Sabtu, 07 Januari 2017

Prediksi 2017 - Chelsea Tidak Terkejar Menuju Tangga Juara

Sengit, ketat dan seru.
Inilah gambaran persaingan Liga Inggris musim ini.
Keberadaan sejumlah manager papan atas seperti Pep Guardiola, Antonio Conte, Jurgen Klopp, Jose Mourinho, Arsene Wenger dan tidak lupa memasukkan nama Mauricio Pochettino dalam satu liga domestik memang jadi jaminan ketatnya kompetisi.
Serunya lagi, sejumlah manager papan atas itu menakhodai tim-tim yang memang dihuni deretan skuad berkualitas juara sehingga persaingan antara Man City, Chelsea, Liverpool, MU, Arsenal dan Tottenham Hotspurs yang pada musim-musim sebelumnya sudah berlangsung ketat semakin meningkat level kompetitifnya.
Saking ketatnya, sulit memprediksi siapa yang akan mengangkat trofi juara Liga Inggris di akhir musim nanti.

Man City yang sempat menjalani 8 kemenangan beruntun di awal liga kini justru terdampar di peringkat 4 klasemen sementara sampai pekan ke 20.
Padahal dengan performa meyakinkan di awal musim, banyak yang menduga magis Pep bersama Barcelona yang begitu perkasa di La Liga Spanyol sudah menular pada skuad The Citizen.
Sebaliknya, Chelsea yang sempat merasakan 3 laga tanpa kemenangan pada pekan-pekan awal termasuk saat ditaklukkan rivalnya Liverpool dan Arsenal malah bangkit menjadi tim dengan rentetan kemenangan beruntun terpanjang musim ini saat 13 laga dilewati dengan kemenangan.
Meski kemudian takluk 0-2 dari Spurs dan gagal menyamai rekor 14 kemenangan beruntun Arsenal pada musim 2001/2002, Chelsea masih nyaman di puncak klasemen dengan keunggulan 5 poin dari Liverpool di posisi kedua.
Adapun Liverpool sendiri memang tidak menjalani rentetan kemenangan beruntun sepanjang Chelsea, namun anak asuh Klopp mampu terus menguntit Chelsea di posisi kedua berkat dua kali periode 4 kemenangan beruntun dari pekan ke 4 sampai pekan 7  dan dari pekan ke 16 sampai pekan 19.
Bagaimana dengan Arsenal?
Olivier Giroud dkk sempat merasakan 6 kemenangan beruntun dari pekan ke 2 sampai kompetisi memasuki pekan ke 8.
Dengan catatan impresif seperti itu, Arsenal justru berada di posisi kelima klasemen karena inkonsistensi performa kala ditahan imbang dalam dua laga beruntun melawan  MU dan Spurs serta takluk dua kali beruntun dari Everton dan Man City.
Bicara soal konsistensi, tim dari kota London yang lain, Tottenham Hotspurs  malah sedang menjalani periode 5 kemenangan beruntun termasuk saat menghentikan 13 kemenangan beruntun Chelsea.
Alasan Spurs masih tertahan di posisi 3 klasemen adalah karena kegagalan mereka meraih poin penuh saat ditahan imbang dalam 4 laga beruntun dari pekan 8 sampai pekan 11.
Serupa dengan Spurs, MU yang kini tengah menjalani periode 6 kemenangan beruntun masih tertahan di peringkat  6 klasemen gara-gara sempat merasakan dua kekalahan beruntun dari Man City dan Watford dan menjalani periode buruk 4 laga beruntun tanpa kemenangan.
Gambaran singkat diatas memperlihatkan bahwa setiap tim kandidat juara punya kemampuan menorehkan rentetan kemenangan beruntun yang menunjukkan bahwa setiap manager papan atas bersama tim mereka punya potensi untuk menjadi yang terbaik di akhir musim.
“Kejuaraan dunia bagi para manager” begitu Arsene Wenger mengilustrasikan ketatnya persaingan Liga Inggris musim ini.
Dengan persaingan sedemikian ketat seperti ini, siapa yang akan menjadi pemenang pada akhir musim?

