Minggu, 19 Februari 2017

Sosok Ibu Dalam Kehidupan Bintang Lapangan Hijau - Tribute To Waode Murni Maane Bolu

Photo by zeronol.com

Dibalik hingar bingar kehidupan bintang lapangan hijau, lupakan sejenak kekayaan yang mereka dapatkan dari hasil berpeluh keringat di atas lapangan, singkirkan sesaat wajah-wajah cantik yang menjadi pendamping kehidupan mereka, mari kita alihkan pandangan kita pada sosok Ibu luar biasa yang ada dalam kehidupan para bintang lapangan hijau.
Siapapun pasti setuju bahwa sosok Ibu adalah sosok istimewa bagi seorang anak.
Tidak peduli apakah sang anak sudah beranjak dewasa dan menjalani kehidupannya sendiri.
Jika seorang ayah adalah pahlawan pertama bagi seorang anak maka seorang ibu adalah cinta pertama dan cinta sejati bagi seorang anak.
Tanpa mengesampingkan peran seorang ayah dalam kehidupan, jasa sosok Ibu dalam kehidupan amat besar dan berpengaruh bagi kehidupan seseorang.
Pantas kiranya jika satu hari dalam setahun diperingati sebagai Hari Ibu.

Tanyakan bagaimana besarnya peran seorang Maria Dolores dos Santos Aveiro bagi seorang Cristiano Ronaldo (CR7).
Maria yang bekerja sebagai tukang masak sempat berpikir untuk menggugurkan CR7 saat masih dalam kandungan dikarenakan kondisi ekonomi bersama suami seorang tukang kebun dianggap tidak cukup untuk menghidupi keluarga.
Maria pula yang tersakiti saat CR7 mendapat cedera dalam final Euro 2016.
Dalam akun twitternya, Ibunda mega bintang Portugal itu berkata “ Permainan ini tentang menendang bola bukan tentang menyakiti lawan”
Tidak hanya itu, ketika CR7 ditarik keluar dalam sebuah pertandingan bersama Real Madrid, sang Ibu lah yang memberikan dukungan semangat.
“Jangan pernah menundukkan kepalamu” ujar Maria pada sang anak.
Besarnya kasih sayang Maria pada anaknya tergambar dari komentar CR7 yang menyebutkan dirinya masih saja diperlakukan seperti seorang anak kecil.
“Hingga hari ini Ibu masih memperlakukan saya seperti seorang anak kecil” kata Kapten Portugal itu.
Ya, bagi seorang Ibu, anak tetaplah seorang anak, tidak peduli seberapa hebat sang anak dengan kehidupannya saat ini.

Besarnya peran seorang Ibu dalam karir seorang pesepakbola tergambar dalam kisah Xavi Hernandez, legenda Barcelona.
Seluruh keluarga Xavi adalah pendukung Barcelona namun bagi sang Ibu itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Satu waktu (menurut Xavi), dirinya pernah mendapatkan tawaran untuk meninggalkan Barcelona namun sosok Ibunyalah yang bersikeras meyakinkan Xavi bahwa tempat sang anak adalah di klub asal Catalan itu.
”Berkali-kali Ibu bekerja keras meyakinkan saya untuk bertahan di Barcelona” ujar Xavi.
Kerja keras itu yang pada akhirnya menjadikan Xavi seorang legenda di Barcelona.
Seorang gelandang tangguh yang merengkuh semua trofi juara di level klub sebelum akhirnya keluar dari Barcelona saat usia membuatnya harus membuka jalan regenerasi di tubuh Barca.
Jasa seorang Ibu memang teramat besar bagi seorang anak bahkan tak terhingga sepanjang masa seperti diungkapkan dalam lirik sebuah lagu.

Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Seorang Frank Lampard mengakuinya.
Legenda Chelsea itu mendedikasikan setiap golnya untuk ibunda tercinta.
“Ibu saya adalah pendukung terbesar saya” ujar Lampard.
“Saya adalah anak Mama dan selamanya akan seperti itu” lanjut Lampard.


