintang Barcelona.
Dua kriteria ini berada pada mereka yang sukses menghadirkan cerita sukses kala menangani Barcelona.
Tanpa mengesampingkan pencapaian Bobby Robson, Pria Inggris yang menghadirkan Cup Treble Copa Del Rey, Super Copa dan Winner Cup, kinerja manager asal Belanda dan atau mantan pemain bintang Barcelona sejak era Cruyff terbilang memuaskan.
Tercatat beberapa manager pada kriteria tersebut yang sudah sukses menghadirkan senyum bagi fans Barca.
Pertama dan utama tentu adalah Johan Cruyff.
Hasil gambar untuk johan cruyff
Cruyff adalah sosok yang secara sempurna mewakili dua kriteria utama untuk menjadi manager Barcelona.
Dirinya adalah mantan bintang Barcelona dan berasal dari Belanda.
Bukti tersaji kala mantan pemain Ajax ini tidak hanya sukses sebagai Manager yang menangani Barca tetapi berhasil mewariskan gaya permainan Tiki Taka yang lantas menjadi identitas Barcelona sebagai gaya permainan tim tersebut.
Pria asal Belanda lainnya yang sukses di Barcelona adalah Louis Van Gaal dan Frank Rijkaard.
Van Gaal sukses memberikan double winner trofi Copa Del Rey dan titel La Liga 1998 serta berlanjut dengan keberhasilan mempertahankan titel La Liga musim selanjutnya.
Frank Rijkaard sukses menghadirkan 2 gelar La Liga dan 1 trofi Liga Champions.
Tim Rijkaard sendiri disebut-sebut sebagai pondasi awal The Dream Team Pep Guardiola dan Barca sampai saat ini.
Pada era Rijkaard inilah beberapa pemain muda yang menjadi tulang punggung Barcelona selama satu decade bermunculan.
Tercatat nama Andres Iniesta, Victor Valdes, Xavi dan Lionel Messi mulai mendapat tempat dalam tim bersama bintang-bintang lain seperti Deco, Samuel Eto’o dan mega bintang Brazil Ronaldinho.

Kisah sukses manager Barca asal Belanda sama manisnya dengan kisah sukses mereka yang bukan berasal dari Belanda namun pernah berstatus bintang Barcelona.
Salahsatunya adalah murid terbaik Johan Cruyff, Pep Guardiola.
Pep bahkan mematangkan Tiki Taka dan meraih kesuksesan yang melebih kinerja sang mentor.
Perbandingan kinerja Tito Vilanova dan Gerardo Tata Martino sebagai dua manager sesudah Pep dengan kinerja Luis Enrique yang juga bertatus mantan bintang Barcelona seperti halnya Pep semakin menguatkan teori bahwa mantan bintang Barcelona “berjodoh” untuk kursi kepelatihan Barca.
Pencapaian Luis Enrique jauh melampaui Tito dan Martino.
Enrique bahkan bisa disejajarkan namanya sebagai salahsatu manager terbaik Barca sepanjang masa bersama Cruyff dan Pep Guardiola.
Dengan merujuk pada dua kriteria tersebut, saat ini hanya sedikit tersedia manager yang memenuhi kriteria Manager asal Belanda dan atau mantan bintang Barcelona.
Beberapa nama yang santer diisukan akan menangani Barcelona tidak memenuhi dua atau salahsatu kriteria yang dimaksud.
Sebut saja Mauricio Pochettino.
Pria asal Argentina dan mantan pemain Espanyol ini sama sekali tidak memenuhi kriteria meski kinerjanya di Tottenham Hostpurs menggoda petinggi Barcelona.
Kandidat lain yang santer diisukan adalah Jorge Sampaoli.
Sama-sama berasal dari Argentina dengan Pochettino, arsitek Sevilla yang sukses membawa timnas Cile juara Copa America 2015 ini juga tidak memenuhi kriteria.
Bukankah teori arsitek asal Argentina akan cocok dengan mega bintang Lionel Messi sudah gagal seturut buruknya kinerja Gerardo Tata Martino?

