Masih Ada Hidup Bagi MU Setelah Ibrahimovic Cedera

Perjuangan Manchester United (MU) untuk mendapatkan tiket ke Liga Champions musim depan lewat jalur empat besar Liga Inggris dan atau trofi juara Liga Europa benar-benar mendapatkan ujian berat.
Jadwal di Liga Inggris dan Liga Europa membuat Wayne Rooney dkk masih harus menjalani rangkaian laga yang hanya berjarak beberapa hari.
Ketatnya jadwal MU bahkan bisa saja terus terjadi sampai final Liga Europa Mei nanti jika anak asuh Mourinho mencapai partai puncak.
Kondisi yang menuntut kebugaran dan fokus para pemain harus berada pada titik terbaik.
Hal ini yang tidak ditemui oleh Liverpool, Man City dan Arsenal, pesaing MU menuju empat besar Liga Inggris yang sudah tidak memiliki laga di kompetisi Eropa.

Di tengah tantangan jadwal ketat tersebut, MU mendapatkan pukulan hebat dengan cederanya striker utama mereka Zlatan Ibrahimovic.
Pencetak gol terbanyak timnas Swedia itu mendapatkan cedera usai salah mendarat pada Leg Kedua Perempat Final Liga Europa melawan Anderlecht.
Zlatan Ibrahimovic melengkapi daftar pasien tim medis MU bersama Rojo, Juan Mata, Smailing dan Phil Jones.
Munculnya nama Ibra dalam daftar pemain cedera tampak lebih mengkhawatirkan ketimbang absennya Rojo, Mata dan duo bek tengah Smailing dan Jones.
Ketiadaan Mata tidak terlalu terasa efeknya karena MU masih punya Mkhitaryan dan Lingard yang bisa mengisi posisi pemain timnas Spanyol itu dengan baik.
Posisi Mata bahkan masih menyisakan Rashford, Martial dan Rooney yang bisa memerankan gelandang serang di belakang striker utama dalam pola 4-2-3-1.
Adapun absennya Smailing dan Jones  memang membuat MU hanya memiliki Blind dan Bailly di posisi bek tengah namun lini belakang MU tetap kokoh dalam 3 laga terakhir di Liga Inggris.
Pertahanan MU bahkan tidak pernah kebobolan meski diantaranya harus meladeni calon kuat juara Liga Inggris, Chelsea.
Keberadaan gelandang sekelas Carrick, Pogba, Herrera dan Fellaini yang melapis pertahanan dari lini tengah ikut membantu kokohnya lini belakang MU.
Pertanyaannya, bagaimana dengan efek ketiadaan Ibrahimovic?

Ibra sudah membuktikan bahwa umur hanyalah angka yang tertulis diatas kertas.
Performanya diatas lapangan tidak menunjukkan bahwa usianya sudah mendekati akhir karir.
Total 17 gol yang dihasilkannya di Liga Inggris menjadi bukti bahwa legenda timnas Swedia ini memang punya taji untuk memimpin lini depan MU di Liga Inggris.
Dampak Ibra di lini depan MU juga terbukti dengan raihan dua buah trofi juara MU di bawah rezim Mourinho sejauh ini.
Trofi Community Shield dan juara Piala Liga Inggris menghiasi musim pertama The Special One di MU berkat gol-gol penentu kemenangan yang dihasilkan Ibra dalam dua laga memperebutkan trofi-trofi tersebut.
Wajar jika kemudian kekhawatiran merebak kala Ibra divonis tidak akan merumput lagi sampai akhir musim ini akibat cedera yang didapatinya di Liga Europa.
MU dalam bahaya?
Jawabanyan, tidak juga.