Sosok Ibu memang tidak tergantikan.
Anda bisa saja mendapatkan kasih sayang dari wanita lain tetapi sosok Ibu tetaplah memiliki tempat istimewa tersendiri dalam hidup seorang anak.
Javier Zanetti, mantan kapten Inter Milan pasti akan selalu mengenang sang Ibu yang wafat usai memberikan ucapan selamat kepada sang anak.
Ketika Inter Milan menjuarai Coppa Italy usai menaklukkan Palermo, Ibunda Zanetti mengirimkan pesan ke telpon “ Anakku, selamat, aku bahagia untukmu, aku mencintaimu”.
Zanetti yang sedang larut dalam pesta kemenangan merencanakan untuk merespon ucapan selamat itu dengan menelpon sang ibu keesokan harinya.
Apa yang terjadi?
Zanetti tidak pernah mendapatkan kesempatan membalas ucapan selamat penuh kasih sayang dari sang Ibu karena wanita yang sudah melahirkannya itu wafat sebelum Zanetti sempat menelponnya.
Demikianlah, anda mungkin lebih sering melihat wanita-wanita cantik yang berada disamping pesepakbola hebat sebagai istri atau pasangan mereka.
Tetapi sejatinya wanita teristimewa yang ada dalam hati para pesepakbola itu adalah sosok seorang Ibu.
Sosok yang melahirkan dan membesarkan mereka sampai menjadi seperti yang kita saksikan hari ini.
Terimakasih untuk semua Ibu diseluruh dunia.

Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk almarhumah Ibu saya, Waode Murni Maane Bolu yang wafat pada 12 Februari 2017.

Rabu, 25 Januari 2017

Kembalikan Posisi Rooney Sebagai Penyerang Tengah

“Silahkan kalian (media) membahas Rooney hari ini, besok dan setelahnya biarkan dia menjadi manusia normal lagi”
Itu adalah komentar Jose Mourinho saat Wayne Rooney mendapat pemberitaan luar biasa usai memecahkan rekor 249 gol Sir Bobby Charlton dan kini bertengger sendiri sebagai pemegang rekor pencetak gol terbanyak MU sepanjang masa dengan 250 gol.
Rooney memang mencuri perhatian dengan raihan 250 gol ini.
Bagaimana tidak, ditengah kritikan atas performanya yang dinilai kian menurun, kapten MU dan timnas Inggris ini masih mampu “membuat berita bagus”.
Rekor 250 gol Rooney pun terbilang istimewa karena memecahkan sebuah rekor yang sudah bertahan selama 44 tahun.
Jika Sir Bobby Charlton membuat 249 gol dalam 758 laga maka Rooney hanya butuh 546 laga untuk mencetak 250 gol, ada selisih 212 laga disana.
Jumlah selisih laga yang banyak itu sudah menunjukkan dengan sendirinya bagaimana kualitas seorang Wayne Rooney, apalagi jika menimbang bahwa legenda MU ini bermain di era sepakbola modern yang dikenal lebih sulit.
Maka wajar jika klaim bahwa kualitas Rooney sudah menurun patut kembali dipertanyakan.

Meski sudah berusia 31 tahun, Rooney sesungguhnya belum bisa dikatakan tua-tua amat jika rujukannya pada seorang Zlatan Ibrahimovic yang berusia 35 tahun namun masih tokcer.
Pemain lain yang bisa jadi rujukan Rooney adalah mega bintang Cristiano Ronaldo yang 5 Februari nanti berumur 32 tahun dan masih menjadi mesin gol klub sebesar Real Madrid.
Di usia yang sudah diatas 30 tahun, kedua pemain ini masih bisa unjuk kebolehan karena peran mereka diatas lapangan nyaris tidak pernah mengalami perubahan signifikan.
Pernahkah anda melihat seorang Ibra menjalani peran sebagai gelandang serang?
Seberapa sering CR7 dimainkan diluar posisi favoritnya sebagai penyerang sayap?
Kedua pemain hebat ini tetap bertahan dengan kehebatannya karena nyaris tidak pernah memainkan peran diatas lapangan yang tidak sejalan dengan kompetensi mereka.
Zlatan Ibrahimovic adalah seorang penyerang tengah dan dirinya memang konsisten terus bermain di posisi tersebut sampai saat kini berkostum MU.
Hasilnya, Ibra tetap menjadi monster menakutkan di depan gawang lawang meski usianya sudah menginjak angka 35 tahun.
Adapun CR7 berkembang dari perannya sebagai seorang gelandang sayap dan makin tajam saat bermain sebagai penyerang atau gelandang serang sayap.
Di posisi terbaiknya itu CR7 memecahkan banyak rekor mulai dari rekor top skor sepanjang masa Real Madrid, rekor top skor timnas Portugal sampai pada rekor top skor Liga Champions.
Konsistensi CR7 bermain pada posisi terbaiknya turut mendukung pencapaian tersebut.
Mau tahu bagaimana jika CR7 bermain bukan pada posisi terbaiknya?
Perhatikan performa kapten timnas Portugal itu di Piala Eropa 2016.
Meski Portugal menjadi juara, CR7 kalah tajam dari Antoine Griezmann karena sepanjang turnamen memerankan posisi penyerang tengah bersama Luis Nani.
Jangan lupakan juga bagaimana CR7 mati kutu dalam final Liga Champions musim 2008/2009 kala MU takluk dari Barcelona dimana CR7 dimainkan sebagai penyerang tengah.