Well, Liga Inggris musim ini adalah momen dimana beberapa manager papan atas bertemu dalam satu liga domestik.
Keberadaan manager-manager papan atas ini jadi kunci karena jika melihat dari sisi kualitas skuad yang dimiliki masing-masing manager, bisa dikatakan skuad yang ada sama-sama sarat kualitas dan punya potensi menjadi juara.
Ada Sergio Aguero dan Kevin De Bruyne di Man City sementara disaat bersamaan MU punya Paul Pogba dan Ibrahimovic.
Liverpool punya Firmino dan Coutinho sementara Chelsea memilki Diego Costa dan Eden Hazard.
Spurs?
Mereka punya Harry Kane dan Delle Ali seperti Arsenal memiliki Oezil dan Sanchez dalam skuad mereka.
Semuanya adalah nama-nama yang punya kualitas dan potensi membawa tim mereka menjadi juara.
Dengan kesamaan kualitas skuad ini maka peran manager sebagai peracik taktik menjadi sangat vital dalam menentukan keberhasilan tim meraih titel juara Liga Inggris di akhir musim nanti.
Bicara peran manager sebagai peracik taktik, nama Conte bersama Chelsea patut dikedepankan sebagai kandidat terkuat juara Liga Inggris musim ini.
Rentetan 13 kemenangan beruntun Chelsea adalah pertunjukan kemampuan Conte meracik strategi tim.
Usai kalah beruntun dari Liverpool dan Arsenal, Conte yang pada awal musim lebih sering menerapkan pola 4-2-3-1, 4-3-3 dan 4-1-4-1 melakukan perubahan besar dengan menerapkan pola 3-4-3.
Dengan pola tersebut Chelsea menemukan keseimbangan yang mereka cari dan menjadi tim yang sangat tangguh dalam bertahan sekaligus tajam saat menyerang.
Dalam periode 13 kemenangan beruntun, Chelsea menyarangkan 32 gol dan hanya kebobolan  7 gol.
Hebatnya lagi, lini pertahanan Chelsea mencatat 10 clean sheet. Wow!!
Kejeniusan Conte menemukan strategi yang tepat seperti mengulang kunci sukses saat mengantarkan Juventus meraih Scudetto Serie A Italia.
Saat pertama kali menukangi Juve, Conte menerapkan pola 4-4-2 yang kemudian berkembang ke pola 4-2-4 sampai ke varian lain seperti 4-3-1-2.
Melihat pola tersebut tidak berjalan dengan baik, Conte mengambil langkah revolusioner dengan menerapkan pola 3 pemain bertahan dalam formasi 3-5-2.
Dengan pola baru itu Si Nyonya Tua diantarkan oleh Conte merajai Liga Italia kembali.
Pola itu bahkan menjadi rujukan bagi Massimiliano Allegri yang tidak ingin gegabah mengganti formasi yang sudah terbukti lebih sesuai bagi skuad Juve.

Nah, keberhasilan menemukan pola terbaik ini yang gagal dilakukan manager lain.
Man City boleh saja digdaya pada 8 pekan awal tetapi ketika City mulai terseok-seok, Guardiola seperti belum menemukan obat yang pas.
Konyolnya, Pep sempat menjajal pola 3-4-3 saat meladeni Chelsea yang sedang ganas-ganasnya dengan pola itu.
Hasilnya? City dibantai 1-3 di kandang sendiri.
Lain lagi dengan Klopp dan Wenger.
Meski cukup kompetitif sejauh ini namun seringnya Liverpool dan Arsenal merasakan naik turun performa jadi indikasi bahwa strategi keduanya belum benar-benar tokcer.
Bayangkan saja bagaimana Liverpool ditahan imbang tim calon degradasi Sunderland setelah beberapa hari sebelumnya The Reds secara perkasanmenundukkan Man City.
Hal ini seperti mengulangi kejadian pekan pertama  saat Liverpool dengan gagah berani menundukkan Arsenal 4-3 di Emirates Stadium lalu dengan “konyolnya” takluk 0-2 pada pekan selanjutnya dari tim sekelas Burnley.
Arsenal pun demikian.
Ditahan imbang Middlesbrough di Emirates Stadium dan nyaris kalah saat melawat ke Bournemouth jadi sinyal bahwa The Gunners masih punya bakat inkonsistensi.
Soal konsistensi, jika melihat perfoma terkini maka Spurs dan MU adalah jagoannya.
Spurs tengah menjalani periode 5 kemenangan beruntun sedangkan catatan 6 kemenangan beruntun MU sejauh ini melengkapi performa Ibra dkk yang belum kalah dalam 11 laga.
Masalahnya, performa bagus ini baru muncul jelang paruh musim pertama berakhir sementara Chelsea sudah kadung berlari jauh didepan dengan rentetan 13 kemenangan beruntun.
MU di posisi 6 saat ini berjarak 10 poin dari puncak klasemen sedangkan Spurs di posisi 3 berselisih 7 poin dari Chelsea di posisi pertama.
Artinya MU butuh 3 kali menang dan 1 imbang serta Spurs butuh 2 kali menang dan 1 imbang untuk sekedar menyamai poin Chelsea di puncak klasemen.
Tentu dalam periode itu Chelsea pun punya potensi untuk terus mendulang poin dan membuat The Blues semakin sulit dikejar.
Jika diibaratkan perlombaan Moto GP, Chelsea berhasil melewati lap-lap awal dengan baik dan melaju di posisi pertama.
Adapun pebalap lain boleh jadi telah menemukan kesesuaian dengan motor yang ditungganginya namun sudah sulit untuk mengejar pebalap yang ada di depannya.
Paling banter tim-tim di belakang Chelsea hanya akan membayangi di belakang tanpa pernah bisa menyalip KECUALI jika Chelsea terpeleset dan jatuh menjelang lap terakhir.
Namun melihat bagaimana seorang Conte telah menemukan pola 3-4-3 yang paling sesuai untuk skuad Chelsea, rasanya sulit untuk mengejar dan menahan Chelsea mengangkat trofi juara di akhir musim. nanti.