Jika kita mencermati 3 laga terakhir MU yang berisikan 2 laga Liga Inggris dan 1 laga Liga Europa, sesungguhnya tanda-tanda ketergantungan MU pada Ibrahimovic perlahan-lahan pudar.
Tanda-tanda tersebut mulai terlihat  kala Mourinho secara mengejutkan membangkucadangkan Ibra meski MU harus meladeni The Blues Chelsea.
Di tengah tuntutan mengejar posisi 4 besar, Mourinho menurunkan Rashford sebagai tumpuan lini depan disokong Jesse Lingard.
Berbekal dua anak muda di barisan penyerang, MU menggelar permainan cepat dengan Rashford memanfaatkan kecepatan dan kelincahan gerakannya untuk membuat trio bek Chelsea kocar kacir.
Gol pertama dicetak Rashford setelah menaklukkan David Luiz dalam duel sprint mengejar umpan terobosan Ander Herrera.
Pada gol kedua gantian Rashford menyodorkan umpan pada Herrera usai menusuk ke kotak penalti The Blues dan susah payah dikawal oleh bek -bek Chelsea.
Kekuatiran akan ketiadaan Ibra di lini depan makin terbantahkan usai Rashford kembali beraksi saat MU melewati hadangan Anderlecht di Liga Europa.
Pemuda yang digadang-gadang sebagai striker masa depan MU ini menyumbangkan assist pada gol pertama MU yang dilesakkan Mkhitaryan.
Gol kedua yang mengantarkan kelolosan MU dicetak dengan elegan oleh Rashford.
Menerima bola dalam kotak penalti, Rashford melakukan gerakan kaki untuk mengelabui dua bek Anderlecht yang menghadangnya.
Lewat sepakan kaki kiri yang tidak terlalu kencang, bola bergulir di sisi kiri gawang tanpa mampu dicegah Ruben, kiper Anderlecht yang malam itu sebenarnya tampil prima.
Di luar gol tersebut, fans MU disajikan fakta bahwa gol kemenangan itu lahir meski Ibra sudah tidak berada di atas lapangan karena harus keluar akibat cedera.
Artinya MU masih bisa memenangkan laga ketat tanpa sosok Ibra di lini depan.

Bukti “kemerdekaan” MU dari peran kunci Ibra di lini depan semakin jelas dalam kemenangan 2-0 MU atas Burnley.
Dua striker lain yang dimiliki MU, Wayne Rooney dan Anthony Martial menyumbang dua gol kemenangan.
Pada laga tersebut, lini depan MU tidak mati kutu meski menghadapi pertahanan berlapis Burnley.
Rashford yang masuk sebagai pemain pengganti pun tetap konsisten menebarkan ancaman ke gawang Burnley yang dikawal Tom Heaton.
Tiga laga yang sudah berlalu tanpa konstribusi Ibra di lini depan namun tetap menelurkan hasil positif bagi MU adalah sinyal bahwa fans MU tidak perlu menangisi cederanya Ibra.
Masih ada kehidupan bagi MU setelah cederanya Ibrahimovic.
Mereka harus bersyukur masih memiliki Rashford yang tengah on fire dengan 2 gol dan 2 assist dalam 3 laga terakhir.
Di belakang pemuda berusia 19 tahun ini , MU masih punya Anthony Martial, Wayne Rooney dan Lingard yang tengah haus pembuktian.
Martial dan Rooney sudah membuktikannya saat MU menekuk Burnley.
Adapun Lingard memiliki catatan unik seperti Ibra yaitu selalu mencetak gol dalam dua keberhasilan MU memenangkan trofi Community Shield dan Piala Liga Inggris.
Tanda-tanda mental juara bukan?

Prediksi Perempat Final Liga Champions - Juve, Monaco dan Duo Madrid Melaju Ke Semifinal


Serunya perempat final Liga Champions musim ini langsung tersaji pada laga leg pertama.
Tidak ada satupun laga berakhir imbang atau menuntaskan pertandingan tanpa gol.
Juve menundukkan tamunya Barcelona 3-0 dan Borussia Dortmund kalah dikandang sendiri 2-3 dari Monaco.
Pada laga final kepagian Bayern Muenchen vs Real Madrid, anak asuh Ancelotti ditundukkan tamunya 1-2 dan pada laga lain Atletico hanya menang tipis 1-0 kala menjamu Leicester.
Leg Pertama Perempat Final Liga Champions memberikan gambaran betapa 8 tim yang tersisa pantas berada di fase tersebut.
Secara umum perempat final memberikan gambaran dua tuan rumah yaitu Juventus dan Atletico memenangi laga kandang sembari menjaga gawang mereka tidak kebobolan.
Disisi lain, dua tuan rumah yang kebetulan sama-sama berasal dari Jerman (Muenchen dan Dortmund) ditaklukkan tamunya masing-masing meski masih mampu menjaga kekalahan hanya dengan selisih satu gol.