Sebagai seorang penyerang tengah, Rooney memang bukan tipikal pemain yang akan mencetak 30 gol setiap musimnya, tetapi dirinya konsisten selalu mencetak dua digit gol tiap musimnya.
Pencapaian gol terbanyak dalam satu musim Rooney adalah 34 gol pada musim 2009/2010 dan 2011/2012.
Musim 2009/2010 dirinya masih konsisten bermain sebagai penyerang tengah dan pada musim 2011/2012 dirinya mulai sering dimainkan sebagai gelandang.
Di luar musim itu, rata-rata Rooney selalu mencetak lebih dari 15 gol.
Bukan angka fantastis untuk ukuran seorang striker tapi konsistensinya itu patut diacungi jempol mengingat deretan penyerang yang hadir di MU terbilang berada di level atas seperti Ruud Van Nistelrooy, CR7 dan Carlos Tevez.
Inilah sesuatu yang special dari seorang Wayne Rooney.
“Anda tidak bisa memecahkan rekor gol Inggris dan MU tanpa sesuatu yang special” kata eks penyerang Liverpool Stan Collymore.
Penurunan performa yang diklaim terjadi pada Rooney bisa jadi disebabkan perubahan posisi bermain Rooney saat ini yang tidak lagi menjadi seorang penyerang tengah sebagaimana posisi  yang ditempatinya saat hadir di Old Trafford.
Jika kita memilah catatan 250 gol Rooney, lebih dari 50% gol Rooney dihasilkan saat dirinya berada dalam kotak penalty dan sebagian besar lainnya saat eks pemain Everton ini berada di dekat kotak penalty.
Hanya sedikit gol yang dihasilkan Rooney ketika dirinya berada cukup jauh dari kotak penalty.
Catatan ini sebenarnya menunjukkan bahwa potensi Rooney sesungguhnya adalah sebagai seorang penyerang tengah.
Di posisi inilah Rooney mencapai performa terbaiknya yang berujung pada 5 titel Liga Inggris dan 1 trofi Liga Champions.
“Saya tidak melihat striker seperti dia saat ini, Inggris harus memberikan penghargaan padanya” bahkan seorang Zlatan Ibrahimovic sendiri menyatakan bahwa Rooney adalah seorang penyerang bukan gelandang atau pemain tengah.
Ya, mengembalikan Rooney ke posisi aslinya sebagai seorang penyerang tengah jelas bukan ide yang buruk.
Jika dirinya dinilai sudah tidak gesit dan cepat seperti dulu maka simak pernyataan Rooney berikut ini :
“Aku baru berusia 31 tahun dan para pemain sekarang memiliki karir lebih lama. Aku merasa siap untuk itu. Aku merasa segar, bugar dan siap untuk terus bermain”
Rooney menyatakan siap untuk terus memberikan kontribusi bagi MU.
Tampaknya Mourinho perlu memikirkan opsi untuk menempatkan kembali kaptennya ini sebagai seorang penyerang tengah.
Julukan “The White Pele” yang dulu disematkan ke Rooney adalah gambaran betapa buasnya pemain ini di dalam kotak penalty lawan sebagai seorang penyerang tengah.

Sebagai seorang penyerang tengah, Rooney memiliki kemampuan yang komplit.
Selain berfungsi sebagai goal getter, Rooney juga dapat menjalankan fungsi sebagai pemberi assist. Diluar itu, pemegang rekor top skor timnas Inggris ini juga punya atribut tendangan bebas mematikan.   
MU tentu tidak ingin menyia-nyiakan potensi terbaik Rooney sebagai penyerang tengah dengan membiarkannya terus berada di barisan gelandang tengah dan jauh dari kotak penalty.           
Saatnya mengembalikan Rooney ke posisinya sebagai penyerang tengah.