Senin, 02 Januari 2017

Prediksi 2017 - Jangan Bosan Melihat Juventus Scudetto Lagi

Jika anda seorang penggemar netral F1 dan melihat betapa dominannya sang legenda Michael Schumacher dengan menjuarai F1 selama 5 musim beruntun sejak tahun 2000 sampai 2004, maka anda pasti berbahagia dengan kemunculan kompetitor seperti Fernando Alonso, Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel yang membuat daftar juara F1 tidak melulu diisi nama Schumi.
Atau jika anda juga penggemar netral balap motor 500cc atau Moto GP, maka kemunculan Jorge Lorenzo dan Marc Marquez pasti sangat disyukuri karena mencegah The Doctor Valentino Rossi terus merajai ajang balap motor bergengsi itu tanpa henti sejak 2001 sampai 2005.
Dalam olahraga sepakbola, Borussia Dortmund dan Juergen Klopp rasanya pantas disanjung karena mampu menghentikan dominasi Bayer Muenchen di Bundesliga.
Pun dengan keberhasilan Atletico menjuarai La Liga musim 2013/2014 yang menghentikan hegemoni duo Barcelona dan Real Madrid (meski kini tampaknya hegemoni itu kembali lagi).
Dalam kompetisi olahraga, dominasi juara sampai bertahun-tahun boleh jadi merupakan kebanggaan bagi fans sang juara tetapi menjadi sebuah pemandangan membosankan bagi penggemar netral bahkan bisa jadi bagi fans yang memang mendukung tim lain.
Pernah dengar istilah “asal bukan MU?”
Ya, hebatnya MU asuhan Sir Alex Ferguson yang mendominasi Liga Inggris sampai-sampai memunculkan istilah itu.
Siapa saja boleh juara asalkan jangan MU lagi.
Istilah ini tampaknya juga sudah merasuki pencinta Serie A Italia jika melihat hegemoni Juventus yang sudah 5 musim berturut-turut memenangi titel Scudetto.
Sejak bersama Antonio Conte (3 Scudetto) dan beralih ke Massimiliano Allegri (2 Scudetto), belum ada klub yang mampu menghentikan dominasi Si Nyonya Tua.
Mulai dari Napoli, AS Roma, Fiorentina, AC Milan dan Inter Milan tidak mampu menahan laju dominasi Juventus di Serie A.
Berita buruknya, dominasi itu tampaknya masih akan terus berlanjut.

Pemandangan Serie A Italia saat ini seperti mengulang episode yang sudah-sudah.
Juventus dikejar dan dipepet oleh tim rival namun pada akhirnya Si Nyonya Tua lah yang tetap melaju sampai garis finis Scudetto dan mengangkat trofi juara.
Meski kali ini Juve tidak hanya dikejar dua klub seperti biasanya tetapi oleh Roma, Napoli, Lazio dan Milan sekaligus, anak asuh Allegri tetap dapat melenggang sebagai pemuncak klasemen sampai akhir tahun 2016.
Juventus kini memiliki keunggulan 4 poin dari rival terdekat AS Roma di peringkat dua.
Parahnya, Juve bahkan masih menyimpan satu laga sisa lebih banyak yang artinya Juve bisa saja unggul 7 poin jika memenangi satu laga sisa tersebut.
Alamak, susah nian menahan laju Juventus ini!
Si Nyonya Tua memang tidak berpuas diri dengan raihan 5 scudetto beruntun yang sudah mereka capai.
Kedatangan Miralem Pjanic, Dani Alves, Medhi Benatia dan Gonzalo Higuain memperlihatkan ambisi Juventus untuk terus merajai Italia.
Lini pertahanan tangguh yang jadi salahsatu kekuatan Juventus dengan trio BBC nya masih unjuk gigi dengan menjadikan Juve saat ini sebagai tim dengan jumlah kebobolan terendah sampai 17 laga (Juve baru kebobolan 14 gol).
Di lini tengah, kepergian Pogba tidak sampai diratapi berkat kehadiran Pjanic.
Apalagi di lini depan.
Masuknya bomber sekelas Gonzalo Higuain mampu menggetarkan barisan pertahanan lawan.
Sang bomber sudah mencetak 10 gol bagi klub barunya.
“Di atas kertas Juventus musim ini adalah tim yang sangat kuat dan punya kesempatan juara lebih besar ketimbang musim sebelumnya”  kata Gianluigi Buffon.

Indikasi Juventus bakal terus melaju menjuarai Serie A Italia musim ini semakin terkonfirmasi dengan hasil-hasil laga pertama Juve kala beradu dengan rival-rival pemburu Scudetto.
Melawan AS Roma, Napoli dan Lazio, Juventus meraih kemenangan.
Satu-satunya kekalahan dari rival dialami kala Juve ditaklukkan Milan 0-1 dalam sebuah laga yang menurut Allegri seharusnya dimenangkan Higuain dkk.
Meski demikian secara keseluruhan Juventus memang lebih baik daripada rival-rival pemburu Scudetto.
Bersama Napoli, Juve baru merasakan 3 kekalahan dan ini adalah jumlah kekalahan paling minim dari seluruh penghuni 5 besar klasemen.
Bedanya Napoli sudah merasakan 5 hasil seri alias 5 kali gagal memetik poin penuh.
AS Roma, Lazio dan Milan yang telah menelan 4 kekalahan sudah merasakan kegagalan memetik poin penuh akibat ditahan imbang sebanyak 2 kali (AS Roma), 4 kali (Lazio) dan 3 kali (Milan).
Artinya Juventus yang tidak pernah ditahan imbang lawan-lawannya sangat konsisten meraih poin demi poin.
Konsistensi seperti ini yang sejak dulu selalu tidak dapat ditiru oleh lawan-lawan Juve yang kerap kehabisan bensin kala mengimbangi laju kencang Si Nyonya Tua.
Meski sudah kalah 3 kali, Juventus juga tidak pernah kehilangan poin dalam dua laga beruntun dan selalu berhasil bangkit dari kekalahan dengan meraih kemenangan.
Saat takluk pertama kali musim ini dari Inter, Juve bangkit dengan memenangi 4 laga beruntun sesudahnya.
Usai kalah dari Milan, Juve kembali bangkit dan meraih 3 poin penuh dari 4 laga berikutnya, termasuk didalamnya dengan menaklukkan Napoli.
Terakhir, setelah “terpeleset” kalah di kandang Genoa, seperti biasa Juve dapat bangkit dengan memenangi 3 laga beruntun sesudahnya dimana 2 laga yang dimenangi berstatus big match melawan AS Roma dan Torino dalam derby Turin.
Lewat kinerja yang terjaga seperti ini, jangan bosan melihat Juventus kembali meraih titel Scudetto untuk yang keenam kali secara beruntun.