Di luar dua nama asal Argentina itu, sesungguhnya terdapat dua mantan pemain Barcelona yang juga diisukan sebagai arsitek Barca.
Dua nama itu adalah Ernesto Valverde dan Eusebio Sacristan.
Valverde yang bersama Athletic Bilbao menaklukkan Barca-nya Enrique dengan aggregate 5-1 dalam ajang Piala Super Spanyol awal musim ini memiliki kans sama kuatnya dengan Sacristan yang menyabet perhargaan La Liga Manager of The Month pada Februari dan November 2016 bersama Real Sociedad.
Sociedad sendiri kini dibawanya menjadi salahsatu tim pemburu tiket Liga Champions musim depan.
Kisah Sacristan menggantikan Enrique di kursi arsitek Barcelona B kala Enrique ke AS Roma bisa saja berulang di tim senior.
Sayangnya, meski Valverde dan Sacristan merupakan mantan pemain Barcelona, keduanya tidak bisa dikatakan sebagai bintang Barcelona.
Pernahkah anda mendengar sepak terjang Valverde sebagai striker Barca era 1988 – 1990?
Atau meski masuk dalam tim juaranya Johan Cruyff, pernahkah anda mengingat kontribusi hebat Sacristan era 1988 – 1995?
Di masa itu, mungkin nama Ronald Koeman yang masih teringat aksinya sampai saat ini.

Yap, inilah pria yang memenuhi dua kriteria sebagai pelatih yang pantas menjadi arsitek Barcelona.
Ronald Koeman adalah manager asal Belanda berstatus mantan bintang Barcelona era Johan Cruyff.
Status kebintangannya tidak kalah dengan Pep Guardiola.
Gol tunggalnya dalam final Piala Champions 1992 yang menundukkan Sampdoria tentu masih jadi kenangan manis bagi fans Barca jika menyebut nama arsitek Everton ini.
Hasil gambar untuk ronald koeman barcelona
Photo by The Sun
Tangan dingin Ronald Koeman sebagai manager sudah membuahkan trofi juara Liga Belanda bagi Ajax dan PSV.
Saat berkiprah di La Liga, Koeman cukup sukses dengan raihan trofi Copa Del Rey bersama Valencia.
Keberhasilannya menjadikan Everton sebagai salahsatu kuda hitam di kompetisi yang sangat ketat persaingannya seperti Liga Inggris, menunjukkan bahwa pria asal Belanda ini sudah sangat siap untuk naik level menduduki posisi arsitek Barcelona.
Lupakan Arsene Wenger yang kerap dikait-kaitkan dengan Barcelona berkat gaya permainan possession football Arsenal yang mirip Tiki Taka.
Wenger sudah paceklik gelar sejak 2005 bersama Arsenal dan kerap mentok di fase 16 besar Liga Champions.
Dua gelar FA Cup dalam dua musim terakhir tidak membuktikan kepantasannya menduduki posisi arsitek salahsatu tim besar di Spanyol dan dunia.
Jika teori sukses arsitek tim Barcelona adalah memenuhi dua atau salahsatu kriteria sebagai manager asal Belanda dan atau berstatus mantan bintang Barcelona seperti halnya Johan Cruyff, Louis Van Gaal, Frank Rijkaard, Pep Guardiola dan Luis Enrique, maka Ronald Koeman adalah pilihan terbaik untuk itu.
Koeman bahkan memenuhi dua kriteria tersebut seperti halnya Johan Cruyff.
Kriteria berasal dari Belanda dan mantan bintang Barcelona tampaknya berjodoh dengan posisi arsitek Barcelona karena klub ini memiliki identitas permainan Tiki Taka yang pada dasarnya adalah pengembangan dari Total Football Belanda.
Keberadaan manager dari Belanda memudahkan penerapan gaya bermain tersebut seperti yang sudah diperlihatkan Louis Van Gaal dan Frank Rijkaard yang meneruskan kisah manager asal Belanda di Barcelona setelah era Johan Cruyff.
Adapun kriteria mantan bintang Barcelona membantu mereka mendapatkan respek dari pemain-pemain Barcelona karena menyadari bahwa sang Manager adalah orang yang pernah berjasa bagi klub dan mungkin juga pernah menjadi pujaan mereka.
Bayangkan respek seorang Messi pada Pep Guardiola, legenda lini tengah Barcelona yang jadi bagian dari The Dream Team Cruyff.
Atau bagaimana Neymar menaruh hormat pada Luis Enrique sebagai mantan kapten Barcelona di masa lampau.
Ronald Koeman memiliki dua kriteria itu dengan porsi yang sangat pas.
Koeman adalah manager asal Belanda yang pernah mendapat penghargaan Rinus Michell Awards sebagai pengakuan dirinya sebagai salahsatu manager terbaik dari negeri kincir angin Belanda.
Dirinya juga adalah seorang pahlawan bagi fans Barca dengan memori tendangan geledek yang memenangkan Piala Champions pertama klub Catalan itu.
Dengan catatan itu, Koeman menjadi sosok yang memenuhi sekaligus dua kriteria sebagai arsitek Barcelona.