Senin, 23 Januari 2017

Berharap Banyak Pada Luis Milla


Pada saat Luis Milla bersama tim Spanyol U-21 menjuarai Piala Eropa U-21 tahun 2011, mungkin tidak pernah terlintas sedikit pun pemikiran bahwa satu saat nanti pelatih yang pernah bermain bagi tiga klub besar Spanyol (Real Madrid, Barcelona dan Valencia) ini akan membesut timnas Indonesia.
Luis Milla adalah bagian dari hegemoni sepakbola Spanyol yang digdaya menguasai Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.
Dalam rentang masa jaya tim Matador itu, Luis Milla ikut ambil panggung ditengah nama Luis Aragones dan Vicente Del Bosque, dua manager timnas yang membawa panji sepakbola Matador berjaya.
Keberhasilan timnas U-21 Spanyol menjadi juara Eropa semakin menegaskan hegemoni Spanyol di persaingan sepakbola dunia.
Bagaimana tidak, timnas senior mereka memenangkan Piala Dunia 2010 dan disusul tim juniornya mengangkat trofi juara Eropa.
Makin lengkap lagi karena tim senior mengikutinya dengan juara Piala Eropa 2012.
Keberhasilan Luis Milla mengasah bakat-bakat hebat Cesar Azpillicueta, Javi Martinez, Juan Mata, David De Gea dan Thiago Alcantara membuatnya digadang-gadang sebagai salahsatu pelatih masa depan Spanyol.

Saya yakin tidak ada satu pun pencinta sepakbola nasional bahkan Luis Milla sendiri yang membayangkan dirinya akan menangani timnas Indonesia.
Namun jalan hidup menuntun pemain yang pernah menjuarai La Liga bersama Madrid dan Barca ini berlabuh ke Indonesia.
Anda fans tim Matador yang dulu mencaci maki Luis Milla karena tidak sanggup membawa tim U-23 Spanyol lolos dari fase grup cabang sepakbola Olympiade London 2012?
Kalau iya maka mungkin sekarang anda bisa berbalik mensyukuri momen kegagalan tersebut.
Kejatuhan karir Luis Milla bisa dianggap berawal dari momen ini.
Bermaterikan skuad penuh bintang seperti David De Gea, Cesar Azpilicueta, Jordi Alba, Martin Montoya, Javi Martinez, Ander Herrera, Isco dan Juan Mata, Luis Milla yang bermodalkan gelar Piala Eropa U-21 gagal memenuhi ekspektasi public sepakbola Spanyol.

Luis Milla mencoreng status calon kuat perebut medali emas padahal tim senior Spanyol beberapa bulan sebelumnya sukses mengangkat trofi juara Piala Eropa 2012.
Karir Luis Milla di timnas berakhir dan perjalanan selanjutnya di Al Jazira, Lugo dan Real Zaragoza sangat buruk.
Bisa dikatakan, kegagalan di Olympiade 2012 itu jadi guncangan besar bagi karir Milla namun jadi salahsatu sebab mengapa pria 50 tahun itu kini hadir di ruang ganti timnas Indonesia.
Bayangkan jika Luis Milla terus sukses di tim junior Spanyol dan bisa saja terus berlanjut menangani tim senior atau setidaknya usai kegagalan di Olympiade 2012 Milla meraih kesuksesan di level klub.
Jika kejadiannya seperti diatas maka pencinta sepakbola nasional tidak akan mendapati pemandangan Luis Milla konferensi pers sebagai pelatih timnas Indonesia.
Tim Merah Putih tidak akan mendapatkan sentuhan dari pria yang pernah merasakan langsung didikan akademi La Masia dan bermain bagi tim senior Barcelona sekaligus menjadi anak didik langsung dari Johan Cruyft.

Keinginan PSSI memasukkan gaya bermain Spanyol dalam tubuh timnas dianggap pas jika ditangani langsung oleh sosok yang sudah terbukti sukses menerapkan gaya tersebut, jika merujuk pada sukses tim U-21 Spanyol di Piala Eropa U-21 tahun 2011.
Inilah yang jadi alasan kuat mengapa sosok Luis Milla lebih pantas menduduki kursi pelatih timnas Indonesia ketimbang Luis Fernandez yang menjadi calon kuat lainnya.
Fernandez boleh saja pernah meraih prestasi juara Coupe de France dan Piala Winners saat menangani PSG dan mengantarkan Athletic Bilbao jadi runner up La Liga (prestasi luar biasa ditengah hegemoni Real Madrid dan Barcelona), namun sebagai manager di level timnas dirinya tidak punya CV yang mengagumkan.
Timnas Israel yang ditanganinya gagal lolos ke Piala Eropa 2012.
Prestasinya sebagai pemain timnas boleh jadi lebih baik daripada Luis Milla dengan menjuarai Piala Eropa 1984 bersama Prancis namun PSSI butuh sosok yang punya catatan prestasi di level timnas sebagai manager.
Luis Milla sudah membuktikan tangan dinginnya saat membawa Spanyol U-21 menjadi juara Eropa. Tampaknya keberhasilan menangani bakat-bakat muda Spanyol ini yang jadi pertimbangan utama memilih Milla.
Tidak heran jika tugas perdana Milla adalah membesut anak-anak muda Indonesia yang akan berlaga di Sea Games 2017 Malaysia dan proyeksi untuk Asian Games 2018.
Bisa dikatakan Luis Milla memiliki tugas jangka panjang membangun fondasi sepakbola nasional dengan menempa anak-anak muda yang diharapkan jadi pilar timnas di masa depan.
Sebagai orang yang pernah merasakan akademi La Masia dan berada di bawah asuhan Johan Cruyft, Luis Milla tentu paham apa yang harus dilakukan untuk membentuk tim dengan gaya main ala tiki taka Spanyol seperti yang diharapkan PSSI.
Jadi rasanya kita pantas untuk berharap banyak pada Luis Milla.