Minggu, 01 Januari 2017

Prediksi 2017 - Real Madrid Paling Siap Menjadi Juara La Liga


Florentino Perez, Presiden Real Madrid mungkin kini menjadi orang yang paling bahagia setelah mendapati keputusannya memberhentikan Rafa Benitez pada awal 2016 dan “mengambil resiko” mempekerjakan Zinedine Zidane sebagai arsitek El Real ternyata berbuah manis.
Zinedine Zidane yang notabene tidak punya pengalaman menangani tim senior utama dan hanya berbekal CV sebagai asisten Carlo Ancelotti menjelma menjadi salahsatu pelatih terbaik yang pernah dimiliki Real Madrid.
Zidane membawa Real Madrid memenangi trofi Liga Champions ke 11, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antar Klub.
Ya, tiga trofi juara dalam perjalanan satu tahun 2016 mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Madridistas jika melihat rekam jejak Zidane yang benar-benar masih nihil pengalaman menangani tim utama di kompetisi seketat La Liga Spanyol.
“Luar biasa, ini baru tahun pertamanya dan apa yang dilakukan Zidane luar biasa” puji Sergio Canales eks pemain Madrid.
Serunya, Madridistas tampaknya masih akan terus melihat Sergio Ramos dkk mengangkat trofi juara seturut performa CR7 dkk yang terus mengkilap di tangan Zizou.
Real Madrid asuhan Zidane menunjukkan diri sebagai tim yang paling siap menjadi juara La Liga musim ini.

Real Madrid belum tersentuh kekalahan dalam 37 laga beruntun sampai tahun berganti, termasuk dengan 15 laga di La Liga Spanyol dimana anak asuh Zidane memenangkan 11 laga dan imbang 4 kali.
Hebatnya, performa luar biasa ini diraih dengan  El Real mulus melewati berbagai situasi yang terjadi dalam tim.
Dimulai dari absennya mega bintang mereka CR7 pada laga-laga awal musim akibat bawaan cedera final Piala Eropa 2016.
Tanpa CR7, Real Madrid masih sanggup menunjukkan tajinya dengan menjuarai Piala Super Eropa.
Pun meski CR7 sudah kembali turun berlaga dan sempat menjalani masa-masa paceklik gol, Real Madrid tetap mampu bersaing di papan atas klasemen dan kini malah bertengger di posisi puncak.
Pemain-pemain lain seperti Gareth Bale, Marco Asensio, Karim Benzema dan si anak hilang yang kembali, Alvaro Morata mampu menjaga level kompetitif El Real.
Berita baiknya, CR7 seperti biasa selalu mampu kembali menemukan ketajamannya dan kini sudah mengemas 10 gol untuk kembali ke habitatnya sebagai mesin gol utama El Real sekaligus wakil tim ibukota itu dalam daftar pemburu gelar top skor.
Tidak hanya berbicara absennya CR7, performa bagus Madrid bahkan tidak terganggu meski beberapa pemain kunci seperti Luka Modric, Casemiro, Sergio Ramos, Keylor Navas dan Gareth Bale bergantian hilang dari daftar skuad yang berlaga.
Hal ini menunjukkan bagaimana kualitas dan kedalaman skuad Real Madrid era Zidane sangat mengagumkan.
Tidak heran jika Madrid cenderung pasif dalam bursa transfer dengan hanya melakukan sebuah transfer besar memulangkan Alvaro Morata.
Skuad Zidane saat ini yang telah memenangkan trofi Liga Champions tampaknya lebih dari cukup untuk membawa kembali El Real sebagai tim terbaik di La Liga musim ini.
Bahkan jika menilik catatan bahwa tim ini hanya merasakan dua kekalahan saja sepanjang tahun 2016 atau sejak ditangani Zidane maka bisa dipastikan ini adalah salahsatu tim terbaik Real Madrid sepanjang masa karena dalam sejarah 114 tahun klub, baru kali ini El Real memiliki tim dengan catatan kekalahan paling minim tersebut.

