Jumat, 15 Juli 2016

Menyaksikan "Civil War" Ala Liga Inggris

Hasil gambar untuk civil war
Mengapa film-film yang menyatukan para Superhero ke dalam satu film begitu mudah menyedot jumlah penonton yang banyak?
Sederhana saja, karena manusia cenderung tidak puas dengan hanya memiliki satu.
Jika seseorang bisa mendapatkan lebih dari satu maka mengapa puas dengan satu saja.
Toh, iklan sebuah Mie Instan pun bisa-bisanya mengatakan “Dua Lebih Baik” sebagai penegasan bahwa lebih dari satu itu berkonotasi memuaskan.
Mohon jangan arahkan pikiran anda ke pembahasan Poligami karena tulisan ini tidak sedang membahas itu.
Begitulah, ketika dalam sebuah film Civil War anda bisa sekaligus menonton aksi Spiderman, Iron Man, Captain America, Ant Man dan yang lain bertemu dalam satu film maka kepuasan adalah jaminannya.

Konsep menyatukan beberapa daya tarik tontonan kedalam satu wadah ini yang sadar atau tidak sadar dilakukan Liga Inggris.
Keberadaan bintang-bintang sepakbola dunia disana menjadi daya tarik tontonan setiap pekan.
Hal ini dipadu dengan tingkat persaingan di Liga Inggris yang ketat dan memacu adrenalin penonton.
Liga Inggris bukan sebuah liga domestic yang dimulai dengan 90% prediksi juara sudah bisa ditebak seperti halnya orang akan menunjuk Bayer Muenchen di Bundesliga Jerman, PSG di Ligue 1 Prancis atau duo Real Madrid dan Barcelona di La Liga Spanyol  serta Juventus di Serie A Italia sebagai calon kuat juara.
Anda tidak bisa serta merta menjagokan Chelsea, Manchester United (MU), Man City, Arsenal atau Liverpool saat musim kompetisi akan bergulir.
Liga Inggris punya banyak klub yang berpotensi membuat nama-nama klub diatas gagal mentas menjadi juara.
Keberadaan Tottenham Hotspurs dan Leicester City di papan atas dalam perebutan gelar juara Liga Inggris musim lalu menunjukkan bahwa Liga Inggris menawarkan kompetisi yang lebih ketat.
Inilah pula yang jadi daya tarik kompetisi ini meski pemain terbaik dunia seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo (CR7) tidak merumput disini.
Sebuah konsultan riset bisnis dan olahraga Sport + Mark pernah mengeluarkan data pada tahun 2011 yang menegaskan bahwa Liga Inggris adalah liga sepakbola paling digemari di dunia.
Tidak main-main, lebih dari 3 milyar orang menyaksikan Liga Inggris dari rumah dan 700 juta lebih menonton secara tersebar dari bar dan kafe di seluruh dunia.
Angka 5 tahun lalu itu dipastikan tidak akan berkurang dan bahkan mungkin bertambah di musim depan.
Apalagi jika menimbang bahwa musim baru Liga Inggris dipastikan akan berjalan lebih ketat  dan seru.
Bukan….bukan karena Zlatan Ibrahimovic akhirnya mau bermain di Liga Inggris usai menjajal Liga Italia dan Liga Spanyol.
Ibarat film Civil War, Ibra hanyalah seorang Falcon yang berada dibalik bayang-bayang Captain America, dia tokoh penting tapi bukan tokoh utama.
Liga Inggris musim depan dipastikan berjalan ketat karena kehadiran pakar-pakar taktik sepakbola disana.