Dengan fakta-fakta diatas, tampaknya Juve, Monaco, Madrid dan Atletico punya peluang besar untuk terus melaju ke fase semifinal.
Hasil positif yang diraih pada leg pertama turut mempengaruhi kemana angin berhembus untuk mendorong tim lolos ke semifinal.
Juve dan Atletico melakoni laga tandang dengan modal kemenangan.
Real Madrid dan AS Monaco bahkan bertindak sebagai tuan rumah leg kedua dengan modal keunggulan aggregate.
Peluang terbesar jelas ada pada Juventus.
Meski Barcelona sudah pernah melakukan keajaiban comeback saat menundukkan PSG, Juventus jelas bukan tim yang semudah itu ditundukkan Messi dkk.
Si Nyonya Tua adalah tim dengan pertahanan terbaik di Serie A Italia dan hal itu sudah menunjukkan bagaimana level pertahanan Juventus.
Tambahkan juga Allegri pasti sudah mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi di Camp Nou.
Kemungkinan terburuk  yang mungkin dialami Buffon dkk adalah Juve kalah di leg kedua namun tetap lolos ke semifinal.
Modal 3-0 Juve terlalu bagus untuk dilewatkan.

Diluar Juventus, tim-tim pemenang Leg Pertama wajib mewaspadai skor tipis yang masih membuka peluang kelolosan bagi semua tim.
Atletico Madrid wajib mewaspadai skor 1-0 yang mereka raih atas The Foxes.
Tanyakan bagaimana Sevilla tersingkir di kandang Leicester meski sudah unggul 2-1 pada leg pertama.
Leicester tentu berpeluang mengulang performa luar biasa tersebut tetapi rasanya tidak akan sampai menyingkirkan anak asuh Diego Simeone.
Atletico tidak akan sekonyol itu membiarkan Leicester merajalela seperti saat menyingkirkan Sevilla.
Hasil kontras yang dirah kedua klub di liga masing-masing memperlihatkan tim mana yang lebih siap meneruskan perjalanan di Liga Champions musim ini.
Atletico menang 3-0 (bisa 5-0 jika 2 eksekusi penalti berhasil) atas Osasuna sedangkan Jamie Vardy dkk ditahan imbang 2-2- oleh Crystal Palace meski sempat unggul 2-0.
Atletico dapat memastikan La Liga memiliki wakil di fase semifinal.
Pun demikian dengan seteru sekotanya Real Madrid berpeluang memastikan wakil La Liga bukan hanya satu tetapi dua tim.

Berbekal kemenangan 2-1 di kandang Muenchen, Madrid perlu mengalami hari paling buruk untuk tersingkir usai unggul di leg pertama dan bermain sebagai tuan rumah pada leg kedua.
CR7 dkk adalah juara bertahan Liga Champions dan jangan lupakan bahwa dua gelar terakhir Madrid di kompetisi ini hadir dalam 3 musim terakhir.
Kondisi tersebut memberikan gambaran betapa tim ibukota Spanyol ini tengah on fire di benua biru.
Konsistensi performa juga dapat terus dijaga karena beberapa personal yang turut berperan penting dalam raihan dua gelar Liga Champions terakhir masih berada dalam tim dan masih memiliki peran krusial seperti Zinedine Zidane, CR7, Sergio Ramos, Pepe, Marcelo dan Karim Benzema.
Muenchen berpotensi terhenti di fase ini.