Tanda-tanda Koeman yang akan menggantikan Luis Enrique?

Minggu, 26 Februari 2017

Maaf Ranieri, Bisnis Lebih Penting

Hasil gambar untuk claudio ranieri leicester city sacked
Photo by The Telegraph

“ Tidak akan ada air mata jika Leicester nanti terdegradasi. Mereka adalah tim kedua bagi semua orang tapi sekarang tidak lagi dengan pemecatan Ranieri ini”
Pendapat Jamie Carragher, bek legendaris Liverpool ini rasanya mewakili perasaan banyak orang saat membaca berita pemecatan Claudio Ranieri sebagai arsitek Leicester City.
Ya, seburuk-buruknya performa Leicester musim ini, pemecatan Ranieri tetap saja dianggap sebagai tindakan tidak pantas bila mengingat jasa-jasa manager asal Italia itu pada Leicester City.
Datang ke King Stadium, kandang Leicester pada awal musim 2015/2016, The Foxes yang musim sebelumnya hanya bertarung menghindari degradasi berubah status menjadi tim pemburu gelar juara Premier League Inggris.
Kisah Cinderella Ranieri bersama Leicester dalam memburu titel juara Liga Inggris pertama dalam sejarah klub tersebut sontak menjadi perhatian publik penggemar sepakbola dunia.
Saking besarnya atensi pada kejutan Leicester, Mauricio Pochettino, Manager Spurs yang menjadi rival Leicester dalam perebutan titel juara sampai memandang bahwa semua klub dan penggemarnya bersatu padu mendukung Leicester dan berharap Spurs gagal menghadang The Foxes mewujudkan kisah paling hebat dalam sejarah sepakbola Inggris bahkan mungkin dunia di era sepakbola tahun 2000-an.
Publik menyukai kisah-kisah nan dramatis layaknya kisah Cinderella yang mengangkat kisah seorang wanita biasa menjelma menjadi putri kerajaan saat dipersunting sang Pangeran.
Benar saja, Spurs pada akhirnya gagal menahan laju Leicester merengkuh trofi juara Premier League Inggris.
Ranieri mengantar Leicester menjadi juara Liga Inggris kali pertama dalam sejarah klub tersebut.