Jika anda termasuk penonton Civil War yang terkagum-kagum  atau mungkin sampai baper dengan adegan pertempuran di bandara udara antara team Iron Man yang dihuni Vision, Black Panther, War Machine, Spiderman dan Black Widow melawan team Captain America yang berisi Ant Man, Hawkeye, Winter Soldier dan Scarlet Witch, tentu anda tidak akan kalah girang mendapati bahwa sekumpulan Manager papan atas kini bakal beradu kemampuan di Liga Inggris musim depan.
Ya, Liga Inggris tidak hanya menawarkan deretan bintang sepakbola dan pertarungan sengit menuju tangga juara tetapi kini juga menawarkan perang strategi dari sejumlah Manager papan atas sepakbola dunia.
Bagaimana anda menyebut sebuah kompetisi yang mempertemukan Arsene Wenger, Pep Guardiola, Antonio Conte, Juergen Klopp dan Jose Mourinho di dalam satu liga domestic? (jangan lupa masukkan nama Mauricio Pochettino dan Claudio Ranieri)
Liga Champions?
Bukan, karena tidak ada kepastian bahwa Manager-Manager papan atas itu akan berduel satu sama lain di kompetisi antar klub Eropa tersebut.
Tetapi di Liga Inggris, setiap Manager itu dipastikan tidak hanya saling beradu taktik menuju tangga juara tetapi juga akan saling menjatuhkan karena minimal akan bertemu dan bertarung 2 kali dalam satu musim kompetisi.
Ini belum mempertimbangkan kemungkinan mereka bertemu juga di Piala Liga dan Piala FA.
Ya, inilah Civil War versi Liga Inggris ketika orang-orang hebat ini disatukan dalam satu kompetisi dan mau tak mau harus saling bertarung.

Simak catatan masing-masing manager papan atas tersebut.
Arsene Wenger – pemenang dua kali double winner FA Cup dan Liga Inggris bersama Arsenal
Pep Guardiola – pelatih tersukses Barcelona dengan raihan juara La Liga, Liga Champions dan menjuarai Bundesliga bersama Bayer Muenchen.
Antonio Conte – Hattrick Scudetto bersama Juventus, salahsatunya diraih tanpa pernah kalah..wow
Juergen Klopp – Dua kali melewati hegemoni Muenchen dengan membawa Borussia Dortmund juara Liga Jerman dan meloloskan klub itu ke final Liga Champions 2012/2013.
Pada kesempatan pertama menangani Liverpool langsung membawa The Reds ke final Piala Liga dan Europa League (padahal Klopp belum menangani semusim penuh)
Jose Mourinho – juara di Liga Inggris, Liga Italia dan Liga Spanyol (tiga liga populer di Eropa) dan dua kali memenangkan Liga Champiosn…ckckck.. He is really The Special One
Kapan lagi anda mendapati manager-manager hebat ini berada di dalam satu liga domestic?

Bayangkan serunya pertemuan Arsenal dan Man City nanti.
Pertemuan Arsene Wenger dan Pep Guardiola yang sama-sama mempunyai filosofi permainan menyerang dengan mengedepankan penguasaan bola bakal jadi tontonan menarik.
Bagaimanapun, Arsenal kerap dipandang sebagai tim yang paling mendekati gaya permainan tiki taka saat Barcelona masih ditangani Pep.
Atau simak duel yang akan mempertemukan Antonio Conte dan Jose Mourinho.
Drama sudah pasti akan tersaji ketika Conte yang menangani Chelsea akan berhadapan dengan Jose Mourinho, mantan Manager The Blues yang masih punya ikatan psikologis kuat di hati fans Chelsea.
Di luar drama, adu strategi bakal jadi tontonan seru.
Bukan rahasia lagi ketika Conte mencuat saat membawa Juventus meraih gelar Scudetto, orang-orang sering menyebutnya sebagai Jose Mourinho baru di Serie A, merujuk pada kiprah The Special One saat menangani Inter Milan.
Kedua pelatih punya karakter keras dan disiplin kepada tim asuhannya.
Keduanya juga tidak segan-segan memainkan sepakbola yang mementingkan hasil akhir.
Maka ketika keduanya nanti beradu taktik diatas lapangan hijau, pencinta sepakbola mana yang begitu bodoh untuk tidak menyaksikan laga Chelsea vs MU?
Hasil gambar untuk jose mourinho manchester united
Jangan lupakan pula bahwa Liga Inggris dipastikan masih akan menyajikan duel klasikWenger melawan Mourinho yang penuh ketegangan.
Atau jika memasukkan nama Pochettino dan Ranieri, dua manager yang bersinar musim lalu, Liga Inggris jelas menjadi ajang pertarungan yang sesungguhnya bagi manager sepakbola papan atas.
Pun jika melihat potensi keseruan laga-laga yang melibatkan Liverpool dengan Juergen Klopp.
Ditengah hingar bingar keberadaaan Pep Guardiola dan Jose Mourinho kembali dalam satu liga domestic, Klopp adalah sosok ketiga yang punya potensi menyeruak mencuri perhatian.
Bagaimanapun Juergen Klopp bersama Borussia Dortmund sudah membuktikan, terutama kepada Pep Guardiola bahwa tanah Jerman tidak mudah untuk dikuasai.
Racikan Klopp pernah mengagalkan Guardiola bersama Muenchen memenangkan trofi Piala Jerman.
Jangan lupakan juga bahwa Borussia Dortmund yang diasuh Klopp lah yang mengandaskan langkah Jose Mourinho bersama Real Madrid di semifinal Liga Champions musim 2012/2013.