Kemungkinan tersingkirnya Bayern Muenchen tampaknya akan menjadi berita buruk bagi Bundesliga karena wakil Jerman lainnya Borussia Dortmund berada dalam misi sulit melawat ke Prancis dengan membawa kekalahan 2-3.
Keberhasilan AS Monaco memastikan Man City tersingkir di kandang klub Prancis itu memperlihatkan level kesulitan yang akan dihadapi Dortmund.
Jika klub selevel Man City saja yang ditangani pelatih sekelas Pep Guardiola gagal memaksimalkan modal kemenangan  5-3 dan pulang tanpa membawa tiket ke fase selanjutnya maka bisa apa Borussian Dortmund?
Hanya nasib sial saja yang bisa menghentikan laju Monaco.
Terlepas dari insiden bom di leg pertama yang dianggap merugikan Dortmund, Monaco memperlihatkan mereka jauh lebih hitam dan pekat untuk menyandang status sebagai kuda hitam Liga Champions musim ini.
Satu kuda hitam bakal tersingkir dari laga ini dan karena itu adalah Dortmund maka semifinal nanti tidak akan menampilkan satu pun wakil dari Bundesliga Jerman.
AS Monaco membuat Ligue 1 Prancis memiliki wakil di semifinal bersama wakil Serie A Juventus dan dua finalis musim lalu dari La LIga Spanyol, Real Madrid dan Atletico Madrid di fase semifinal.


David Moyes, Mantan Manager MU Yang Kian Terpuruk

Apakah anda pernah merasakan promosi jabatan dan menjadi seseorang di posisi yang lebih baik kemudian dianggap gagal pada posisi promosi tersebut dan lalu turun dari jabatan itu?
Atau yang lebih mengenaskan, usai turun dari jabatan yang dipromosikan pada anda itu kemudian karir anda terus menurun?
Semoga saja tidak namun jika iya maka mungkin anda merasakan hal sama yang dirasakan David Moyes.
Pria asal Skotlandia ini tadinya dipandang sebagai salahsatu pelatih potensial asal Britania Raya seturut keberhasilannya menjaga klub papan tengah seperti Everton konsisten berada di 10 besar klasemen dan kerap menjelma menjadi kuda hitam yang merangsek dalam pertempuran menuju 4 besar klasemen Liga Inggris.
Di tangan Moyes, Everton boleh jadi memiliki skuad biasa-biasa saja namun konsisten mempertontonkan hasil akhir musim yang memuaskan bagi manajemen Everton.
Jauh sebelum Ronald Koeman membawa The Toffess tampil kompetitif di papan tengah Liga Inggris musim ini, Everton versi David Moyes sudah secara konsisten berada di papan tengah dan bikin deg-degan klub-klub elit.
Setiap laga melawan Everton versi Moyes kala itu dimaknai sebagai pertandingan melawan tim kuda hitam paling konsisten di Liga Inggris.
Selama 11 tahun Moyes menangani Everton, 3 kali dirinya memenangkan perhargaan Manager of The Year Premier League pada musim 2002/2003, 2004/2005 dan 2008/2009.
Memenangkan penghargaan ini sebanyak 3 kali saat menukangi tim sekelas Everton tentu jadi gambaran betapa besarnya potensi Moyes sebagai seorang manager.

Konsistensi dan potensi pria yang lahir di Glasgow inilah yang kemudian jadi salahsatu alasan Sir Alex Ferguson meyakinkan manajemen MU untuk merekrut David Moyes sebagai suksesornya.
Tidak tanggung-tanggung, Moyes langsung diberikan kontrak selama 6 tahun untuk menangani MU.
Tentu manajemen MU berharap 6 tahun itu adalah 6 tahun yang penuh kejayaan.
Namun fakta berkata lain.
Belum genap semusim menangani MU, Moyes didepak karena dianggap tidak mampu mempertahankan kedigdayaan MU semasa ditangani Sir Alex Ferguson.
MU menjadi mudah kalah melawan tim yang diatas kertas seharusnya mudah ditaklukkan.
Banyak yang menyayangkan pemecatan Moyes karena dianggap tidak memberikan waktu lebih banyak bagi manager baru MU itu menunjukkan hasil kerjanya,
Secara statistik, persentase kemenangan Moyes di MU adalah yang tertinggi sepanjang karirnya.
Bersama Everton, Moyes mencatat persentase kemenangan 42.08% sedangkan bersama MU, Moyes mencatatkan persentase 52.94%.
Artinya ada potensi yang belum sepenuhnya ditunjukkan Moyes dan harus berakhir karena keputusan pemecatan dirinya.