Sabtu, 07 Januari 2017

Prediksi 2017 - Chelsea Tidak Terkejar Menuju Tangga Juara

Sengit, ketat dan seru.
Inilah gambaran persaingan Liga Inggris musim ini.
Keberadaan sejumlah manager papan atas seperti Pep Guardiola, Antonio Conte, Jurgen Klopp, Jose Mourinho, Arsene Wenger dan tidak lupa memasukkan nama Mauricio Pochettino dalam satu liga domestik memang jadi jaminan ketatnya kompetisi.
Serunya lagi, sejumlah manager papan atas itu menakhodai tim-tim yang memang dihuni deretan skuad berkualitas juara sehingga persaingan antara Man City, Chelsea, Liverpool, MU, Arsenal dan Tottenham Hotspurs yang pada musim-musim sebelumnya sudah berlangsung ketat semakin meningkat level kompetitifnya.
Saking ketatnya, sulit memprediksi siapa yang akan mengangkat trofi juara Liga Inggris di akhir musim nanti.

Man City yang sempat menjalani 8 kemenangan beruntun di awal liga kini justru terdampar di peringkat 4 klasemen sementara sampai pekan ke 20.
Padahal dengan performa meyakinkan di awal musim, banyak yang menduga magis Pep bersama Barcelona yang begitu perkasa di La Liga Spanyol sudah menular pada skuad The Citizen.
Sebaliknya, Chelsea yang sempat merasakan 3 laga tanpa kemenangan pada pekan-pekan awal termasuk saat ditaklukkan rivalnya Liverpool dan Arsenal malah bangkit menjadi tim dengan rentetan kemenangan beruntun terpanjang musim ini saat 13 laga dilewati dengan kemenangan.
Meski kemudian takluk 0-2 dari Spurs dan gagal menyamai rekor 14 kemenangan beruntun Arsenal pada musim 2001/2002, Chelsea masih nyaman di puncak klasemen dengan keunggulan 5 poin dari Liverpool di posisi kedua.
Adapun Liverpool sendiri memang tidak menjalani rentetan kemenangan beruntun sepanjang Chelsea, namun anak asuh Klopp mampu terus menguntit Chelsea di posisi kedua berkat dua kali periode 4 kemenangan beruntun dari pekan ke 4 sampai pekan 7  dan dari pekan ke 16 sampai pekan 19.
Bagaimana dengan Arsenal?
Olivier Giroud dkk sempat merasakan 6 kemenangan beruntun dari pekan ke 2 sampai kompetisi memasuki pekan ke 8.
Dengan catatan impresif seperti itu, Arsenal justru berada di posisi kelima klasemen karena inkonsistensi performa kala ditahan imbang dalam dua laga beruntun melawan  MU dan Spurs serta takluk dua kali beruntun dari Everton dan Man City.
Bicara soal konsistensi, tim dari kota London yang lain, Tottenham Hotspurs  malah sedang menjalani periode 5 kemenangan beruntun termasuk saat menghentikan 13 kemenangan beruntun Chelsea.
Alasan Spurs masih tertahan di posisi 3 klasemen adalah karena kegagalan mereka meraih poin penuh saat ditahan imbang dalam 4 laga beruntun dari pekan 8 sampai pekan 11.
Serupa dengan Spurs, MU yang kini tengah menjalani periode 6 kemenangan beruntun masih tertahan di peringkat  6 klasemen gara-gara sempat merasakan dua kekalahan beruntun dari Man City dan Watford dan menjalani periode buruk 4 laga beruntun tanpa kemenangan.
Gambaran singkat diatas memperlihatkan bahwa setiap tim kandidat juara punya kemampuan menorehkan rentetan kemenangan beruntun yang menunjukkan bahwa setiap manager papan atas bersama tim mereka punya potensi untuk menjadi yang terbaik di akhir musim.
“Kejuaraan dunia bagi para manager” begitu Arsene Wenger mengilustrasikan ketatnya persaingan Liga Inggris musim ini.
Dengan persaingan sedemikian ketat seperti ini, siapa yang akan menjadi pemenang pada akhir musim?