Euforia dan romantisme langsung menyeruak.
Ranieri yang akhirnya memenangkan juara liga domestic pertamanya bersama sebuah klub mengikrarkan cinta sejatinya pada Leicester dan mempertimbangkan untuk mengakhiri karir kepelatihannya di klub tersebut.
Setali tiga uang, manajemen klub pun menyatakan siap untuk memperpanjang masa bakti pria Italia itu di King Stadium.
Kepergian N’ Golo Kante , gelandang andalan mereka ke Chelsea tidak sampai menciptakan bedol desa karena beberapa pemain kunci tetap bertahan untuk merajut kisah manis lain bersama Ranieri.
Jamie Vardy, Riyad Mahrez, Wes Morgan dan Kasper Schemeichel memilih tetap berada di kubu The Foxes.
Musim baru dimulai dengan konfirmasi target Ranieri untuk setidaknya membawa Leicester berada di zona Eropa atau paling buruk berada dalam 10 besar klasemen.
Meski bertatus juara bertahan, Ranieri cukup realistis bahwa pada musim yang baru klub-klub lawan akan lebih mewaspadai anak asuhnya sehingga perjalanan fantastis musim 2015/2016 sangat sulit untuk diulangi.
Ranieri dan tim sesungguhnya sudah memulai musim 2016/2017 dengan cara pandang yang tepat yaitu tidak jumawa sekaligus bisa mengukur diri terhadap potensi pencapaian di akhir musim.
Namun kenyataan kemudian tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Leicester memang mendapati musim berjalan lebih berat sesuai prediksi mereka namun tentu berada di posisi 17 alias menjadi calon klub yang terdegradasi saat musim sudah memasuki akhir Februari tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Posisi 10 besar yang jadi target Ranieri jauh panggang dari api.
Berbagai macam formasi mulai dari 4-4-2 yang jadi andalan musim lalu sampai 4-2-3-1 dan 4-3-1-2 dijajal pria berjuluk The Tinkerman ini.
Apa daya, Leicester tidak pernah sanggup mengulang performa menakjubkan musim sebelumnya.
Leicester terpuruk dan Ranieri menjadi korban dengan keputusan pemecatan.
Keputusan yang lantas mengundang reaksi dari dunia sepakbola dimana kebanyakan mengecam dan menyayangkan.

Ranieri memang bisa dianggap gagal mempertahankan performa bagus Leicester musim lalu dan jika terus dibiarkan berpotensi membawa The Foxes degradasi.

Hasil gambar untuk claudio ranieri leicester city sacked
Photo by Football Whispers

Kondisi degradasi inilah yang sangat ditakutkan manajemen Leicester.
Degradasi akan membawa nilai bisnis Leicester sebagai merk sebuah klub turun dan otomatis berpengaruh pada keuangan yang masuk.
Bagaimanapun klub kini sudah menjadi instrument bisnis dalam sepakbola modern dan untuk itu sebuah klub harus berada di sebuah etalase terbaik di tengah pasar.
Premier League sebagai liga domestic paling populer diseluruh dunia jelaslah merupakan etalase terbaik untuk memasarkan sebuah klub.
Atas dasar inilah romantisme kisah hebat yang ditorehkan Ranieri bersama Leicester musim lalu menjadi tidak berarti lagi.
Manajemen dihadapkan pada pilihan mempertahankan seseorang yang sudah berjasa teramat besar bagi sejarah klub ataukah mendahulukan pertimbangan bisnis untuk keberlangsungan klub itu sendiri?
Kita semua tahu bahwa manajemen Leicester memilih mengesampingkan sentimen pribadi.
“Ini menjadi keputusan paling sulit yang harus kami ambil sejak King Power mengambil alih Leicester City, tapi kami berkewajiban mengutamakan kepentingan jangka panjang klub diatas sentimen pribadi seberapa pun kuatnya” tegas Wakil Chairman Leicester, Aiyawatt Srivaddhanaprabha saat menyampaikan informasi pemecatan Ranieri.