Kepindahan Moyes ke MU adalah sebuah peningkatan karir yang luar biasa namun pemecatan dirinya dari posisi manager MU adalah awal dari menurunnya karir Moyes.
Lepas dari MU, Moyes berlabuh ke Real Sociedad di La Liga Spanyol pada 10 November 2014.
Hadir di tanah Spanyol, Moyes bertekad menjadikan Real Sociedad seperti Everton-nya Liga Spanyol.
Tekad dan harapan berlalu begitu saja.
Tidak banyak catatan hebat yang dibuat Moyes di klub ini selain keberhasilan mengalahkan Barcelona 1-0 dalam sebuah laga La Liga.
Sisanya, Moyes tidak mampu berbuat banyak mengangkat performa Sociedad dan harus mengalami pemecatan kedua pada 9 November 2015 atau hanya setahun berselang sejak kedatangannya menjajal La Liga Spanyol.
Masalah bahasa dan komunikasi dianggap menghambat kinerja Moyes di tanah Spanyol.
Sampai disini orang masih memaklumi kegagalan Moyes.
Jika orang memaklumi kegagalannya di MU karena terlalu cepat dipecat maka kegagalannya di Real Sociedad memunculkan alasan karena kendala bahasa dan komunikasi.
Moyes masih dipandang sebagai sosok manager berkualitas.

Adalah Sunderland yang kini memanfaatkan jasa David Moyes sebagai juru racik strategi tim pada Premier League musim 2016/2017.
Kembalinya Moyes ke ranah Liga Inggris bersama Sunderland seharusnya menjadi ajang pembuktian bagi dirinya.
Sunderland memiliki skuad yang cukup mumpuni untuk bertarung menembus papan tengah klasemen seperti halnya Everton jaman dulu,
Ada nama-nama yang berpengalaman di Liga Inggris bersama klub-klub elit seperti Jermain Defoe, John O'Shea dan Joleon Lescott.
Tambahkan pula nama-nama pemain yang punya potensi besar namun tidak dapat waktu bermain yang banyak di klub lama mereka seperti Adnan Januzaj, Paddy Mc Nair dan Fabio Borini.
Dengan modal skuad tersebut, Sunderland seharusnya bisa beredar di papan tengah klasemen Liga Inggris.
Apalagi tidak ada kendala bahasa seperti yang dialami Moyes di La Liga Spanyol.
Sunderland adalah klub terbaik bagi Moyes untuk menaikkan kembali karirnya sebagai seorang manager hebat.
Apa yang terjadi?
Alih-alih membawa Sunderland menembus papan tengah Liga Inggris, Sunderland justru terbenam di jurang degradasi dan bisa dikatakan mustahil untuk lolos dari status terdegradasi di akhir musim ini.
Moyes gagal memanfaatkan kesempatan terbaik untuk membuktikan kapabilitasnya sebagai seorang manager yang pernah dianggap pantas menduduki kursi manager MU.
David Moyes akan selalu menjadi sosok yang dikenal sebagai suksesor seorang manager legendaris sekelas Sir Alex Ferguson untuk sekedar dipecat sebelum akhir musim dan lalu terus mengalami penurunan kinerja sebagai seorang manager.


Europa League, Jalan Terbaik MU Meraih Tiket Liga Champions

Dalam sebuah tayangan siaran langsung Program Football Insight di Berita Satu TV pada 21 Maret 2017, sebagai Analis Sepakbola saya diminta mengulas jalan terbaik bagi Manchester United (MU) menuju kompetisi Liga Champions musim depan.
Pertanyaan itu muncul karena MU akhirnya berhasil melepaskan diri dari posisi 6 klasemen yang lama dihuninya.
Butuh sekitar 184 hari dan catatan 18 laga tak terkalahkan di Liga Inggris untuk MU naik ke anak tangga posisi 5 klasemen.
Dengan sisa laga yang lebih banyak daripada Liverpool di peringkat 4 dan hitungan matematis selisih poin dengan The Reds yang masih sangat mungkin dikejar, MU dihadapkan pada dua pilihan jalan menuju kompetisi Liga Champions musim depan.
Kemana jalur MU menuju Liga Champions musim depan?
Lewat posisi 4 besar Liga Inggris atau lewat titel juara Europa League dimana anak asuh Mourinho sudah menginjakkan kaki di fase perempat final?
Setelah mustahil untuk mengejar Chelsea di puncak klasemen, target terbaik bagi Mourinho di musim perdananya memang menurun dari mengejar titel juara Liga Inggris menjadi lolos ke Liga Champions.
Soal titel juara toh sudah didapatkan kala Ibrahimovic dkk mengangkat trofi juara League Cup (lupakan trofi juara “amal” Community Shield di awal musim).
Lolos ke Liga Champions musim depan akan menjadi persembahan minimalis bagi pelatih sekaliber Jose Mourinho yang sudah dibekali pemain elit sekelas Paul Pogba dan Zlatan Ibrahimovic.
Meski tampak tidak sebanding dengan catatan pemecahan rekor transfer termahal di dunia kala mengembalikan Paul Pogba ke Old Trafford, tiket ke Liga Champions musim depan dapat menutupi kegundahan fans MU yang gagal melihat tim kesayangannya menjadi juara Liga Inggris.