Kesiapan Real Madrid menjuarai La Liga musim ini semakin dikonfirmasi dengan catatan pertemuan pertama El Real musim ini melawan dua seteru utamanya, Barcelona dan Atletico Madrid.
Melawat ke kandang dua rivalnya itu, El Real kembali tanpa kekalahan dengan rincian satu kemenangan dan satu hasil seri “bernilai kemenangan”.
Ya, hasil imbang di kandang Barca diraih usai Sergio Ramos mencetak gol di menit-menit akhir sekaligus jadi pertunjukan mental juara anak asuh Zidane.
Mental juara juga dipertontonkan CR7 dkk saat membantai 3-0 Atletico di kandang lawan, sesuatu yang jarang-jarang terjadi dalam beberapa musim terakhir.
Real Madrid hari ini tidak hanya berstatus sebagai satu-satunya tim yang belum terkalahkan di La Liga tetapi juga mencatatkan diri sebagai tim tertajam kedua setelah Barcelona dengan 40 gol (Barcelona sudah mencetak 41 gol).
Di sisi pertahanan, Real Madrid adalah tim kedua bersama Atletico Madrid dengan pertahanan paling kokoh setelah Villareal dengan baru kemasukan 14 gol (Villareal baru kemasukan 11 gol).
Keseimbangan lini penyerangan yang tajam dan lini pertahanan yang tangguh tampaknya menjadi bekal statistic bagus bagi Real Madrid.
Apalagi jika melihat performa rival Madrid selama ini yang tidak meyakinkan.
Atletico Madrid “turun level” jadi tim sekelas Sevilla dan Villarreal musim ini.
Anak asuh Diego Simeone sudah menelan 4 kekalahan dan menempati  posisi 6 klasemen di bawah Sevilla, Villarreal dan Real Sociedad.
Lupakan nama Sevilla, Villarreal dan Sociedad dari daftar pemburu gelar La Liga.
Seperti biasa, mereka hanya akan bertarung untuk mengejar posisi lolos ke Liga Champions.
Barcelona yang jadi kompetitor utama Madrid sedang menjalani grafik permainan naik turun.
Bagaimana tim sekelas Barca ditahan imbang Malaga di kandang serta secara mengejutkan Alaves mampu menaklukkan Barca di Camp Nou adalah gambaran inkonsistensi performa Messi dkk.
Barcelona mungkin tetap menjadi tim yang paling berpotensi bersaing bersama Madrid menuju tangga juara tetapi Madrid sedang berada dalam performa terbaik mereka dan Barcelona musim ini jelas tidak sesuperior Barcelona di musim pertama Enrique yang memenangkan treble winners.
Berbekal keunggulan 3 poin di puncak klasemen dan tabungan satu laga lebih banyak serta hasil bagus head to head dengan para rival di pertemuan pertama adalah sebuah konfirmasi bahwa Real Madrid paling siap menjadi juara La Liga musim 2016/2017.



Sabtu, 17 Desember 2016

Ulas Taktik - Strategi Bertinju Ala Kiatisuk Yang Membuat KO Timnas

Bagi anda yang pernah merasakan ditolak berkali-kali kala menyatakan cinta kepada orang yang anda sukai, mungkin anda bisa menerima penolakan kelima dengan lapang dada karena sudah terbiasa dengan empat penolakan sebelumnya.
Tetapi jika pada kesempatan kelima dimana anda mendapati peluang yang sangat besar untuk mendapatkan cinta orang yang anda sayangi lalu ternyata masih ditolak juga maka kegetiran adalah rasa yang masuk menyesakkan dada.
Ya, kekalahan kelima Indonesia di partai puncak AFF Cup 2016 atau yang ketiga dari Thailand meninggalkan kegetiran yang menyesakkan dada.
Boaz Salossa dkk memang sudah menjawab ekspektasi masyarakat ketika mereka berhasil lolos dari lubang jarum untuk berlaga di fase semifinal.
Anak asuh Alfred Riedl bahkan memberikan sesuatu yang tidak pernah diimpikan masyarakat Indonesia terhadap peluang tim ini di AFF Cup 2016 yaitu lolos ke final.
Harapan semakin membesar dan menggila karena pada leg pertama final timnas Garuda mampu menekuk 2-1 Thailand, lawan yang sangat tangguh, tim terkuat Asia Tenggara saat ini.
Didorong sejumlah catatan yang membangkitkan moral seperti keberhasilan tim-tim seperti Leicester City dan Portugal di tahun 2016 serta tren juara Piala AFF sejak 2004 yang selalu memunculkan nama pemenang leg pertama sebagai juara, timnas Merah Putih berangkat memasuki leg kedua di Thailand dengan optimisme yang membumbung tinggi.
Dan ketika optimisme itu sudah membumbung sangat tinggi maka seketika itu pula jatuh terhempas kembali ke tanah.
Semakin tinggi harapan maka semakin sakit jika harapan itu gagal terwujud.
Sakitnya tuh disini.
Indonesia tidak mampu mempertahankan keunggulan satu gol dari Leg pertama dan takluk 0-2 dari Thailand.
Mengapa Boaz Salossa dkk takluk dari sang juara bertahan?