Dari sisi bisnis, keputusan manajemen Leicester tidak bisa sepenuhnya disalahkan meski juga rasanya tetap patut dipertanyakan.
Ranieri sudah membuktikan dirinya mampu menghadirkan keajaiban dengan mengantar Jamie Vardy dkk menjuarai Liga Inggris musim lalu sehingga jika mau berandai-andai, pria Italia ini pun bisa saja menghadirkan keajaiban dengan meloloskan The Foxes dari jurang degradasi.
“Kalau kamu percaya satu hal, bekerja keraslah untuk mewujudkan hal itu” ucap Ranieri saat ditanya optimismenya terkait peluang Leicester bertahan di Premier League.
“Tidak ada yang membicarakan Cagliari di Serie A Italia saat kami selamat pada satu hari sebelum pertandingan terakhir musim 1990/1991” kenang Ranieri menguatkan optimismenya.
Ya, dengan jasa yang sedemikian besarnya, rasanya Ranieri pantas mendapatkan waktu lebih lama untuk berjuang mempertahankan Leicester di Premier League.
Bahkan jika kemudian harga yang harus dibayar dengan mempertahankan Ranieri adalah status Leicester benar-benar terdegradasi, publik masih akan menerimanya jika setelah itu Ranieri diberhentikan.
Hal ini diungkapkan oleh Tony Cottee, mantan pemain Leicester City.
“Ini seperti musim yang normal karena biasanya Leicester ada di papan bawah tidak jauh dari degradasi. Ranieri seharusnya diberi waktu lebih lama dan lebih dihormati. Jika Leicester terdegradasi barulah anda berterimakasih dan move on”
“Tidak akan ada yang bisa menghapus sejarah yang sudah dituliskan Ranieri” kata Jose Mourinho saat menyampaikan simpati atas pemecatan Ranieri.
Gelar Manager Terbaik FIFA Tahun 2016 adalah bukti sahih betapa Ranieri pantas mendapatkan apresiasi berupa kesempatan berjuang menyelamatkan Leicester dari ancaman degradasi sampai laga terakhir musim ini.
Gelar juara Liga Champions Zinedine Zidane bersama Real Madrid dan trofi Piala Eropa 2016 Fernando Santos bersama Portugal yang juga menjadi kejutan terbesar 2016 tidak mampu menandingi magis kisah heroik Ranieri saat menjuarai Liga Inggris bersama Leicester City.
Padahal dari makna kompetisi, Juara Liga Inggris yang berarti juara di Inggris jelas kalah makna dengan Juara Liga Champions atau Piala Eropa yang berarti juara di level Eropa bukan negara.
Tapi pada akhirnya bisnis adalah bisnis.
Manajemen Leicester lebih memilih melepas sosok yang sudah berjasa besar bagi mereka ketimbang melepas potensi pemasukan uang dari status klub yang berlaga di Premier League.
Manajemen The Foxes memilih dikecam penggemar dan publik sepakbola dunia daripada ditinggal pasar.

Maaf Ranieri, bisnis lebih penting.

Minggu, 19 Februari 2017

Sosok Ibu Dalam Kehidupan Bintang Lapangan Hijau - Tribute To Waode Murni Maane Bolu

Photo by zeronol.com

Dibalik hingar bingar kehidupan bintang lapangan hijau, lupakan sejenak kekayaan yang mereka dapatkan dari hasil berpeluh keringat di atas lapangan, singkirkan sesaat wajah-wajah cantik yang menjadi pendamping kehidupan mereka, mari kita alihkan pandangan kita pada sosok Ibu luar biasa yang ada dalam kehidupan para bintang lapangan hijau.
Siapapun pasti setuju bahwa sosok Ibu adalah sosok istimewa bagi seorang anak.
Tidak peduli apakah sang anak sudah beranjak dewasa dan menjalani kehidupannya sendiri.
Jika seorang ayah adalah pahlawan pertama bagi seorang anak maka seorang ibu adalah cinta pertama dan cinta sejati bagi seorang anak.
Tanpa mengesampingkan peran seorang ayah dalam kehidupan, jasa sosok Ibu dalam kehidupan amat besar dan berpengaruh bagi kehidupan seseorang.
Pantas kiranya jika satu hari dalam setahun diperingati sebagai Hari Ibu.