Liga Inggris jelas sudah menaikkan daya tarik mereka dengan keberadaan manager-manager papan atas di kompetisi ini.
Saking besarnya daya tarik keberadaan manager-manager itu, kedatangan sosok sekelas Jorge Sampaoli  dan Juande Ramos ke La Liga Spanyol seperti tidak terdengar gaung beritanya.
Padahal nama Sampaoli dan Ramos bisa dikategorikan sebagai nama manager yang punya prestasi untuk dikaitkan dengan klub elit.
Sampaoli mengantar Cile juara Copa America 2015 dan itu sempat membuatnya jadi calon manager Chelsea.
Apalagi dengan sosok Ramos, mantan Manager Real Madrid dan Tottenham Hotspurs yang membawa Sevilla juara UEFA Cup (sekarang Europa League) dua musim beruntun 2005/2006 dan 2006/2007.
Berita kedatangan mereka ke La Liga tidak seheboh kala Conte, Guardiola dan Mourinho memastikan tempat di bangku cadangan klub Liga Inggris.
Jika mau lebay, El Classico yang selama ini diagung-agungkan La Liga sebagai salahsatu tontonan sepakbola yang konon paling menyedot perhatian setelah final Liga Champions  patut berhati-hati menyimak potensi derby Manchester menjadi tontonan dunia yang lebih menarik.
Ya, pertemuan kembali Pep Guardiola di kubu biru Manchester dengan Mourinho di kubu merah Manchester adalah lakon yang paling dinantikan di Liga Inggris musim depan.
Dalam Civil War, ini ibarat klimaks saat penonton menunggu duel satu lawan satu antara Iron Man vs Captain America.
Pep Guardiola dan Jose Mourinho adalah puncak euforia dari keberadaan manager-manager papan atas dunia di Liga Inggris.
Apalagi dengan menambahkan bumbu bahwa keduanya akan terlibat dalam duel prestisius antar klub sekota di Manchester.
Sekedar mengingatkan saja, laga El Classico yang mementaskan racikan Pep di Barcelona dan Mourinho di Real Madrid selalu menghadirkan ketegangan dan keseruan layaknya sebuah final Piala Dunia atau partai puncak Liga Champions.
Liga Inggris sungguh beruntung mendapati keduanya berada di dalam satu kompetisi negara tersebut.
Keduanya melengkapi manager-manager papan atas lain yang berada disana.
Bersiaplah menyaksikan Civil War ala Liga Inggris.
Twitter @rizkimaheng

Selasa, 12 Juli 2016

Ulas Taktik - Kejelian Fernando Santos Membuat Portugal Beradaptasi Dengan Kehilangan CR7