Well, Liga Inggris musim ini adalah momen dimana beberapa manager papan atas bertemu dalam satu liga domestik.
Keberadaan manager-manager papan atas ini jadi kunci karena jika melihat dari sisi kualitas skuad yang dimiliki masing-masing manager, bisa dikatakan skuad yang ada sama-sama sarat kualitas dan punya potensi menjadi juara.
Ada Sergio Aguero dan Kevin De Bruyne di Man City sementara disaat bersamaan MU punya Paul Pogba dan Ibrahimovic.
Liverpool punya Firmino dan Coutinho sementara Chelsea memilki Diego Costa dan Eden Hazard.
Spurs?
Mereka punya Harry Kane dan Delle Ali seperti Arsenal memiliki Oezil dan Sanchez dalam skuad mereka.
Semuanya adalah nama-nama yang punya kualitas dan potensi membawa tim mereka menjadi juara.
Dengan kesamaan kualitas skuad ini maka peran manager sebagai peracik taktik menjadi sangat vital dalam menentukan keberhasilan tim meraih titel juara Liga Inggris di akhir musim nanti.
Bicara peran manager sebagai peracik taktik, nama Conte bersama Chelsea patut dikedepankan sebagai kandidat terkuat juara Liga Inggris musim ini.
Rentetan 13 kemenangan beruntun Chelsea adalah pertunjukan kemampuan Conte meracik strategi tim.
Usai kalah beruntun dari Liverpool dan Arsenal, Conte yang pada awal musim lebih sering menerapkan pola 4-2-3-1, 4-3-3 dan 4-1-4-1 melakukan perubahan besar dengan menerapkan pola 3-4-3.
Dengan pola tersebut Chelsea menemukan keseimbangan yang mereka cari dan menjadi tim yang sangat tangguh dalam bertahan sekaligus tajam saat menyerang.
Dalam periode 13 kemenangan beruntun, Chelsea menyarangkan 32 gol dan hanya kebobolan  7 gol.
Hebatnya lagi, lini pertahanan Chelsea mencatat 10 clean sheet. Wow!!
Kejeniusan Conte menemukan strategi yang tepat seperti mengulang kunci sukses saat mengantarkan Juventus meraih Scudetto Serie A Italia.
Saat pertama kali menukangi Juve, Conte menerapkan pola 4-4-2 yang kemudian berkembang ke pola 4-2-4 sampai ke varian lain seperti 4-3-1-2.
Melihat pola tersebut tidak berjalan dengan baik, Conte mengambil langkah revolusioner dengan menerapkan pola 3 pemain bertahan dalam formasi 3-5-2.
Dengan pola baru itu Si Nyonya Tua diantarkan oleh Conte merajai Liga Italia kembali.
Pola itu bahkan menjadi rujukan bagi Massimiliano Allegri yang tidak ingin gegabah mengganti formasi yang sudah terbukti lebih sesuai bagi skuad Juve.