Tanyakan bagaimana besarnya peran seorang Maria Dolores dos Santos Aveiro bagi seorang Cristiano Ronaldo (CR7).
Maria yang bekerja sebagai tukang masak sempat berpikir untuk menggugurkan CR7 saat masih dalam kandungan dikarenakan kondisi ekonomi bersama suami seorang tukang kebun dianggap tidak cukup untuk menghidupi keluarga.
Maria pula yang tersakiti saat CR7 mendapat cedera dalam final Euro 2016.
Dalam akun twitternya, Ibunda mega bintang Portugal itu berkata “ Permainan ini tentang menendang bola bukan tentang menyakiti lawan”
Tidak hanya itu, ketika CR7 ditarik keluar dalam sebuah pertandingan bersama Real Madrid, sang Ibu lah yang memberikan dukungan semangat.
“Jangan pernah menundukkan kepalamu” ujar Maria pada sang anak.
Besarnya kasih sayang Maria pada anaknya tergambar dari komentar CR7 yang menyebutkan dirinya masih saja diperlakukan seperti seorang anak kecil.
“Hingga hari ini Ibu masih memperlakukan saya seperti seorang anak kecil” kata Kapten Portugal itu.
Ya, bagi seorang Ibu, anak tetaplah seorang anak, tidak peduli seberapa hebat sang anak dengan kehidupannya saat ini.

Besarnya peran seorang Ibu dalam karir seorang pesepakbola tergambar dalam kisah Xavi Hernandez, legenda Barcelona.
Seluruh keluarga Xavi adalah pendukung Barcelona namun bagi sang Ibu itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Satu waktu (menurut Xavi), dirinya pernah mendapatkan tawaran untuk meninggalkan Barcelona namun sosok Ibunyalah yang bersikeras meyakinkan Xavi bahwa tempat sang anak adalah di klub asal Catalan itu.
”Berkali-kali Ibu bekerja keras meyakinkan saya untuk bertahan di Barcelona” ujar Xavi.
Kerja keras itu yang pada akhirnya menjadikan Xavi seorang legenda di Barcelona.
Seorang gelandang tangguh yang merengkuh semua trofi juara di level klub sebelum akhirnya keluar dari Barcelona saat usia membuatnya harus membuka jalan regenerasi di tubuh Barca.
Jasa seorang Ibu memang teramat besar bagi seorang anak bahkan tak terhingga sepanjang masa seperti diungkapkan dalam lirik sebuah lagu.

Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Seorang Frank Lampard mengakuinya.
Legenda Chelsea itu mendedikasikan setiap golnya untuk ibunda tercinta.
“Ibu saya adalah pendukung terbesar saya” ujar Lampard.
“Saya adalah anak Mama dan selamanya akan seperti itu” lanjut Lampard.


Sosok Ibu memang tidak tergantikan.
Anda bisa saja mendapatkan kasih sayang dari wanita lain tetapi sosok Ibu tetaplah memiliki tempat istimewa tersendiri dalam hidup seorang anak.
Javier Zanetti, mantan kapten Inter Milan pasti akan selalu mengenang sang Ibu yang wafat usai memberikan ucapan selamat kepada sang anak.
Ketika Inter Milan menjuarai Coppa Italy usai menaklukkan Palermo, Ibunda Zanetti mengirimkan pesan ke telpon “ Anakku, selamat, aku bahagia untukmu, aku mencintaimu”.
Zanetti yang sedang larut dalam pesta kemenangan merencanakan untuk merespon ucapan selamat itu dengan menelpon sang ibu keesokan harinya.
Apa yang terjadi?
Zanetti tidak pernah mendapatkan kesempatan membalas ucapan selamat penuh kasih sayang dari sang Ibu karena wanita yang sudah melahirkannya itu wafat sebelum Zanetti sempat menelponnya.
Demikianlah, anda mungkin lebih sering melihat wanita-wanita cantik yang berada disamping pesepakbola hebat sebagai istri atau pasangan mereka.
Tetapi sejatinya wanita teristimewa yang ada dalam hati para pesepakbola itu adalah sosok seorang Ibu.
Sosok yang melahirkan dan membesarkan mereka sampai menjadi seperti yang kita saksikan hari ini.
Terimakasih untuk semua Ibu diseluruh dunia.

Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk almarhumah Ibu saya, Waode Murni Maane Bolu yang wafat pada 12 Februari 2017.

Rabu, 25 Januari 2017

Kembalikan Posisi Rooney Sebagai Penyerang Tengah

“Silahkan kalian (media) membahas Rooney hari ini, besok dan setelahnya biarkan dia menjadi manusia normal lagi”
Itu adalah komentar Jose Mourinho saat Wayne Rooney mendapat pemberitaan luar biasa usai memecahkan rekor 249 gol Sir Bobby Charlton dan kini bertengger sendiri sebagai pemegang rekor pencetak gol terbanyak MU sepanjang masa dengan 250 gol.
Rooney memang mencuri perhatian dengan raihan 250 gol ini.
Bagaimana tidak, ditengah kritikan atas performanya yang dinilai kian menurun, kapten MU dan timnas Inggris ini masih mampu “membuat berita bagus”.
Rekor 250 gol Rooney pun terbilang istimewa karena memecahkan sebuah rekor yang sudah bertahan selama 44 tahun.
Jika Sir Bobby Charlton membuat 249 gol dalam 758 laga maka Rooney hanya butuh 546 laga untuk mencetak 250 gol, ada selisih 212 laga disana.
Jumlah selisih laga yang banyak itu sudah menunjukkan dengan sendirinya bagaimana kualitas seorang Wayne Rooney, apalagi jika menimbang bahwa legenda MU ini bermain di era sepakbola modern yang dikenal lebih sulit.
Maka wajar jika klaim bahwa kualitas Rooney sudah menurun patut kembali dipertanyakan.

Meski sudah berusia 31 tahun, Rooney sesungguhnya belum bisa dikatakan tua-tua amat jika rujukannya pada seorang Zlatan Ibrahimovic yang berusia 35 tahun namun masih tokcer.
Pemain lain yang bisa jadi rujukan Rooney adalah mega bintang Cristiano Ronaldo yang 5 Februari nanti berumur 32 tahun dan masih menjadi mesin gol klub sebesar Real Madrid.
Di usia yang sudah diatas 30 tahun, kedua pemain ini masih bisa unjuk kebolehan karena peran mereka diatas lapangan nyaris tidak pernah mengalami perubahan signifikan.
Pernahkah anda melihat seorang Ibra menjalani peran sebagai gelandang serang?
Seberapa sering CR7 dimainkan diluar posisi favoritnya sebagai penyerang sayap?
Kedua pemain hebat ini tetap bertahan dengan kehebatannya karena nyaris tidak pernah memainkan peran diatas lapangan yang tidak sejalan dengan kompetensi mereka.
Zlatan Ibrahimovic adalah seorang penyerang tengah dan dirinya memang konsisten terus bermain di posisi tersebut sampai saat kini berkostum MU.
Hasilnya, Ibra tetap menjadi monster menakutkan di depan gawang lawang meski usianya sudah menginjak angka 35 tahun.
Adapun CR7 berkembang dari perannya sebagai seorang gelandang sayap dan makin tajam saat bermain sebagai penyerang atau gelandang serang sayap.
Di posisi terbaiknya itu CR7 memecahkan banyak rekor mulai dari rekor top skor sepanjang masa Real Madrid, rekor top skor timnas Portugal sampai pada rekor top skor Liga Champions.
Konsistensi CR7 bermain pada posisi terbaiknya turut mendukung pencapaian tersebut.
Mau tahu bagaimana jika CR7 bermain bukan pada posisi terbaiknya?
Perhatikan performa kapten timnas Portugal itu di Piala Eropa 2016.
Meski Portugal menjadi juara, CR7 kalah tajam dari Antoine Griezmann karena sepanjang turnamen memerankan posisi penyerang tengah bersama Luis Nani.
Jangan lupakan juga bagaimana CR7 mati kutu dalam final Liga Champions musim 2008/2009 kala MU takluk dari Barcelona dimana CR7 dimainkan sebagai penyerang tengah.