Kiatisuk Senamuang menjadi actor kunci yang menyusun strategi Thailand untuk membongkar pertahanan Indonesia.
“Kami tahu apa yang harus kami lakukan di leg kedua” ujar Kiatisuk usai timnya takluk 1-2 di Leg pertama.
Benar saja, Kiatisuk membuktikan ucapan bahwa dirinya paham apa yang harus dilakukan di leg kedua.
Sadar bahwa Indonesia tidak dapat menurunkan Andik Vermansyah, Kiatisuk menyusun strategi ala petinju.
Jika anda sering memperhatikan pertandingan tinju, anda tentu paham bagaimana seorang petinju akan selalu mengincar titik terlemah lawannya.
Ketika sang lawan terluka di pelipis mata kanan maka secara otomatis petinju yang jadi lawannya akan menforsir serangan pada sisi kanan tubuh lawan dengan alasan sisi tubuh tersebut menjadi sisi terlemah akibat luka pada pelipis mata kanan.
Serangan bertubi-tubi pada sisi lemah itu lambat laun akan menjatuhkan lawan.
Dalam kasus ini, Kiatisuk memandang Indonesia terluka pada sisi kanan mereka usai Andik Vermansyah dipastikan tidak dapat merumput.
Pandangan ini tampaknya diperoleh Kiatisuk saat melihat dampak kehilangan Andik bagi tim Merah Putih di leg pertama.
Zulham yang turun menggantikan Andik tidak mampu mempertahankan agresivitas dan kecepatan sayap yang jadi kekuatan Indonesia.
Penampilan kikuk Zulham juga membuat Benny Wahyudi yang berada di belakangnya tidak mampu berkolaborasi dengan baik dan hal ini membuka lubang di sisi kanan pertahanan Indonesia.
Gol Thailand di leg pertama lahir lewat umpan lambung dari sisi kanan usai Andik keluar karena cedera.
Riedl membacanya sehingga mendorong Manahati ke posisi tersebut dan menarik keluar Benny di babak kedua.
Lubang di sisi tersebut perlahan-lahan berhasil ditutupi karena Manahati memang sudah teruji mampu mengimbangi skema serangan yang cepat seperti saat Indonesia meladeni Vietnam.
Performa Zulham yang sedikit membaik di babak kedua juga menolong.
Nah, kondisi ini yang tidak terjadi di leg kedua.

Turun dengan formasi 4-2-3-1, Riedl mempercayakan sisi kanan Garuda kepada Benny dan Zulham.
Benar saja, Kiatisuk menginstruksikan Teerasil Dangda dkk untuk menfokuskan serangan pada sisi kanan pertahanan tim Merah Putih.
Sejak awal laga sampai gol kedua tercipta, bisa dikatakan lebih dari 50% serangan Thailand berada di sisi kanan pertahanan Indonesia.
Benny dan Zulham yang berada di posisi tersebut hanya mampu mengimbangi derasnya serangan Thailand di sisi tersebut sampai 25 menit pertama.
Setelahnya duet Benny dan Zulham tampak kepayahan menjaga sisi tersebut.
Zulham tidak lagi mampu konsisten melakukan pressing dan Benny sendiri sampai harus melakukan pelanggaran yang berbuah kartu kuning untuk menghadang derasnya serangan di sisi tersebut.
Skema gol pertama adalah puncak dari kepayahan tersebut.
Lewat sebuah serangan di sisi kanan pertahanan Indonesia, Zulham tertinggal beberapa langkah di belakang dan tidak kuasa mengejar untuk memberikan pressing pada pemain Thailand.
Alhasil, umpan lambung berhasil dilepaskan dari sisi tersebut dan berbuah gol pertama Thailand.
Pilihan Kiatisuk untuk menforsir serangan pada sisi kanan pertahanan Indonesia tampaknya juga didasari analisa bahwa sisi kiri Indonesia yang dihuni Abduh Lestaluhu dan Rizky Pora lebih menakutkan daripada sisi seberangnya.
Kombinasi Abduh dan Rizky memang lebih energik dan impresif dari duet Benny dan Andik di seberang, apalagi ketika Andik dipastikan tidak berada disana.
Menyerang sisi kiri sama saja membangunkan macan tidur dalam pikiran Kiatisuk.
Sekali serangan di sisi tersebut gagal, Indonesia bisa dengan cepat bertransformasi dari posisi bertahan ke situasi menyerang lewat kecepatan Abduh dan Rizky.
Resiko ini yang tidak akan diperoleh jika Thailand menyerang 7 hari 7 malam di sisi yang dikawal Benny dan Zulham.
Duet Benny dan Zulham tidak akan memberikan ancaman berarti jika serangan Thailand kandas di sisi tersebut.