Kembali pada pertanyaan awal, posisi 4 besar Liga Inggris ataukah titel juara Europa League yang sebaiknya menjadi fokus MU mengejar tiket Liga Champions?
Mourinho secara spesifik sudah menyebutkan pilihan jalur yang akan ditempuh.
“Memenangkan titel juara Europa League akan terasa manis. Kami akan mendapatkan tiket ke Liga Champions, sebuah trofi juara dan kesempatan bertanding di Piala Super Eropa” terang Mourinho.
Pilihan Mourinho tepat karena faktanya memang kejayaan di Europa League memberikan “bonus” lebih banyak ketimbang hanya sekedar meraih posisi 4 besar Liga Inggris.
Coba perhatikan jika MU minimal meraih posisi 4 di klasemen Liga Inggris di akhir musim.
MU akan melakoni Liga Champions dari babak kualifikasi yang artinya harus berlaga lebih awal sebelum kompetisi Liga Inggris resmi bergulir.
Kondisi ini akan memaksa Mourinho mempercepat durasi persiapan pramusim dan tentu akan memberikan pengaruh pada optimalisasi tim jelang musim baru Liga Inggris.
Posisi 4 besar Liga Inggris juga tidak memberikan trofi juara yang bisa dibanggakan.
Sudah begitu, meraih posisi 4 besar pun bukan hal yang mudah untuk dilakoni Ibrahimovic dkk.
Tim pesaing MU menuju 4 besar semuanya sudah tidak memiliki agenda kompetisi di Eropa.
Man City, Arsenal serta Tottenham Hotspurs sudah tersingkir dari Liga Champions dan Europa League yang memastikan ketiganya bersama Chelsea dan Liverpool dapat fokus ke Liga Inggris.
Kondisi lapang ini tidak didapati MU yang masih harus menjalani serangkaian laga di Liga Inggris dan Europa League.
Bahkan jika MU terus melaju sampai final Europa League Mei nanti, MU dipastikan akan menjalani jadwal padat sejak April sampai Mei 2017 alias double Boxing Day!!
Dikatakan double Boxing Day karena masa kompetisi padat Liga Inggris saja umumnya terjadi di akhir Desember sampai jelang akhir Januari saat Natal dan pergantian tahun alias hanya sekitar sebulan.
Dengan potensi MU terus bertarung sampai final Europa League maka Ibrahimovic dkk seperti melakoni Boxing Day selama 2 bulan beruntun!!
Benarlah jika Mourinho cenderung lebih mendahulukan kompetisi Europa League.
“Jika kami sudah menginjakkan kaki di fase perempat final maka kompetisi Europa League layak menjadi prioritas kami” demikian ujar Mourinho kala ditanyakan fokus MU antara Europa League atau Liga Inggris.
Pertanyaan diatas diajukan kala MU baru akan menjalani fase 16 besar Europa League.
Dengan MU sudah berada di perempat final tentu kemana fokus Mourinho dan anak asuhnya sudah terbaca.