Sebagai seorang penyerang tengah, Rooney memang bukan tipikal pemain yang akan mencetak 30 gol setiap musimnya, tetapi dirinya konsisten selalu mencetak dua digit gol tiap musimnya.
Pencapaian gol terbanyak dalam satu musim Rooney adalah 34 gol pada musim 2009/2010 dan 2011/2012.
Musim 2009/2010 dirinya masih konsisten bermain sebagai penyerang tengah dan pada musim 2011/2012 dirinya mulai sering dimainkan sebagai gelandang.
Di luar musim itu, rata-rata Rooney selalu mencetak lebih dari 15 gol.
Bukan angka fantastis untuk ukuran seorang striker tapi konsistensinya itu patut diacungi jempol mengingat deretan penyerang yang hadir di MU terbilang berada di level atas seperti Ruud Van Nistelrooy, CR7 dan Carlos Tevez.
Inilah sesuatu yang special dari seorang Wayne Rooney.
“Anda tidak bisa memecahkan rekor gol Inggris dan MU tanpa sesuatu yang special” kata eks penyerang Liverpool Stan Collymore.
Penurunan performa yang diklaim terjadi pada Rooney bisa jadi disebabkan perubahan posisi bermain Rooney saat ini yang tidak lagi menjadi seorang penyerang tengah sebagaimana posisi  yang ditempatinya saat hadir di Old Trafford.
Jika kita memilah catatan 250 gol Rooney, lebih dari 50% gol Rooney dihasilkan saat dirinya berada dalam kotak penalty dan sebagian besar lainnya saat eks pemain Everton ini berada di dekat kotak penalty.
Hanya sedikit gol yang dihasilkan Rooney ketika dirinya berada cukup jauh dari kotak penalty.
Catatan ini sebenarnya menunjukkan bahwa potensi Rooney sesungguhnya adalah sebagai seorang penyerang tengah.
Di posisi inilah Rooney mencapai performa terbaiknya yang berujung pada 5 titel Liga Inggris dan 1 trofi Liga Champions.
“Saya tidak melihat striker seperti dia saat ini, Inggris harus memberikan penghargaan padanya” bahkan seorang Zlatan Ibrahimovic sendiri menyatakan bahwa Rooney adalah seorang penyerang bukan gelandang atau pemain tengah.
Ya, mengembalikan Rooney ke posisi aslinya sebagai seorang penyerang tengah jelas bukan ide yang buruk.
Jika dirinya dinilai sudah tidak gesit dan cepat seperti dulu maka simak pernyataan Rooney berikut ini :
“Aku baru berusia 31 tahun dan para pemain sekarang memiliki karir lebih lama. Aku merasa siap untuk itu. Aku merasa segar, bugar dan siap untuk terus bermain”
Rooney menyatakan siap untuk terus memberikan kontribusi bagi MU.
Tampaknya Mourinho perlu memikirkan opsi untuk menempatkan kembali kaptennya ini sebagai seorang penyerang tengah.
Julukan “The White Pele” yang dulu disematkan ke Rooney adalah gambaran betapa buasnya pemain ini di dalam kotak penalty lawan sebagai seorang penyerang tengah.

Sebagai seorang penyerang tengah, Rooney memiliki kemampuan yang komplit.
Selain berfungsi sebagai goal getter, Rooney juga dapat menjalankan fungsi sebagai pemberi assist. Diluar itu, pemegang rekor top skor timnas Inggris ini juga punya atribut tendangan bebas mematikan.   
MU tentu tidak ingin menyia-nyiakan potensi terbaik Rooney sebagai penyerang tengah dengan membiarkannya terus berada di barisan gelandang tengah dan jauh dari kotak penalty.           
Saatnya mengembalikan Rooney ke posisinya sebagai penyerang tengah.