Nah, keberhasilan menemukan pola terbaik ini yang gagal dilakukan manager lain.
Man City boleh saja digdaya pada 8 pekan awal tetapi ketika City mulai terseok-seok, Guardiola seperti belum menemukan obat yang pas.
Konyolnya, Pep sempat menjajal pola 3-4-3 saat meladeni Chelsea yang sedang ganas-ganasnya dengan pola itu.
Hasilnya? City dibantai 1-3 di kandang sendiri.
Lain lagi dengan Klopp dan Wenger.
Meski cukup kompetitif sejauh ini namun seringnya Liverpool dan Arsenal merasakan naik turun performa jadi indikasi bahwa strategi keduanya belum benar-benar tokcer.
Bayangkan saja bagaimana Liverpool ditahan imbang tim calon degradasi Sunderland setelah beberapa hari sebelumnya The Reds secara perkasanmenundukkan Man City.
Hal ini seperti mengulangi kejadian pekan pertama  saat Liverpool dengan gagah berani menundukkan Arsenal 4-3 di Emirates Stadium lalu dengan “konyolnya” takluk 0-2 pada pekan selanjutnya dari tim sekelas Burnley.
Arsenal pun demikian.
Ditahan imbang Middlesbrough di Emirates Stadium dan nyaris kalah saat melawat ke Bournemouth jadi sinyal bahwa The Gunners masih punya bakat inkonsistensi.
Soal konsistensi, jika melihat perfoma terkini maka Spurs dan MU adalah jagoannya.
Spurs tengah menjalani periode 5 kemenangan beruntun sedangkan catatan 6 kemenangan beruntun MU sejauh ini melengkapi performa Ibra dkk yang belum kalah dalam 11 laga.
Masalahnya, performa bagus ini baru muncul jelang paruh musim pertama berakhir sementara Chelsea sudah kadung berlari jauh didepan dengan rentetan 13 kemenangan beruntun.
MU di posisi 6 saat ini berjarak 10 poin dari puncak klasemen sedangkan Spurs di posisi 3 berselisih 7 poin dari Chelsea di posisi pertama.
Artinya MU butuh 3 kali menang dan 1 imbang serta Spurs butuh 2 kali menang dan 1 imbang untuk sekedar menyamai poin Chelsea di puncak klasemen.
Tentu dalam periode itu Chelsea pun punya potensi untuk terus mendulang poin dan membuat The Blues semakin sulit dikejar.
Jika diibaratkan perlombaan Moto GP, Chelsea berhasil melewati lap-lap awal dengan baik dan melaju di posisi pertama.
Adapun pebalap lain boleh jadi telah menemukan kesesuaian dengan motor yang ditungganginya namun sudah sulit untuk mengejar pebalap yang ada di depannya.
Paling banter tim-tim di belakang Chelsea hanya akan membayangi di belakang tanpa pernah bisa menyalip KECUALI jika Chelsea terpeleset dan jatuh menjelang lap terakhir.
Namun melihat bagaimana seorang Conte telah menemukan pola 3-4-3 yang paling sesuai untuk skuad Chelsea, rasanya sulit untuk mengejar dan menahan Chelsea mengangkat trofi juara di akhir musim. nanti.


Senin, 02 Januari 2017

Prediksi 2017 - Jangan Bosan Melihat Juventus Scudetto Lagi

Jika anda seorang penggemar netral F1 dan melihat betapa dominannya sang legenda Michael Schumacher dengan menjuarai F1 selama 5 musim beruntun sejak tahun 2000 sampai 2004, maka anda pasti berbahagia dengan kemunculan kompetitor seperti Fernando Alonso, Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel yang membuat daftar juara F1 tidak melulu diisi nama Schumi.
Atau jika anda juga penggemar netral balap motor 500cc atau Moto GP, maka kemunculan Jorge Lorenzo dan Marc Marquez pasti sangat disyukuri karena mencegah The Doctor Valentino Rossi terus merajai ajang balap motor bergengsi itu tanpa henti sejak 2001 sampai 2005.
Dalam olahraga sepakbola, Borussia Dortmund dan Juergen Klopp rasanya pantas disanjung karena mampu menghentikan dominasi Bayer Muenchen di Bundesliga.
Pun dengan keberhasilan Atletico menjuarai La Liga musim 2013/2014 yang menghentikan hegemoni duo Barcelona dan Real Madrid (meski kini tampaknya hegemoni itu kembali lagi).
Dalam kompetisi olahraga, dominasi juara sampai bertahun-tahun boleh jadi merupakan kebanggaan bagi fans sang juara tetapi menjadi sebuah pemandangan membosankan bagi penggemar netral bahkan bisa jadi bagi fans yang memang mendukung tim lain.
Pernah dengar istilah “asal bukan MU?”
Ya, hebatnya MU asuhan Sir Alex Ferguson yang mendominasi Liga Inggris sampai-sampai memunculkan istilah itu.
Siapa saja boleh juara asalkan jangan MU lagi.
Istilah ini tampaknya juga sudah merasuki pencinta Serie A Italia jika melihat hegemoni Juventus yang sudah 5 musim berturut-turut memenangi titel Scudetto.
Sejak bersama Antonio Conte (3 Scudetto) dan beralih ke Massimiliano Allegri (2 Scudetto), belum ada klub yang mampu menghentikan dominasi Si Nyonya Tua.
Mulai dari Napoli, AS Roma, Fiorentina, AC Milan dan Inter Milan tidak mampu menahan laju dominasi Juventus di Serie A.
Berita buruknya, dominasi itu tampaknya masih akan terus berlanjut.