Hasil gambar untuk Portugal euro 2016 eder
Kemenangan Portugal 1-0 atas tuan rumah Prancis dalam final Piala Eropa 2016 menyisakan cerita tentang cedera dini yang menimpa Cristiano Ronaldo (CR7).
Cedera yang didapati CR7 usai dihantam Dimitri Payet itu memang sejenak mengambil atensi laga cukup banyak.
Orang-orang terhenyak dan menyadari sekaligus sedih bahwa panggung final Piala Eropa itu kehilangan salahsatu actor utamanya.
Ibarat pementasan sandiwara, tokoh utamanya terlalu cepat mati di awal cerita.
Kehilangan terbesar jelas dirasakan oleh Portugal.
Dengan koleksi 3 gol sampai laga final, CR7 memang tidak sehebat yang diharapkan jika merujuk pada perfoma gila-gilaan yang ditunjukkannya kala berseragam Real Madrid.
Namun 3 gol mantan pemain Manchester United dan Sporting Lisbon itu sulit dipungkiri sangat berharga bagi tim nasional negaranya.
Dua gol CR7 menolong Portugal menahan imbang Hongaria dan lolos sebagai salahsatu tim peringkat tiga terbaik.
Kala melawan Kroasia, satu tembakannya yang mental menjadi jalan bagi Quaresma mencetak gol kemenangan.
Puncaknya kala CR7 mencetak 1 gol dan 1 assist ketika Portugal menundukkan Wales 2-0 di semifinal.
Maka, ketika CR7 harus mengakhiri laga di menit ke 25, Portugal tampak sangat terpukul, harapan juara seperti memudar.
Untungnya, cerita berbeda kemudian tertulis di lembar sejarah, Portugal lah yang menjadi juara.
Portugal tetap mampu menjaga tren mereka yang tidak pernah kalah sepanjang Piala Eropa 2016 dan menghukum lawan di babak kesukaan mereka, babak perpanjangan waktu.

Adalah seorang Fernando Santos yang menjadi kunci mengapa Portugal bisa tetap meredam serbuan Prancis dan balik memenangkan pertandingan di waktu yang tepat.
Portugal memainkan formasi 4-4-2 yang kemudian diterjemahkan menjadi 4-1-3-2.
William Carvalho menjadi gelandang bertahan di depan duet bek Fonte dan Pepe yang kembali dimainkan setelah pulih dari cedera dan memang dipersiapkan untuk berduel dengan Olivier Giroud di udara.
CR7 dan Luis Nani masih meneruskan strategi unik Santos yang mengubah dua penyerang sayap ini menjadi penyerang tengah.
Dibelakang mereka terdapat Joao Mario, Adrien Silva dan Renato yang menjadi trio gelandang serang saat Portugal melancarkan serangan dan balik membantu William mengcover pertahanan saat Portugal diserang.

Petaka sekaligus ujian taktik bagi Portugal dan Fernando Santos terjadi kala CR7 ditimpa cedera.
Keluarnya CR7 pada menit 25 membuat Quaresma masuk menggantikan sang kapten.
Disinilah Santos mulai memainkan strateginya untuk beradaptasi atas kehilangan CR7.
Ricardo Quaresma yang bertipikal penyerang sayap seperti Luis Nani tidak serta merta masuk mengisi posisi CR7 mendampingi Nani.
Quaresma ditempatkan disisi sayap kanan Portugal menggeser Renato yang bermain lebih kedalam untuk berduet dengan Adrien Silva.
Dengan perubahan ini, Portugal memainkan pola 4-1-4-1 dimana 4 gelandang di depan William Carvalho diisi oleh Mario di sayap kiri, Quaresma di sayap kanan dan duet Renato bersama Adrien Silva di tengah.
Santos tampaknya mulai memikirkan opsi untuk menguatkan lini tengah sekaligus membentengi pertahanan.
Hal tersebut dilakukan karena Santos melihat beberapa kali Matuidi dan Pogba leluasa menguasai lini tengah dan berujung pada tusukan Sissoko dan ancaman Griezmann.
Disamping itu, pola 4-1-4-1 menjadi bagian strategi Santos untuk memaksimalkan serangan dari sayap.
Sayangnya, rencana tersebut tidak berjalan sempurna.
Serangan Portugal dari sayap tetap berjalan namun tidak ada eksekutor buas di kotak penalty.
Luis Nani bukan tipikal penyerang sayap yang bisa bertransformasi menjadi penyerang haus gol seperti halnya CR7.
Meski demikian, sejumlah momen kala umpan lambung silang Portugal berhasil masuk ke kotak penalty Prancis memberikan ide lain bagi Santos.