Faktanya memang jalur Europa League terlihat lebih menjanjikan happy ending bagi semua fans MU.
Selain potensi mendapatkan trofi juara dan partisipasi di Piala Super Eropa, kelolosan ke Liga Champions musim depan lewat kompetisi kelas dua Eropa ini tampak lebih mudah dilakoni.
Usai gugurnya AS Roma, praktis hanya Lyon, Ajax dan Schalke saja tim tersisa yang menyimpan potensi menghadang ambisi MU meraih trofi juara.
Lupakan tim tanpa sejarah prestasi yang kuat di Eropa seperti Celta Vigo, Genk, Besiktas dan Anderlecht.
Keberuntungan bagi MU, Ajax dan Schalke dipertemukan pada fase perempat final sehingga salahsatunya dipastikan akan gugur.
MU tentu berharap Ajax lah yang akan tersingkir.
Selain memiliki nama besar sebagai klub raksasa Belanda yang pernah memenangkan Liga Champions, Ajax juga punya rekor head to head dengan MU yang  pantas dikuatirkan.
MU sudah 4 kali bertemu Ajax dengan hasil 2 kemenangan dan 2 kali kalah.
Pertemuan terakhir MU dengan Ajax pada tahun 2012 berakhir dengan kekalahan 1-2 MU.
Bandingkan dengan head to head MU melawan Schalke.
MU sudah 2 kali bertemu klub Jerman itu dan keduanya dimenangi MU dimana pada pertemuan terakhir tahun 2011, MU membantai Schalke 4-1.
Bagaimana dengan Anderlecht yang menjadi lawan MU di perempat final?
Dalam rekor 6 pertemuan dengan klub Belgia itu, MU memenangi 4 laga dan hanya kalah 2 kali.
Pertemuan terakhir MU dengan Anderlecht pada tahun 2000 berakhir dengan kekalahan 1-2 MU, nah lho.
Tenang saja, selain sudah berlalu hampir 17 tahun yang lalu dan komposisi pemain bintang MU yang membedakan kualitas kedua tim, MU memiliki seorang Ibrahimovic yang pernah mencetak 4 gol ke gawang Anderlecht kala PSG membantai mereka 5-0 tahun 2014.
Inilah memori terdekat yang bisa dijadikan modal psikologis bagi MU untuk melewati Anderlecht.

Satu pesaing tersisa yang berpotensi menghadang MU adalah Lyon.
Tidak ada catatan pertemuan resmi keduanya sehingga masih sulit meraba siapa yang memiliki peluang lebih besar meraih kemenangan jika keduanya bertemu nanti.
Namun jika merujuk pada kualitas skuad MU dan bagaimana Lyon saat ini berada di bawah level PSG dan AS Monaco, rasanya tidak berlebihan untuk menfavoritkan MU jika harus bersua wakil Ligue 1 Prancis itu.
Dengan potensi “bonus” yang lebih menggiurkan jika lolos Liga Champions musim depan lewat jalur juara Europa League dan kemungkinan jalan kesana lebih mudah, pilihan sikap Mourinho untuk fokus ke kompetisi kelas dua Eropa ini bisa sangat dimaklumi.
Toh, The Special One juga pernah merasakan juara bersama Porto Portugal di ajang ini.

Pas bukan?

About

Foto saya
Situs pengamatsepakbola.com adalah situs yang berisikan semua ulasan analisa saya, Rizki Maheng, Blogger Pengamat Bola. Situs yang pertama kali muncul pada Juni 2012 ini fokus pada ulasan dan analisa mengenai sepakbola BUKAN pada update berita. Inilah yang membedakan situs ini dengan situs berita sepakbola pada umumnya dan sesuai dengan tagline situs ini "Karena Sepakbola Lebih Dari Sekedar Berita". Sebagai Blogger Pengamat Bola, saya pernah beberapa kali tampil sebagai Analis Bola dalam Program Football Insight di Berita Satu TV. Beberapa ulasan saya menjadi Headline di Kompasiana dan juga pernah dimuat di Harian Top Skor. Saya juga pernah didaulat menjadi Penulis ulasan analisa pada website yang dibuat sponsor Persib Bandung. Bagi pihak yang ingin mengcopy paste tulisan pada Blog ini harap berkomunikasi dengan saya via email rizkimaheng@yahoo.com atau rizkimaheng@gmail.com. Komunikasi atau undangan juga bisa dilayangkan ke email tersebut. SALAM SEPAKBOLA