Ketinggalan satu gol akibat serangan di sisi kanan disadari Riedl dan direspon dengan menarik Benny untuk memasukkan Dedi Kusnandar, seorang gelandang bertahan.
Masuknya gelandang bertahan baru membuat Manahati bergeser mengisi posisi Benny sedangkan Dedi mengisi posisi Manahati berduet dengan Bayu Pradana.
Sayangnya, belum sempat tune in dengan situasi permainan, Indonesia kebobolan lagi hanya 2 menit setelah kick off babak kedua.
Kali ini gol yang tercipta ibarat dua pukulan beruntun yang menjatuhkan petinju ke atas kanvas.
Pukulan pertama karena serangan yang mengawali gol tersebut kembali datang dari sisi kanan pertahanan Indonesia.
Pukulan kedua karena masuknya umpan dari sisi kanan ke dalam kotak penalty dibumbui pemandangan bagaimana umpan tersebut dilepaskan lewat kolong kaki Dedi Kusnandar alias dikolongin.
Adakah cara yang lebih buruk untuk kegagalan menahan sebuah umpan kunci yang berbuah gol?
Lepas dari gol kedua, permainan Indonesia membaik namun memang sudah terlambat.
Thailand sudah nyaman dengan keunggulan 2 gol sementara Boaz dkk tampak kesulitan menemukan permainan comeback seperti yang mereka tunjukkan di leg pertama.
Ibarat petinju yang luka pelipis mata kanannya terus dieksploitasi lawan, dua kali terpukul jatuh akibat pukulan dari sisi yang sama cukup menjatuhkan mental.
Boaz dkk memang perlahan-lahan kembali mengimbangi Thailand tetapi itu tidak cukup lagi karena Indonesia butuh untuk melebihi keunggulan teknis sang juara bertahan, bukan sekedar mengimbangi.
“Thailand membuktikan mereka adalah tim terkuat di Asia Tenggara” Riedl mengakui keunggulan teknis lawannya itu.
Ya, Indonesia kalah dari tim terbaik di Asia Tenggara saat ini.
Indonesia kembali gagal menjuarai AFF Cup meski sudah berada di partai final sebanyak lima kali.
Rasa sedih dan kecewa pasti menyelimuti perasaan semua masyarakat pencinta sepakbola nasional tetapi rasa bangga bisa dipastikan lebih besar dari itu semua karena Boaz Salossa dkk sudah membuat kejutan dan memberikan harapan indah yang bahkan tidak sempat terlintas dalam pikiran kita semua dengan lolos ke final.
Oh ya, buat anda yang memang pernah ditolak sampai 5 kali oleh orang yang anda sayangi, jangan menyerah untuk terus berharap dan berusaha karena siapa tahu dia akan luluh dengan usaha keras anda.
Seperti jutaan supporter timnas yang terus berharap dan berusaha bahwa satu saat nanti tim Merah Putih mengangkat trofi juara AFF Cup dan memastikan status sebagai yang terbaik di kawasan Asia Tenggara.


Kamis, 15 Desember 2016

Misteri 2 Gol Tiap Laga, Fenomena Portugal dan Leicester Tahun 2016 Serta Tren Juara AFF Sejak 2004

Kata-kata adalah doa.
Jika Kiatisuk Senamuang pernah membaca atau mendengar ungkapan diatas, mungkin pelatih Thailand tersebut tidak asal menyebut kemungkinan Thailand bertemu kembali dengan Indonesia di final AFF Cup 2016.
Ya, usai tim Merah Putih lolos dari fase penyisihan grup berkat kemenangan dramatis 2-1 atas Singapura, Kiatisuk mengucapkan selamat sekaligus memprediksi laju tim Merah Putih ke partai puncak.
“Selamat untuk Indonesia (lolos ke semifinal), mungkin kita akan bertemu kembali di final” ujar Kiatisuk saat itu.
Bagi Kiatisuk, Indonesia tidak pernah menjadi lawan yang mudah.
Penampilan hebat Boaz Salossa dkk yang sempat menyamakan kedudukan menjadi 2-2- usai tertinggal 2 gol saat Thailand meladeni Indonesia di laga perdana fase penyisihan grup membuka mata Kiatisuk bahwa anak asuh Alfred Riedl adalah tim tangguh.
Faktanya memang hanya tim Garuda yang mampu membobol gawang Thailand sepanjang turnamen AFF Cup 2016 berlangsung.
Fakta diatas semakin menjadi-jadi usai leg 1 Final AFF Cup 2016 yang berlangsung di Stadion Pakansari Cibinong Bogor pada Rabu 14 Desember 2016.
Tim Garuda kini menjelma bukan hanya sekedar tim yang sanggup membobol gawang Thailand tetapi menjadi satu-satunya tim yang mampu mengalahkan juara bertahan AFF Cup itu.
Kemenangan 2-1 timnas Indonesia atas Thailand bahkan semakin mendekatkan tim Merah Putih pada gelar juara perdana di turnamen sepakbola terbesar se Asia Tenggara itu.

Bukan sesuatu yang berlebihan jika mengatakan Boaz Salossa dkk kini hanya selangkah lagi menunggu tangga juara.
Kondisi yang bahkan tidak pernah terjadi dalam mimpi terliar supporter timnas sekalipun.
Bagaimana tidak, tim ini hanya dipersiapkan kurang dari setahun dengan sejumlah latar belakang permasalahan yang ada.
Tim ini dibentuk saat Indonesia baru saja lepas dari sanksi FIFA yang meniadakan kompetisi resmi sebagai ajang penggemblengan pemain.
Gelaran kompetisi yang ada hanya bersifat turnamen dan liga tanpa degradasi sehingga tentu tidak bisa dibandingkan dengan sebuah gelaran liga yang kompetitif.
Tidak cukup sampai disana, proses pembentukan tim pun tidak luput dari masalah.
Gelaran AFF Cup 2016 yang berlangsung di tengah kompetisi ISC membuat pemilik-pemilik klub membatasi maksimal 2 jumlah pemain yang boleh ditarik ke timnas.
Saya masih tidak habis pikir dengan logika dan nasionalisme klub ketika menomorduakan kepentingan bangsa negara yang diwakili pada timnas AFF Cup 2016
Jadilah Alfred Riedl dipaksa memaksimalkan stock pemain yang ada.
Kondisi yang berbuah berkah karena talenta-talenta baru di timnas bermunculan dan menjadi pahlawan-pahlawan sepakbola baru di mata masyarakat.
Kita mungkin tidak akan terlalu mengenal sosok Rizky Pora, Fachrudin, Abduh Lestaluhu, Lerby Leandry sampai Bayu Pradana jika tidak ada kendala dalam pembentukan timnas.
Nama-nama diatas menjadi bagian penting dalam perjalanan timnas Garuda di gelaran AFF Cup 2016 yang hanya selangkah lagi merengkuh trofi juara.
Ya, hanya selangkah lagi.
Langkah Boaz Salossa dkk yang sudah kian dekat dengan trofi juara mengkonfirmasi beberapa catatan yang mendukung Indonesia menjadi negara sepakbola terbaik di Asia Tenggara tahun ini.
Meski berangkat ke AFF Cup 2016 dengan sejumlah keterbatasan dan berada di grup yang terbilang berat bersama Thailand, Filipina dan Singapura, timnas Indonesia mematahkan semua prediksi dengan terus melaju bersama sejumlah catatan yang mengabaikan segala perhitungan teknis.