Ketiadaan CR7 memang meniadakan unsur ketajaman di lini depan saat serangan balik dan sekaligus juga membuat Portugal kehilangan target man yang bisa menyambut umpan lambung silang seperti kala CR7 mencetak gol sundulan ke gawang Hongaria dan Wales.
Atas dasar itu, Santos mulai menimbang untuk memasukkan seorang penyerang murni seperti Eder (sepanjang turnamen belum sekalipun Santos memainkan seorang penyerang murni sebagai starter dalam taktiknya).
Rencana Santos itu mulai direalisasikan dengan memasukkan Moutinho menggantikan Adrien Silva pada menit 66.
Secara taktikal, penggantian ini lebih banyak ditujukan untuk menjaga stamina di lini tengah karena Santos menyadari penggantian terakhir mereka nanti adalah seorang penyerang tengah.

Hasil gambar untuk Portugal euro 2016 fernando santos
Stamina yang terjaga ditengah akan memberikan fokus bagi para pemain sayap untuk mengirimkan umpan lambung silang.
Pilihan Santos memasukkan Eder yang memiliki tinggi 190 cm adalah bagian dari taktik untuk memaksimalkan serangan-serangan dari umpan lambung silang.
Menit 79, Eder akhirnya masuk menggantikan Renato.
Masuknya Eder sebagai penyerang tengah menggeser Luis Nani ke posisi aslinya di sisi sayap berduet dengan Quaresma di sisi sayap seberangnya (pada beberapa momen keduanya bertukar sisi sayap).
Joao Mario bergeser ke tengah untuk berduet bersama Moutinho di depan William Carvalho.
Praktis Portugal tetap memainkan pola 4-1-4-1 dengan perubahan ke 4-3-3 saat menyerang.

Serunya, Didier Deshamps membaca taktik itu dan menginstruksikan pemainnya untuk memberikan pressure pada sisi sayap Portugal.
Alhasil, umpan-umpan lambung silang yang direncanakan Portugal tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Tidak banyak umpan lambung silang yang dapat diberikan kepada Eder.
Gagal dengan umpan lambung silang dari sayap, pemain Portugal berkreasi dengan mengirimkan umpan datar dari sayap.
Adalah gol Eder pada menit 109 menjadi buah manis kreatifitas itu.
Moutinho yang menguasai bola di sisi kanan area permainan Prancis memberikan umpan datar pada Eder yang sedikit melebar ke sayap untuk menjemput bola.
Dengan kerja kerasnya membawa bola dari sisi sayap ke depan kotak penalty Prancis, Eder menuntaskannya dengan tembakan keras yang menghujam gawang Hugo Lloris, gol!
Keunggulan satu gol membuat Deshamps memasukkan Anthony Martial sebagai penyerang tambahan menggantikan Sissoko.
Terlambat, Portugal sudah nyaman dengan pola 4-1-4-1 yang dikondisikan untuk bertahan dan menjaga skor tetap 1-0.

Fernando Santos dengan jeli membuat Portugal berhasil beradaptasi atas kehilangan pemain utama mereka, CR7.
Meski jangan juga dilupakan bahwa ada peran Pepe dan Rui Patricio di lini pertahanan Portugal yang meredam serbuan tuan rumah, Eder yang mengejutkan serta CR7 yang mendadak jadi Asisten Manager di pinggir lapangan.
Selamat Portugal.

Sabtu, 09 Juli 2016

Prediksi Final Euro 2016 - Siklus 12 Tahun Mengantarkan Portugal Jadi Raja Eropa

Hasil gambar untuk portugal euro 2016
Portugal dan Prancis akhirnya menjadi dua tim terakhir yang masih bertahan di turnamen sepakbola terbesar benua biru.
Keduanya akan melakoni laga puncak final Piala Eropa 2016.
Suka atau tidak suka, inilah dua tim yang paling mampu bertahan dan menaiki satu tangga lagi menuju trofi juara.
Ya, keduanya boleh jadi bukan tim terbaik turnamen seperti Italia yang mempesona lagi dengan Catenaccio, Jerman yang masih menunjukkan kualitas tim juara Piala Dunia 2014 atau Belgia yang hadir di Prancis sebagai tim dengan peringkat FIFA terbaik dari seluruh peserta plus deretan pemain bintang di semua lini.
Portugal dan Prancis adalah tim yang mampu melaju jauh sampai final karena kombinasi keberuntungan dan kualitas teknis.