Pemandangan Serie A Italia saat ini seperti mengulang episode yang sudah-sudah.
Juventus dikejar dan dipepet oleh tim rival namun pada akhirnya Si Nyonya Tua lah yang tetap melaju sampai garis finis Scudetto dan mengangkat trofi juara.
Meski kali ini Juve tidak hanya dikejar dua klub seperti biasanya tetapi oleh Roma, Napoli, Lazio dan Milan sekaligus, anak asuh Allegri tetap dapat melenggang sebagai pemuncak klasemen sampai akhir tahun 2016.
Juventus kini memiliki keunggulan 4 poin dari rival terdekat AS Roma di peringkat dua.
Parahnya, Juve bahkan masih menyimpan satu laga sisa lebih banyak yang artinya Juve bisa saja unggul 7 poin jika memenangi satu laga sisa tersebut.
Alamak, susah nian menahan laju Juventus ini!
Si Nyonya Tua memang tidak berpuas diri dengan raihan 5 scudetto beruntun yang sudah mereka capai.
Kedatangan Miralem Pjanic, Dani Alves, Medhi Benatia dan Gonzalo Higuain memperlihatkan ambisi Juventus untuk terus merajai Italia.
Lini pertahanan tangguh yang jadi salahsatu kekuatan Juventus dengan trio BBC nya masih unjuk gigi dengan menjadikan Juve saat ini sebagai tim dengan jumlah kebobolan terendah sampai 17 laga (Juve baru kebobolan 14 gol).
Di lini tengah, kepergian Pogba tidak sampai diratapi berkat kehadiran Pjanic.
Apalagi di lini depan.
Masuknya bomber sekelas Gonzalo Higuain mampu menggetarkan barisan pertahanan lawan.
Sang bomber sudah mencetak 10 gol bagi klub barunya.
“Di atas kertas Juventus musim ini adalah tim yang sangat kuat dan punya kesempatan juara lebih besar ketimbang musim sebelumnya”  kata Gianluigi Buffon.

Indikasi Juventus bakal terus melaju menjuarai Serie A Italia musim ini semakin terkonfirmasi dengan hasil-hasil laga pertama Juve kala beradu dengan rival-rival pemburu Scudetto.
Melawan AS Roma, Napoli dan Lazio, Juventus meraih kemenangan.
Satu-satunya kekalahan dari rival dialami kala Juve ditaklukkan Milan 0-1 dalam sebuah laga yang menurut Allegri seharusnya dimenangkan Higuain dkk.
Meski demikian secara keseluruhan Juventus memang lebih baik daripada rival-rival pemburu Scudetto.
Bersama Napoli, Juve baru merasakan 3 kekalahan dan ini adalah jumlah kekalahan paling minim dari seluruh penghuni 5 besar klasemen.
Bedanya Napoli sudah merasakan 5 hasil seri alias 5 kali gagal memetik poin penuh.
AS Roma, Lazio dan Milan yang telah menelan 4 kekalahan sudah merasakan kegagalan memetik poin penuh akibat ditahan imbang sebanyak 2 kali (AS Roma), 4 kali (Lazio) dan 3 kali (Milan).
Artinya Juventus yang tidak pernah ditahan imbang lawan-lawannya sangat konsisten meraih poin demi poin.
Konsistensi seperti ini yang sejak dulu selalu tidak dapat ditiru oleh lawan-lawan Juve yang kerap kehabisan bensin kala mengimbangi laju kencang Si Nyonya Tua.
Meski sudah kalah 3 kali, Juventus juga tidak pernah kehilangan poin dalam dua laga beruntun dan selalu berhasil bangkit dari kekalahan dengan meraih kemenangan.
Saat takluk pertama kali musim ini dari Inter, Juve bangkit dengan memenangi 4 laga beruntun sesudahnya.
Usai kalah dari Milan, Juve kembali bangkit dan meraih 3 poin penuh dari 4 laga berikutnya, termasuk didalamnya dengan menaklukkan Napoli.
Terakhir, setelah “terpeleset” kalah di kandang Genoa, seperti biasa Juve dapat bangkit dengan memenangi 3 laga beruntun sesudahnya dimana 2 laga yang dimenangi berstatus big match melawan AS Roma dan Torino dalam derby Turin.
Lewat kinerja yang terjaga seperti ini, jangan bosan melihat Juventus kembali meraih titel Scudetto untuk yang keenam kali secara beruntun.