Indonesia boleh saja berangkat ke turnamen dengan berita buruk kehilangan Irfan Bachdim, striker utama timnas bersama Boaz Salossa namun faktanya timnas Garuda terus konsisten mencetak 2 gol setiap laga.
Ada apa dengan 2 gol tiap laga ini?
Sungguh unik mendapati tim Merah Putih terus konsisten mencetak 2 gol tiap laga dan seakan-akan catatan ini menjadi jimat bagi laju Boaz Salossa dkk ke tangga juara.
Konsisten mencetak 2 gol tiap laga menunjukkan bahwa tidak ada masalah di lini depan timnas meski kehilangan Irfan Bachdim.
Dua gol tiap laga juga mengkonfirmasi bahwa Indonesia mempunyai mental juara.
Perhatikan saat Indonesia mencetak 2 gol penyama kedudukan saat tertinggal 2 gol dari Thailand di laga perdana.
Lalu lihat juga 2 gol comeback yang meloloskan Indonesia ke semifinal usai menang 2-1 atas Singapura (Indonesia saat itu sempat tertinggal 0-1)
Dua gol juga mampu dicetak timnas Indonesia meski bermain di bawah tekanan hebat Vietnam pada laga leg kedua semifinal di Hanoi.
Terakhir adalah 2 gol comeback dramatis yang ditunjukkan timnas Garuda saat mengalahkan Thailand 2-1 pada leg pertama final AFF Cup 2016.
Kekuatan mental yang ditunjukkan dari setiap 2 gol tersebut jadi modal berharga Boaz Salossa dkk menuju trofi juara.
Di luar itu, tahun 2016 sepertinya menjadi tahun bagi tim underdog untuk menciptakan kisah pencapaian fenomenal.
Kita tentu masih ingat bagaimana Leicester City menggemparkan dunia sepakbola usai meraih titel juara Liga Inggris, kompetisi sepakbola domestic yang konon paling populer dan paling ketat di dunia.
Berbekal pemain “murah meriah” dan ditangani manager “spesialis runner up” dalam diri Claudio Ranieri, The Foxes sukses mengangkangi tim-tim elit sekelas Chelsea, Liverpool, Arsenal, MU dan Man City.
Fenomena keberhasilan underdog yang berlanjut lagi di gelaran Piala Eropa 2016.
Kala banyak prediksi juara mengarah pada Spanyol, Inggris, Italia, Jerman dan tuan rumah Prancis, Portugal menyodok sebagai tim yang mengangkat trofi juara.
Perjalanan Portugal menuju tangga juara juga tidak mulus.
Hanya berbekal 3 hasil seri di penyisihan grup, CR7 dkk melaju dengan hasil seadanya namun cukup mengantar mereka ke partai puncak Piala Eropa 2016.
Bagaimana tidak, hanya pada fase semifinal saja Portugal berhasil menang dalam laga 90 menit dimana laga lain mesti dilalui dengan kemenangan yang kata banyak orang tidak meyakinkan.
Magis tahun underdog benar-benar jadi kenyataan bagi Portugal di partai final Piala Eropa 2016.
Kehilangan CR7, mega bintang sekaligus kapten mereka di babak pertama tidak menghilangkan magis tahun 2016 bagi Portugal.
Lewat sebuah sepakan jarak jauh di babak extra time dari Eder, pemain pengganti yang tidak bersinar di klubnya, Portugal merengkuh trofi juara Piala Eropa 2016.
Dua pencapaian fenomenal dari dua tim yang tidak diunggulkan menjadi juara terjadi di tahun 2016.
Adakah ini adalah magis tahun 2016 yang akan menjadi factor X bagi timnas Indonesia untuk mengangkat trofi juara AFF Cup 2016 usai selalu gagal di empat final sebelumnya?
Faktanya, Indonesia berhasil mengalahkan Thailand, juara bertahan AFF Cup sekaligus tim terkuat di Asia Tenggara saat ini pada leg pertama final AFF Cup 2016.
Sejarah mencatat sejak AFF Cup menggunakan format final home away di tahun 2004, tim yang menang di leg pertama selalu berhasil keluar menjadi juara!!
Hmmm….(tersenyum membayangkan Boaz Salossa mengangkat trofi juara AFF Cup 2016)