Semua penikmat sepakbola boleh berpendapat bahwa Prancis sejak awal banyak diuntungkan dalam turnamen ini.
Status mereka sebagai tuan rumah membuat Giroud dkk mendapat suntikan semangat dari supporter tuan rumah sebagai pemain ke 12.
Belum lagi mempertimbangkan fakta bahwa dua gelar juara terakhir Prancis di Piala Eropa 1984 dan Piala Dunia 1998 terjadi kala mereka berstatus tuan rumah.
Pun dengan undian fase grup yang menempatkan Les Bleus di grup yang tergolong sangat ringan.
Prancis berada di grup yang hanya berisikan Albania, Swiss dan Rumania, tim-tim yang diatas kertas mudah untuk ditaklukkan.
Sesuai prediksi, Prancis melalui fase grup dengan baik sebagai juara grup.
Ketika turnamen berlanjut ke fase gugur, Prancis mendapati lawan yang terbilang mudah bahkan saat mereka berada di bagan undian berat yang berisi Spanyol, Italia, Jerman dan Inggris.
Prancis “hanya” menghadapi Irlandia di babak 16 besar dan kemudian secara mengejutkan “terhindar” dari Inggris dan mendapati Islandia di babak perempat final.
Ujian sesungguhnya bagi Prancis baru hadir saat bersua juara Piala Dunia 2014 Jerman di semifinal.
Benar saja, untuk pertama kalinya sepanjang turnamen Prancis tidak mampu menguasai permainan.
Jerman benar-benar menjadi lawan tangguh yang mendominasi mereka.
Disinilah takdir berbicara untuk Prancis.
Meski ditekan sedemikian rupa, anak asuh Didier Deschamps memenangi laga dengan skor 2-0.
“kami sudah menampilkan permain terbaik kami tapi tetap saja kalah” kata Toni Kroos usai laga.
Ya, bahkan penampilan terbaik Jerman sendiri tidak bisa menyingkirkan tuan rumah dari turnamen di negara mereka sendiri.
Tuah magis sebagai tuan rumah terjadi lagi untuk Prancis?
Nanti dulu.

Berbicara soal keberuntungan, adalah Portugal yang bisa dikatakan sebagai tim paling dinaungi keberuntungan.
Melihat perjalanan anak asuh Fernando Santos sampai ke laga puncak, terlihat benang merah keberuntungan yang melekat pada CR7 dkk.
Berada di grup yang terbilang ringan bersama Islandia, Austria dan Hongaria, Portugal justru hanya lolos sebagai tim peringkat tiga terbaik.
Ironisnya, runner up Piala Eropa 2004 itu bahkan tidak pernah memenangkan laga dan terus memetik hasil imbang di fase grup.
Kritik mulai mengalir deras, Portugal dianggap tidak pantas menjadi salahsatu tim unggulan turnamen.
Status peringkat ketiga terbaik kemudian menempatkan Portugal di bagan undian yang terbilang ringan karena hanya berisikan Polandia, Wales, Kroasia, Irlandia Utara, Hongaria dan Belgia.
Praktis di bagan ini, CR7 dkk justru menjadi “tim unggulan” bersama Belgia.
Portugal sendiri mendapatkan Kroasia sebagai lawan mereka di babak 16 besar.
Suatu keberuntungan bukan?

Bayangkan jika Portugal menjadi juara grup, mereka akan berhadapan dengan Belgia, tim dengan peringkat FIFA terbaik di turnamen ini.
Atau pun jika lolos sebagai runner up grup, Portugal bahkan harus meladeni Inggris.
Sampai disini terlihat bahwa “ketidakmampuan” Portugal memenangi laga di fase grup adalah jalan takdir mereka untuk menemui anak tangga yang lebih ringan ke fase-fase selanjutnya.
Keberuntungan makin akrab dengan Portugal ketika menaklukkan Kroasia di babak 16 besar.
Kroasia, tim yang menundukkan juara bertahan Spanyol sejatinya memenangi permainan tapi tidak pada hasil akhirnya.
Mendominasi sepanjang laga, Luka Modric dkk disingkirkan oleh satu gol Ricardo Quaresma jelang babak perpanjangan waktu berakhir.
Portugal kembali mementaskan skenario yang sama di fase perempat final.
Meski diatas kertas seharusnya bisa melewati Polandia dengan mudah, anak asuh Fernando Santos membutuhkan drama adu penalty untuk menyingkirkan Lewandowski dkk.
Sederhananya, sampai semifinal tim ini tidak sekalipun menang di waktu normal.
Disinilah letak keberuntungan Portugal.

Orang-orang boleh mengatakan bahwa Portugal tidak lebih baik daripada Kroasia, Belgia atau Wales, tim-tim yang berada pada bagan “ringan” undian fase gugur Piala Eropa 2016.
Faktanya tim ini mampu terus melaju sampai ke laga puncak.
Serunya lagi, perjalanan Portugal juga berbicara bahwa tim ini bukan soal keberuntungan semata.
Ada perpaduan kualitas teknis di tim ini.
Saat CR7 off, masih ada Luis Nani, Ricardo Quaresma dan Renato yang mengisi peran vital sang kapten.
Quaresma menunjukkannya di babak 16 besar, lalu Renato di fase perempat final dan Luis Nani memperlihatkannya bersama CR7 di fase semifinal.
Ketiadaan William Carvalho dan Pepe saat laga semifinal juga mampu ditutup dengan baik oleh Danillo dan Bruno Alves.
Kemenangan perdana 2-0 di waktu normal saat menyingkirkan Wales menjustifikasi bahwa tim ini punya segala modal yang dibutuhkan untuk bertarung di partai final.
CR7 dkk punya modal teknis dan keberuntungan.
Pertanyaannya, sanggupkah modal itu menghentikan tuan rumah di partai final?

Modal teknis Portugal dan Prancis sejatinya bisa dikatakan nyaris berimbang.
Di lini pertahanan kedua tim punya nama besar sekelas Pepe dan Laurent Koscielny, meski Prancis bisa dikatakan sedikit lebih baik karena Koscielny punya rekan-rekan yang sudah teruji seperti Patrice Evra dan Bacary Sagna.
Di lini tengah, Prancis bisa dikatakan memiliki kualitas yang lebih mewah dengan keberadaan Paul Pogba, Matuidi, Payet, Kante dan Sissoko.
Portugal?
Mereka punya Willian Carvalho atau Danillo, Ricardo Quaresma, Renato, Joao Mario dan Joao Moutinho.
Nama-nama ini jelas belum sefamiliar nama-nama di kubu Prancis, namun kegemilangan performa mereka yang mengantar Portugal ke partai final cukup jadi indikasi bahwa kualitas mereka layak diadu.
Keliatan kalah mengkilap di lini belakang dan tengah, Portugal unjuk kemewahan di lini depan karena factor sang kapten, pemain terbaik dunia, CR7.
   Hasil gambar untuk cristiano ronaldo euro 2016
Bersama Luis Nani, pemain yang sempat dianggap sebagai kloningan CR7 di Manchester United (MU), keduanya menjadi pion strategi Fernando Santos yang memilih menempatkan keduanya sebagai duet penyerang dalam formasi 4-4-2.
Inilah salahsatu terobosan taktik Fernando Santos yang berseberangan dengan pelatih-pelatih Portugal sebelumnya.
Pendahulu Fernando Santos kerap memainkan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 untuk memaksimalkan Nani dan CR7 sebagai penyerang sayap.
Di tangan Santos, alih-alih memainkan Nani dan CR7 di sisi penyerangan sayap, sang juru taktik malah menduetkan keduanya sebagai penyerang tengah dimana CR7 diberi kebebasan bergerak kemana saja dan Luis Nani cenderung bergerak di belakang sang kapten.
Pilihan taktik ini membuat Portugal seakan-akan bermain tanpa striker dan memaksimalkan keberadaan 6 gelandang diatas lapangan.
Duet Nani dan CR7 sebagai gelandang atau penyerang sayap yang bertransformasi menjadi penyerang tengah sejauh ini berjalan sangat baik.
Kecepatan Nani dan CR7 membuat Santos leluasa menerapkan garis pertahanan rendah untuk menyerap serangan lawan dan melakukan serangan balik cepat memanfaatkan kecepatan lari kedua mantan pemain MU itu.

Jika Portugal punya strategi unik di lini penyerangan, pun demikian dengan Prancis.
Keputusan Deschamps memindahkan posisi Griezmann dari penyerang sayap menjadi penyerang di belakang Olivier Giroud berbuah manis.
Griezmann serasa bermain dengan strategi yang sama di Atletico Madrid kala dirinya berduet di belakang Fernando Torres.
Hasilnya, pemain bernomor punggung 7 itu memuncaki daftar pencetak gol terbanyak turnamen dan menjadi pahlawan Prancis kala menyingkirkan Irlandia dan Jerman.
Pilihan Deschamps untuk memainkan pola 4-2-3-1 meninggalkan formasi 4-3-3 kala melawan Rumania di laga pembuka juga membuat peran Giroud lebih terlihat.
Penyerang Arsenal itu sudah mencetak 3 gol dan beberapa kali mampu menjadi tembok pemantul bola bagi Griezmann yang datang menusuk di belakangnya.
Portugal dan Prancis sama-sama punya strategi jitu untuk saling mengalahkan.
Kedua tim juga sama-sama punya modal keberuntungan seperti yang sudah diulas diatas.
Prancis mendapati fase grup, babak 16 besar dan perempat final yang “mudah” dan kemudian berhasil melewati ujian berat bernama Jerman.
Portugal mampu lolos sampai semifinal meski tidak pernah menang (juga tidak pernah kalah) di waktu normal, berada di bagan undian fase gugur yang relative ringan dan melaluinya dengan kemenangan di perpanjangan waktu serta babak adu penalty lalu memecahkan kebuntuan gagal menang di waktu normal kala menekuk Wales 2-0 di semifinal.

Well, jika Portugal dan Prancis sama-sama berbekal keberuntungan dan kualitas teknis, keduanya juga memiliki modal sejarah ditangan masing-masing.
Dan disinilah factor kunci yang menjadi pembeda hasil akhir laga nanti.
Seperti yang sudah banyak dibahas, Prancis memiliki sejarah memenangi turnamen besar ketika bertatus tuan rumah.
Piala Eropa 1984 dan Piala Dunia 1998 adalah buktinya.
Namun yang jarang diangkat (mungkin karena jarak waktu yang jauh kebelakang), Prancis juga pernah gagal kala berstatus tuan rumah turnamen besar.
Adalah Piala Dunia 1938 dan Piala Eropa 1960 menjadi catatan sejarah buruk kala Prancis menjadi tuan rumah dan gagal menjadi juara.  
Artinya factor sejarah Prancis sebagai tuan rumah punya potensi untuk digagalkan.

Bagaimana dengan Portugal?
Sejak Denmark mengejutkan dunia dengan keberhasilan mereka memenangi Piala Eropa 1992, turnamen ini punya siklus 12 tahunan untuk memunculkan juara baru.
Tengok catatan sejarah ketika Denmark menjuarai Piala Eropa 1992, 12 tahun kemudian pada Piala Eropa 2004 Yunani mencatatkan nama mereka sebagai juara baru Piala Eropa.
Kini di Piala Eropa 2016, semua factor sejarah lebih condong untuk memenangkan Portugal.
Runner up Piala Eropa 2004 itu akan menghadapi tuan rumah Prancis saat siklus 12 tahunan tiba.
Mungkin ini pula yang jadi penjelasan mengapa Portugal bisa tetap melaju sampai ke partai puncak meski permainan mereka tidak mengagumkan bagi banyak orang.
Lagipula, CR7 dan Antoine Griezmann yang jadi bintang utama di kedua team sudah mementaskan “laga pemanasan” di final Liga Champions 2016 yang kemudian dimenangkan CR7.
Saatnya Portugal menjadi juara baru Piala Eropa.
Twitter@rizkimaheng